Laki-laki di Rumah Ibu

Apalagi kini antara paman Umar dan ibu mulai menjadi buah bibir orang-orang kampung. Ada yang mendukung mereka untuk menikah, ada yang hanya mencibir. Entah apa yang sebenarnya mereka tunggu. Ternyata masalah rumit itu bukan berasal dari laki-laki itu yang tak mau melamar ibu. Namun, ibu sendirilah yang membuat hubungan mereka tak pernah berlanjut.

Kehadiran paman Umar yang awalnya hanya menghibur kami semakin lama berubah dengan maksud yang lain. Dia melamar ibu. Dia memendam rasa cinta sejak sebelum ayah dan ibu menikah. Ia mencintai ibu bahkan sebelum cinta tumbuh di hati ayah. Hanya soal waktu, ia terlalu lama memendam cinta hingga terlambat menyatakannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dia tidak memiliki keberanian untuk meminang ibu karena saat itu hidupnya sangat hancur. Dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya, memperbaiki hidup dulu hingga merasa pantas untuk meminang ibu. Namun ternyata ayah juga menaruh hati kepada ibu; begitu pula sebaliknya. Malam ini dia kembali datang setelah satu bulan yang lalu melamar ibu. Tujuannya masih sama. Dia tidak menyerah meski ibu sudah menolaknya.

“Susah payah aku menyingkirkan perasaan ini karena aku tak ingin merusak hubungan baik kita. Tapi aku juga sulit menerima orang lain. Itulah alasan mengapa aku tak kunjung menikah. Namun sejak pertanyaan singkat Sinta kala itu yang memintaku untuk menjadi ayahnya, seketika perasaan itu muncul kembali dan aku tak mampu mengendalikannya lagi. Maryam, bolehkah aku menjadi penghuni rumahmu untuk mengobati setiap sudut hatimu yang masih dirundung duka?”

Seketika ibu menangis mendengar pernyataan dari laki-laki itu.

“Apa kau tak malu melamar janda dari sahabatmu sendiri? Itu sama saja kau mensyukuri akan ketiadaan sahabatmu, dan memanfaatkan kasih sayang anak-anakku untuk bisa mendapatkanku.”

“Tidak, Maryam. Aku tak bermaksud begitu. Aku juga tak menginginkan atas ketiadaan suamimu dan aku tulus menyayangi anak-anakmu.”

Malam itu ibu hanya bisa menangis, tak mampu menjawab permintaan paman Umar. Ibu seketika amat membenci laki-laki itu. Cinta suaminya tak akan pernah bisa dibandingkan dengan siapapun. Sejak itu paman Umar tidak pernah datang lagi.

Waktu berjalan begitu lamban hingga datanglah hari yang tidak pernah kami inginkan. Tiba-tiba ibu jatuh sakit. badannya semakin kurus dan sangat lemah. Akhirnya kami bertiga sepakat untuk melakukan semua pekerjaan yang biasa dilakukan ibu, dan bergantian mengurus ibu. Sebenarnya ibu melarang kami untuk melakukan semua ini, tetapi bagi kami lebih baik kami merasa letih dibandingkan harus melihatnya semakin hari semakin meredup.

Hingga malam yang tak pernah kami inginkan pun tiba. Wulan dan Sinta menangis tersedu-sedu di samping badannya yang mulai dingin, sedangkan aku tak sedikitpun melihat wajahnya. Aku tak rela air mataku jatuh hanya untuk menangisi kepergiannya. Kami masih sangat kecil untuk hidup sendiri di dunia yang menyeramkan ini. Sungguh, malam itu aku sangat membencinya.

Semua orang kampung berdatangan di rumah reyot kami. Mereka mulai membacakan surat yasin dan ibu sudah dibaringkan di ruang tamu, menyambut ajalnya yang sebentar lagi tiba. Setelah sekian lama paman Umar datang, duduk di samping kami, sesekali menyeka air matanya. Ibu menatap paman Umar dan memintanya untuk mendekat.

“Apa kau masih mencintaiku?”

“Tentu, Maryam. Bagaimanapun dan di manapun kau berada.”

Tinggalkan Balasan