Setelah sampai di rumah, sambil selonjoran di kursi rotan dia menghubungi anak-anaknya. Anak sulungnya ada di Jakarta. Saat mendengar kabar kalau bapaknya mau mati, dia langsung tertawa, menganggap bapaknya sedang bercanda.
“Bapak ini serius loh, Wardi!”

Anaknya langsung terdiam. Dia menyadari kalau bapaknya hanya butuh perhatian. “Iya, Pak, nanti Wardi pulang tapi tak bawa anak-anak dan istri, mereka sudah ada rencana mau nonton konser merayakan tahun baru!”
“Iya tak apa-apa, datang juga ya percuma toh, bapak sudah jadi mayat, jadi tak bisa bercanda sama cucu, cukup kamu saja, malu nanti sama tetangga, masa bapaknya mati anaknya tak peduli!”
“Iya, Pak, siap!”
Mbah Dibyo lega, anaknya yang pertama mau meluangkan waktunya sebagai petinggi yang sibuk di perusahaan kelapa sawit. Kemudian dia langsung menghubungi anak bungsunya yang menjadi guru sekolah dasar di Indramayu.
“Iya saya datang, Pak, tapi sendiri. Kalau bareng anak istri, tak ada biaya buat ongkos, maklum masih honorer, Pak. Doakan ya pak biar bisa diangkat P3K!”
“Hah! Diangkat kotak obat?”
“Bukan l, Pak! Diangkat jadi pegawai negeri!”
“Ohh ya, baik-baik, tapi kalau sudah diangkat jangan malas ya, ngajar yang benar!”
“Nggih, Pak, siap!”
****
Selepas Isya, Mbah Dibyo sudah duduk bersila di sudut masjid. Sambil menunggu malaikat datang, dia berzikir sebisanya. Hanya menyebut “Allah” itu saja kalimat zikir yang dia tahu. Bibirnya bergerak pelan, kadang diselingi helaan napas. Terdengarnya pun tidak jelas, lebih mirip orang bergumam. Deru napasnya saja yang terdengar jelas pecahkan sepi, yang entah pada helaan ke berapa napasnya akan berhenti.
Masjid itu sudah sepi, lampunya pun sebagian dimatikan, hanya remang yang menyinari Mbah Dibyo. Dia memang sengaja datang di waktu sepi dan duduk dalam keremangan, agar tidak ada orang yang melihat dan banyak tanya atau malah tidak suka dia mati di masjid, karena tempat suci jadi tempat matinya lelaki renta yang justru jarang ke masjid.
Mbah Dibyo hanya ingin mati dalam keheningan, dalam kepasrahan, dalam keadaan berzikir yang jarang dia lakukan selama ini. Di akhir hidupnya dia berjuang melakukannya, terasa berat tapi tetap berusaha menuntaskannya. Meski terbata, meski tubuh rentanya tak kuat duduk bersila begitu lama, kadang kakinya selonjoran, kadang tubuhnya berbaring mengurangi pegal pada punggungnya yang rapuh, namun mulutnya tetap komat-kamit melafazkan “Allah”
Hingga dalam kantuk yang membuat matanya bekali-kali terkatup, dia berjuang untuk terjaga, hingga di saat kepalanya tertunduk, pundaknya terasa ada yang memegang.
“Ya malaikat, akhirnya datang juga. Ambil perlahan nyawa saya, jangan grasa-grusu, saya sudah ikhlas!” gumam Mbah Dibyo.
Kini pundaknya terasa ditepuk-tepuk.
“Metodenya begini toh, ngeluarin nyawa. Ya Allah hamba kembali padaMu!”
Tepukan di pundak terasa semakin keras, Mbah Dibyo pun memejamkan mata sambil mulutnya menyebut “Allah” dengan cepat.
