“Maaf, bahkan sampai di ujung napasku pun, aku tidak bisa membalas atas semua kebaikanmu. Selama ini aku tak pernah mengizinkanmu menjadi penghuni rumahku dan hatiku. Kau tak salah dengan perasaanmu. Andai saja saat itu kau lebih dulu meminangku, mungkin aku bisa memberimu cinta yang melimpah. Namun cintaku sudah telanjur habis aku berikan kepada suamiku dan ketiga anakku. Namun jika memang kau ingin menjadi penghuni rumahku, buktikan bahwa kau layak.”
“Tentu, Maryam. Akan aku buktikan. Akan aku lakukan apapun yang kau minta.”

“Jaga ketiga anakku. Bimbing dan dampingi mereka hingga aku benar-benar bangga dengan mereka dan usahamu. Baru aku akan mempersilakan kau masuk dalam rumahku.”
Laki-laki itu mengangguk dengan terus menyeka air matanya. Meskipun ia tahu bahwa umur ibuku tak lama lagi.
Ibu pun pergi. Mengembuskan napas terakhirnya. Kini kami sendiri sebatang kara. Kami tak tahu harus hidup seperti apa setelah ibu pergi. Laki-laki itu pun langsung memeluk kami bertiga. Ia terus terisak dan berkali-kali meminta maaf. Ia merasa ibu sakit karena perbuatannya yang membuat orang-orang memandang buruk kepada ibu sehingga membuatnya sakit. Kami tak membencinya. Perasaannya bukanlah sebuah kesalahan. Ia tak pernah menginginkan cinta datang dan terus menekan emosinya. Kini hanya dia yang kami punya. Laki-laki yang tak memiliki ikatan darah dengan kami, tetapi kini justru menjadi ayah bagi kami.
***
Lima belas tahun berlalu begitu cepat sejak kejadian pilu itu. Kami memutuskan untuk pergi merantau melanjutkan hidup agar ayah dan ibu kami bangga. Lima belas tahun lamanya kami tak sekalipun pulang ke kampung halaman karena masih belum bisa berdamai dengan kenyataan, hingga akhirnya kami mulai sadar kami harus pulang dan merelakan segalanya. Kami pulang sejenak untuk menjenguk pusara ibu tepat di hari peringatan kematiannya. Apapun yang terjadi hidup harus terus berjalan. Melaksanakan tugas kehidupan hingga pada waktunya kami akan ikut menyusul ibu.
Namun semua itu mungkin tak berlaku bagi laki-laki itu yang sejak fajar tiba. Ia sudah duduk di samping pusara dan asyik bercengkrama dengan batu nisan ibu. Kedua adikku hanya bisa bungkam saat mengetahui keadaannya. Aku tak terkejut akan hal itu, karena aku sudah lama mengetahui kebiasaan gilanya ini.
Sejak ibu meninggal hidupnya benar-benar berhenti. Ia tak pernah menikah. Hanya sibuk bekerja membiayai hidup kami, merawat rumah kami yang sudah kosong, dan pusara ibu. Berharap kelak ia bisa menjadi penghuni rumah kami, menjadi keluarga bahagia, hidup bersama ibu dan kami. Sungguh harapan yang sia-sia.
“Paman,” sapaku. Dia pun menoleh dan tersenyum bahagia. Dia langsung memeluk kami bertiga.
“Lihatlah, Maryam. Mereka akhirnya pulang. Seperti yang kau minta, aku telah berhasil membuat tiga mutiaramu menjadi kokoh. Apa kau masih meragukan cintaku? Mengapa kau masih egois dengan perasaanmu sendiri?”
Bunga-bunga kamboja mulai berguguran jatuh di atas puluhan batu nisan. Angin masih mendesau pelan, mengirimkan akan kabar hati yang hampa dan sunyi. Kami tidak menyangka keadaan laki-laki itu seperti ini. Saat dia berada di luar pemakaman, dia layaknya laki-laki normal. Tapi saat dia sudah duduk di samping pusara ibu, dia berubah menjadi laki-laki tak waras.
Aku menghela napas panjang. Memang hanya inilah yang bisa dia lakukan.Sebuah kesetiaan yang berakhir sia-sia. Penantian jawaban yang tak pernah terucapkan. Sebuah cinta yang tidak pernah terbalaskan. Cinta memang bisa membolak-balikan semua hal dan tak bisa dinalar. Aku pun mendekatinya dan berbisik, “Apa kau tidak mengerti juga bahwa Tuhan menciptakan cinta tidak untuk sebuah kegilaan, Paman.”
