“Mbah, ini saya, Kasim!”
Mbah Dibyo tersentak dan perlahan menoleh ke sumber suara, “Loh kok malah kamu yang datang!”

“Ya Mbah, saya kan merbot masjid, sebentar lagi kan mau Subuh, ya saya ke mesjidlah! Mbah kenapa ketiduran di sini?”
“Saya nunggu malaikat yang mau ngambil nyawa saya, Kasim!”
“Loh, malaikatnya sudah jemput Pak RT, Mbah!”
“Loh, loh kok bisa!”
“Ya bisalah Mbah, Pak RT-kan manusia, bisa mati juga!”
“Loh malaikatnya janji mau jemput saya, kok malah Pak RT, dia kan masih muda, sehat, tak ada tanda-tanda mau mati!”
“Ya namanya mati itu tak pandang umur, bisa muda, bisa tua, bisa terlihat sakit, bisa juga yang nampak sehat!”
“Ini kok aneh ya!”
“Ya aneh sih, wong Pak RT itu tadi katanya malam kan ke rumah Mbah, mau ngantar alamanak baru yang dibagikan Pak Dewo yang angggota dewan itu. Mbahnya tak ada, dia pulang eh sampai rumah dia meninggal, meninggalnya lagi duduk pas mau buka buku catatan laporan warga.”
Mbah Dibyo melongo dan Kasim meninggalkannya pergi ke ruangan sound system lalu terdengarlah suaranya lewat pengeras suara yang dipasang menghadap segala penjuru.
“Inalilahi wa inalillahi ro jiun, telah meninggal dunia Bapak Erte…”
Mbah Dibyo masih saja diam melongo hingga suara ponsel di saku celananya mengagetkannya. Diambilnya dan dilihatnya, ternyata anak pertamanya menelepon.
“Pak, jadi nggak, ini Wardi baru mau berangkat!”
Mbah Dibyo hanya diam dan menghela napas dalam
“Pak, Bapak, Hallooo Pak….”
Mbah Dibyo langsung menekan tombol hingga ponselnya kembali sepi.
***
