Kucing Sang Koruptor

Sopir itu kemudian memanggilku untuk mendekat ke jendela mobilnya. Tangannya yang kasar tiba-tiba menyelipkan sebuah amplop ke dalam saku. Tak ada bahasa apa pun, lantas ia menjalankan mobilnya begitu saja masuk ke dalam pabrik. Aku masih berdiri dalam bingung. Karena penasaran, setelah keadaan sepi, kubuka amplop itu. Aku terkejut melihat dua lembar uang seratus ribuan di dalamnya. Cepat kuselipkan kembali ke saku dengan perasaan antara bingung dan bahagia.

Tak sampai dua jam aku berdiri di depan pintu pabrik, tanpa harus memeriksa satu pun mobil yang masuk, saku dan tasku sudah sesak dengan amplop dan rokok. Pandang kedua mata kerap alih hanya pada dua haluan—ke arah luar pintu untuk menunggu kedatangan mobil atau ke dalam ruang pabrik; ke arah tumpukan tembakau yang sudah diturunkan dari mobil, sambil sesekali dipacu jantung yang berdebar karena khawatir ada tembakau yang tak layak tapi lolos dari pemeriksaan. Kedua mataku terpaku ke arah tumpukan tembakau itu, sesekali melihat tikus-tikus berkeliar, berkejaran, masuk ke celah-celah kecil dengan riangnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Bagaimana, Min? Kamu ikut nasihatku yang mana? Apa saat di pelatihan atau ketika kerja di lapangan?”

Tanpa kusadari, tiba-tiba paman datang, menepuk bahuku dari belakang. Kucing hitamnya tiba-tiba menggesek betisku. Setelah sebentar diam dalam kebingungan, akhirnya kujawab dengan tegas,”Saya ikut nasihat paman di lapangan.”

Paman tersenyum dan mengacungkan jempol. “Itu hasilnya dibagi dua denganku,” bisiknya lirih. Kucingnya mengeong, seperti mencium aroma tikus.

***

Aku benar-benar menikmati trik paman dalam mendapatkan uang. Hanya dalam kurun waktu dua bulan, aku sudah bisa membeli motor dan HP baru. Itu pun hanya sisa dari sebagian yang ditabung dan dibelanjakan.

“Hidup itu bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan, tapi untuk mendapatkan uang. Jadi kau jangan terlalu serius memikirkan tugasmu. Tapi carilah cara dengan serius untuk mendapatkan uang,” ucap paman untuk kesekian kalinya padaku. Selalu diulang-ulang. Kadang dibisikkan. Kadang diucapkan dengan suara lantang.

Aku selalu mengangguk dan tersenyum saat mendengar kata-kata itu. Aku merasa kata-kata itu telah tumbuh dalam diriku, jadi pohon yang kuat dan lebat; menjulurkan banyak buah yang begitu manis.

Saat aku dapat tugas tambahan untuk mengantar makan siang ke para pekerja, paman menyarankanku untuk mengurangi bungkusan lauk kering yang tersedia. Aku pun mengikuti saran paman, mengambil sebungkus kerupuk di masing-masing bungkus makanan, ditumpuk dalam sak lusuh di pojok gudang, di antara dempetan barang pada bagian yang tersembunyi. Kerupuk hasil sikat itu oleh paman dijual ke pedagang asongan dan hasilnya juga dibagi; untuk aku dan paman.

Semakin hari, harta dan tabunganku semakin menumpuk, tapi ada ketidaknyamanan dalam diri yang menumbuhkan rasa waswas—khawatir dipecat, khawatir dihukum, dan khawatir masuk neraka.

“Apa ini bukan korupsi, Paman? Apa tidak dosa? Apa tidak dihukum?”

“Ha-ha-ha….”

Paman hanya tertawa. Tak menjawab apa-apa. Sedang kucing kesayangan paman hanya menjilat-jilat kaki depannya. Lalu menatapku, seperti menanyakan seekor tikus.

***

Entah kenapa setiap kuinjakkan kaki di tempat tugas—di sisi pintu pagar yang dilengkapi sebuah kursi dengan meja kecil bermuatan cangkir—akhir-akhir ini selalu membuat perasaanku seperti tiba menapak lorong samar ke arah neraka, terutama di saat mobil pengangkut tembakau berhenti di depanku dan sopirnya menjulurkan amplop atau rokok, atau ketika mengambil kerupuk dari masing-masing bungkusan.

“Ini sebenarnya bentuk lain dari korupsi. Aku harus berhenti, dan arahan paman harus kutolak dengan cara-cara yang etis,” gumamku

Hari-hari saat aku sadar, nyaris tiap waktu selalu kucari cara terbaik untuk menolak arahan paman sekaligus menyelamatkan paman dari prilaku yang sangat merugikan itu, hanya saja, setiap kali berpikir untuk mencari cara, setiap itu pula otakku buntu—seperti tak ada cara untuk menghentikan aktivitas paman itu mengingat paman sendiri memiliki watak yang keras.

Aku bingung, jika kubiarkan paman begitu, maka aku sama saja mendukung perbuatan paman—menumpuk banyak dosa dan membiarkan banyak orang kena rugi, namun jika kutolak, paman pasti marah atau bahkan malah bisa saja ia balik memfitnahku hingga si bos memberhentikannku dari pabrik.

Setelah beberapa hari tak menemukan cara untuk menyadarkan paman tentang korupsi, akhirnya aku hanya punya inisiatif untuk mengurangi takaran makanan kucing paman sebagaimana aku mengurangi kerupuk para pekerja dari bungkus makanannya. Aku merasa itu cara terbaik untuk menyadarkan paman secara diam-diam. Tentu saja di balik semua itu,—dengan cara yang sangat tak masuk akal—aku minta maaf dulu kepada kucing itu seraya berjanji bahwa apa yang kulakukan semata untuk menyadarkan paman dari perilaku korupsi, sekadar untuk membuat kucing itu kurus dalam kondisi yang tidak membahayakan tubuhnya, dan nanti setelah paman sadar, aku berjanji untuk memberi makan kucing itu dengan yang paling lezat.

Tinggalkan Balasan