MELOMPONG
Selarut ini, kata-kata masih melek
Menyalin tawamu ke halaman satu;
Buku berjudul nama kita
Kertasnya terbuat dari kangen
Penanya bertinta air mata

Di halaman ke sepuluh
huruf-huruf meninabobo bulan
Supaya ia segera tidur
Dan berhenti berceloteh
Tentang matahari
Yang sinarnya telah berpindah
ke dalam lubuk matamu
Tiga halaman setelah itu
bintang-bintang sedang
kerja bakti
menyapu guguran rindu
Di sepanjang gang sepi
selama musim kemarau ini
Dengan jengkel para puisi
menyeret tanda titik pulang
Kesedihan kelojotan
kembali ke selembar halaman kosong
di hatiku
Hati bolong
Akupun tidur
dengan perasaan melompong

Wah kita satu kampung mba wkwk
Eh iya mbak, se kompleks pula. Mbak yang tadi malem abis gibah di kamar saya kan?