Kondisi yang seperti ini dapat memunculkan sikap fanatik terhadap teks. Karena menganggap bahwa semuanya yang tertulis dalam teks merupakan sebuah kebenaran. Padahal teks selalu berkelindan dengan budaya, lingkungan, kondisi sosial-politik sang penulisnya. Selain karena dapat berakibat mudah menyalahkan orang, hal ini jika dibiarkan terus menerus akan menyebabkan stagnasi produksi keilmuan. Karena diskursus yang ada hanya membahas pengetahuan pada masa lampau tanpa memperhatikan konteks zaman.
Al-Jabiri menawarkan sebuah solusi berupa sikap mengembangkan akal burhani. Yakni nalar rasional yang berakar pada logika, argumentasi, dan bukti empiris. Apabila dalam epistemologi bayani pemikiran lahir dari sebuah teks, burhani justru memunculkan makna terlebih dahulu daripada kata-kata. Oleh sebab itu, maksud epistemologi burhani adalah untuk mengukur kebenaran sesuatu dengan komponen berupa akal.

Dalam konteks pesantren, pendekatan ini dapat diterjemahkan sebagai upaya integrasi antara turats (warisan intelektual klasik) dengan pengetahuan kontemporer dan metode ilmiah. Adanya integrasi antara kedua epistemologi ini diharapkan dapat menjembatani antara warisan intelektual klasik dengan perkembangan zaman.
Kesimpulannya, Al-Jabiri tidak mengajak untuk menafikan turats atau warisan klasik. Melainkan menekankan pentingnya menyeleksi dan membaca ulang turats dengan pendekatan kritis. Ia memperkenalkan istilah al-qira’ah al-ma’quliyyah li al-turats (pembacaan rasional terhadap tradisi).
