LAGU KEMATIAN
Lelaki itu sendirian
belagu tentang kematian
Waktu yang entah
ditunggunya dengan resah
Izrail, mencabut nyawa
seperti mencabut rumput di rawa-rawa
Lelaki itu mencoba untuk tenang
seperti air menggenang
Kematian tak pernah lepas
kebahagiaan harus tuntas
Kemudian di rumah lelaki itu
Izrail mengetuk pintu selembut angin
“permisi”
“silakan masuk” ucapnya dengan suara patah
“maaf, jika sudah membuatmu menunggu lama”
“jangan lupa, bawa catatan yang ‘kan kau buka di alam baka”
Lantas lelaki itu kebingungan
di hadapannya; ada surga dan neraka.
Yogyakarta, 2023.
MASA DEPAN TAK PERLU KAUCEMASKAN
Sebelum senja redup di hadapan mata
ada seseorang meninggalkan sebuah kata
“masa depan tak perlu kau cemaskan” katanya
sedang polusi udara hari ini makin memburuk cuaca
Masa depanku terbuat dari kaca
berkilau ke segala penjuru kota
tapi aku gampang rapuh
terbentur sedikit patah
Musim yang pancaroba
kerap kali membawa iba
melalui ketukan semilir angin
aku berharap tak terlalu banyak ingin
Oleh karena itu, aku tahu;
masa depan memang tak perlu dicemaskan.
Yogyakarta, 2023.
KENOPSIA
ada yang berserakan di kepalaku
mungkin terbuat dari polusi cinta
yang gagal menghijaukan cemas
karena peradaban makin panas
sedang di kepalaku
ada sungai beku
yang nyaris dikotori bahan baku
seperti halnya limbah rindu
dan aku baru menyadari
kalau kau membangun industri keramaian
dengan mengelola banyak kenangan
pada sejumlah waktu dan tabung harapan
hangus sudah lingkungan hatiku
tak ada tempat untuk berteduh
sejak dunia ini mulai terasa gaduh
dan cintamu padaku makin rapuh.
Yogyakarta, 2023.