Kucing Sang Koruptor

Dengan takaran makan yang terus kukurangi, tubuh kucing hitam itu perlahan menyusut, bulu-bulunya rontok sekadar menyisakan sedikit tumpukan tipis yang membuatnya tak lagi indah. Dengkulan tulangnya pun mulai tampak mendorong kulit hingga di beberapa bagian kucing itu terlihat ada benjolan-benjolan. Energinya juga berkurang, terbukti ia kini hanya bisa tiduran di lantai sambil menguap berkali-kali. Yang bisa ia lakukan hanya menggerakkan ekor seperlunya, menatap nelangsa dengan kedua mata yang nampak beku, kadang ia mengeong dengan suara yang serak dan dalam.

Sebenarnya aku tak tega melihat kucing paman jadi seperti itu, tapi hanya itu satu-satunya cara yang bisa kulakuan untuk bisa menyadarkan paman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Sebentar lagi, ketika paman sudah sadar, aku akan membalas segala deritamu dengan makanan yang enak dan banyak. Percayalah, aku tak akan membuatmu lebih menderita lagi,” bisikku padanya saat rebah di karung bekas. Binatang itu hanya mengedipkan mata pelan-pelan, seperti memahami dan mangamini siasatku.

Yang kuharap akhirnya terjawab siang itu; paman mulai bertanya perihal keadaan kucing itu dengan nada yang sedih dan kedua mata yang muram.

“Kenapa kucing ini jadi seperti ini?” suaranya gemetar.

“Mungkin karena makanan kucing itu sering dicuri tikus, Paman,” jawabku berbohong.

“Kalau begitu, mestinya kau tambah makanan kucing ini.”

“Percuma makanan ditambah jika tikusnya tetap banyak, Paman.”

“Semestinya tikus-tikus itu disantap oleh kucing ini.”

“Tikusnya sudah terlalu banyak dan terlalu licik, Paman. Itulah sebabnya sebenarnya aku ingin kegiatan di pintu pagar dibereskan saja sebagaimana mestinya dan kegiatan mengurangi kerupuk diakhiri, karena aku tak ingin licik seperti tikus, Paman.”

Dadaku lega saat kalimat itu bisa kulontarkan. Berharap paman mencermatinya secara baik. Sepasang mata paman terpaku menatapku. Tapi ia hanya diam dengan wajah yang seolah bimbang.

***

Kini paman tak pernah lagi mengurus kegiatan sogok di pintu pagar dan tak ingat lagi aktivitas mengurangi makanan para pekerja. Jangankan mengurus, bertanya pun enggan. Aku pun mulai leluasa bekerja dengan jujur; tanpa menerima sogok dan tak mengurangi kerupuk—porsi lauk makanan—para pekerja.

Mulanya aku merasa tak enak karena uang yang kudapatkan jauh melorot dari hari-hari sebelumnya. Itu terjadi karena uang tambahan yang biasa kudapat dari sogok dan pengurangan porsi makan sudah tak ada. Tapi aku merasa bahagia dan damai dengan gaji murni yang memang hakku.

Hari-hari berikutnya aku tak pernah bertemu paman. Beberapa kali kutelpon dia tapi tidak diangkat. Mengirim pesan lewat WA tidak dibalas. Beberapa kali kucari di sekitar pabrik—di tempat biasa ia mangkal dan bertugas—tapi tak pernah kulihat, padahal kucingnya masih ada. Tubuh kucing itu berangsur gemuk kembali, karena aku memberi makanan yang lezat untuknya sebagaimana janjiku dulu.

Suatu pagi aku menyempatkan diri berswafoto dengan kucing paman yang sudah gemuk itu. Gambarnya kukirim ke paman melalui WA dengan satu tanda tanya, “Paman di mana?” Tanpa kuduga, ternyata paman baru membalas kiriman itu.

“Aku memutuskan berhenti dan keluar dari pabrik karena malu pada kucing itu. Kucing itu pasti tahu jika selama ini tingkahku sama seperti tikus.”

Sontak aku terkejut mendengar perkataan paman. Sedang kucing paman mengeong berkali-kali sambil menggesek-gesek lengan seperti mendengar bunyi tikus yang besar.

ilustrasi: lukisan popo iskandar.

Tinggalkan Balasan