“Bahasa al-Qur’an terlalu dalam maknanya, dan setiap terjemahan hanyalah usaha untuk mendekati isinya dan tidak pernah akan dapat mengungkapkan isinya secara sempurna.”
— H.B. Jassin, “Terjemahan Qur’an Tidak Pernah Bisa Sempurna Seperti Aslinya”, dalam Jassin 2000d: 107-108).
Masa kecil H.B. Jassin di Gorontalo menanamkan pengalaman religius yang kelak menjadi fondasi estetik Bacaan Mulia. “Saya terharu, teringat nenek saya yang setiap hari dahulu di kampung membaca al-Qur’an,” tulisnya dalam “Pengalaman Menerjemahkan al-Qur’an secara Puitis” (Jassin 2000c: 20). “Terharu, karena saya sekarang bisa juga membaca al-Qur’an dengan alunan suara berkat setiap hari mendengarkan nenek melagukannya.”

Ingatan tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan titik mula kesadaran seorang anak terhadap hubungan antara suara, bahasa, dan wahyu. Dari serambi rumah di Gorontalo, ia menyaksikan bagaimana bahasa —dalam bentuk suara yang dilagukan— menjadi jembatan menuju yang suci. Kesadaran inilah yang kelak membentuk keyakinannya bahwa bahasa Indonesia pun dapat menampung getaran ilahiah, bukan hanya sebagai medium sastra, tetapi sebagai wadah bagi firman ilahi.

Dan “Jassin” bukan sekadar nama anak Gorontalo yang kelak menjadi kampiun sastra Indonesia modern. Di dalamnya terpantul gema Yasin, salah satu surat Al-Qur’an yang oleh tradisi dianggap sebagai jantung kitab suci itu. Dalam kultur Islam Nusantara, Yasin tidak hanya dibaca, tetapi dihadirkan sebagai penyangga ritus hidup: dari malam Jumat sampai upacara kematian, dari syukuran keluarga sampai penanda transisi spiritual. Nama itu, yang akarnya bersinggungan dengan getaran wahyu, menjadikan perjalanan Jassin seolah sejak awal telah berada dalam orbit bahasa yang sarat muatan religius. Ketika ia kemudian mengabdikan hidupnya pada penyempurnaan bahasa Indonesia dan pada akhirnya menerjemahkan Al-Qur’an dalam bentuk Bacaan Mulia (1978), gema Yasin yang melekat pada namanya seakan menemukan kembali jalur historisnya: dari suara nenek yang melagukan ayat, menuju bahasa nasional yang sedang mencari cara untuk menampung sakralitas dalam tubuh modernnya.
Tetapi Jassin bukanlah penempuh jalan lempang tradisi keagamaan. Perjalanan intelektualnya justru membawanya menyelam ke kedalaman filsafat Barat, terutama Schopenhauer dan Nietzsche, sampai ia sendiri mengakui pernah terseret ke wilayah “binatang jalang” (Jassin 2000a: 143-153) —istilah yang digunakannya untuk menamai fase keraguan, pemberontakan, dan pencarian makna yang tidak lagi dibimbing oleh batas-batas keyakinan tradisional. Pada masa itu, ia membaca dunia melalui lensa pesimisme metafisis dan kritik moral modern, jauh dari suasana religius Gorontalo yang melingkupinya saat kecil. Pengakuan itu menandai masa penting dalam hidupnya: sebuah fase ketika hubungan antara manusia, bahasa, dan transendensi kembali dinegosiasi dalam dirinya. Dengan demikian, fase ini menggeser cara Jassin membaca bahasa, bukan hanya mengguncang batin, tetapi juga memaksa ia mempertanyakan klaim-klaim objektivitas makna.
Dalam konteks Jassin, fase “binatang jalang” ini adalah prasyarat intelektual untuk proyek Bacaan Mulia. Hanya orang yang telah menggumuli nihilisme dan keraguan mendalam yang bisa menghadirkan terjemahan dengan ketakziman yang bukan berasal dari dogma, tapi dari pencarian. Ini membedakan spiritualitas Jassin dengan kesalehan tradisional. Dari kegelisahan itulah lahir kebutuhan untuk menemukan kembali jalur menuju yang suci, bukan melalui dogma, melainkan melalui bahasa —jalur yang kelak menemukan bentuknya dalam Bacaan Mulia.
Salah satu titik balik Jassin adalah kepergian istrinya, Arsiti, pada 12 Maret 1962. Dalam duka yang mendalam itu, rumahnya selama tujuh malam berturut-turut dipenuhi suara khataman Al-Qur’an. Suara-suara itu, yang datang dari para pembaca yang duduk bersaf di ruang tamu, membawanya kembali pada irama masa kecilnya, tetapi dengan resonansi yang berbeda. Kini ia mendengarnya bukan sebagai anak kecil yang terpukau pada lantunan neneknya, melainkan sebagai lelaki dewasa yang tengah berhadapan dengan kefanaan. Bacaan itu tidak hanya menghibur, tetapi menyentuh dimensi batin yang lama terabaikan oleh pergulatannya dengan filsafat modern. Nada, jeda, dan repetisi ayat-ayat suci itu perlahan membuka celah bagi Jassin untuk melihat bahwa bahasa —dalam bentuknya yang paling ritmis dan paling pasrah— masih menyimpan kemungkinan untuk memulihkan manusia dari ketercerabutan. Dari ruang duka itulah, kesadaran akan kekuatan sakral bahasa mulai kembali menyala, menuntunnya menuju proyek besar yang kemudian ia wujudkan dalam Bacaan Mulia.
Sebagai kampiun sastra Indonesia modern, pertanyaan mendasar Jassin bukan sekadar teknis linguistik, tetapi menyentuh inti hubungan antara bahasa dan yang ilahi: mampukah bahasa Indonesia modern menjadi wahana penerjemahan wahyu? Ia memandang bahasa Indonesia sebagai bahasa yang masih muda, penuh potensi, tetapi belum teruji sepenuhnya dalam tugas tertingginya. Karena itu ia membaca semua terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Melayu-Indonesia, dari yang paling awal hingga yang paling mutakhir. Namun pengalaman membaca itu justru menimbulkan kekecewaan.
Bagi Jassin, sebagian terjemahan terlalu kaku, sebagian lain terperangkap dalam gaya bahasa yang tidak memancarkan ritme dan keindahan Al-Qur’an. Banyak yang terasa seperti laporan, bukan lantunan. Ia merasakan jurang antara kemuliaan teks asli dan tumpulnya representasi bahasa yang dipakainya. Dari sinilah muncul tekadnya: jika bahasa Indonesia ingin berdiri sejajar dengan tradisi besar lainnya, ia harus membuktikan diri mampu menampung kedalaman spiritual, emosi, dan musikalitas wahyu. Proyek Bacaan Mulia pun lahir sebagai sebuah percobaan besar, sebuah langkah untuk menguji sejauh mana bahasa nasional dapat diangkat menjadi medium yang layak bagi firman ilahi yang agung.
Dalam konteks itu, Bacaan Mulia tidak dapat dipahami hanya sebagai proyek penerjemahan Al-Qur’an dengan segala kerumitan alih bahasa yang menyertainya. Ia juga tidak bisa dibatasi sebagai satu fase dalam sejarah perkembangan penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa Melayu-Indonesia. Di atas semua fungsi teknis dan historis itu, Bacaan Mulia merupakan ikhtiar untuk mengangkat bahasa Indonesia modern dari tataran profan ke tataran sakral, dari bahasa komunikasi sehari-hari ke bahasa yang mampu memikul bobot wahyu. Proyek ini berangkat dari keyakinan Jassin bahwa bahasa Indonesia, yang selama ini tumbuh dalam jejaring politik, administrasi, pendidikan, dan sastra modern, masih menyimpan kemungkinan untuk menjadi wadah spiritual. Lewat pilihan diksi yang terukur, ritme yang dijaga, dan struktur kalimat yang diarahkan agar menggemakan keindahan Qur’ani, Jassin berusaha membuktikan bahwa bahasa nasional tidak harus tunduk pada banalitas zaman. Bacaan Mulia menjadi semacam percobaan monumental yang sangat menantang: bisakah sebuah bahasa modern yang lahir dari sejarah duniawi ditarik kembali ke wilayah yang memancarkan kesucian? Dari situlah ambisi terdalam karya ini mengambil bentuk.
Dan tepat di titik itulah muncul pertanyaan lain yang tak kalah menantang: mengapa Bacaan Mulia akhirnya “hanya” menjadi fenomena pinggiran dalam sejarah praksis penerjemahan Al-Qur’an di Indonesia?
Karya yang sedemikian besar ambisinya, yang melibatkan otoritas negara dan ulama sekaligus, ternyata tidak menempati posisi sentral dalam tradisi tafsir dan terjemahan Al-Qur’an di Indonesia. Sebagian alasannya terletak pada sifatnya yang hibrid: ia bukan tafsir ulama dalam pengertian klasik, tetapi juga bukan terjemahan resmi yang dibentuk oleh konsensus kelembagaan. Bacaan Mulia berada di wilayah antara sastra dan agama, sebuah ruang yang justru membuatnya sulit diadopsi oleh lembaga pendidikan, birokrasi keagamaan, maupun komunitas akademik tafsir. Ia ditolak bukan karena buruk apalagi menyimpang, tapi karena kerangka berpikirnya (estetika sebagai jalan sakral) tidak diakui oleh otoritas penjaga wahyu.
Di sisi lain, gaya bahasanya yang puitis —justru inti kekuatan karya ini— membuat sebagian pembaca merasa terhalang dalam mencari kejelasan makna yang normatif. Sementara itu, terjemahan Departemen Agama menyediakan sesuatu yang aman, stabil, dan mudah dipakai dalam ritual maupun pembelajaran. Ketika arus besar otoritas agama dan negara memilih jalur keseragaman, Bacaan Mulia berdiri sebagai monumen estetika yang indah namun terpencil, dihormati sebagai usaha, tetapi jarang dijadikan rujukan. Fenomena pinggiran ini justru memperlihatkan bagaimana batas antara kesakralan, kewibawaan, dan penerimaan publik bekerja dalam sejarah penerjemahan wahyu di Indonesia.
Bagi saya, Bacaan Mulia adalah magnum opus H.B. Jassin. Di dalamnya, kemampuan Jassin sebagai kritikus sastra, pemahat diksi, dan perumus kehalusan rasa bahasa mencapai puncak yang jarang disamai. Ia menghadirkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia dengan bobot estetik dan rasa yang hidup, yang membuat teks terjemahan itu berdiri sebagai karya sastra sekaligus jembatan spiritual. Namun ironi sejarah bekerja dengan cara yang tak selalu ramah: Bacaan Mulia justru berada di pinggir perjalanan panjang studi dan penerjemahan Al-Qur’an di Indonesia. Ia dihormati, tetapi tidak dijadikan rujukan utama; dibicarakan, tetapi tidak menempati panggung pusat. Nasib semacam ini membuat Bacaan Mulia tampil seperti permata yang kemilau cahayanya hanya sepenuhnya dilihat oleh mereka yang mau menengok ke sudut arsip. Dalam corak ironi itulah, kemilau karyanya semakin menegaskan kemewahannya.
Esai ini akan menggali struktur dasar atau sistem epistemik Bacaan Mulia sebagai usaha seorang manusia untuk mempertemukan wahyu, bahasa modern, dan kesadaran estetik. Dengan kata lain, kita sedang mengikuti jejak Jassin ketika ia membangun sebuah karya yang hidup di persimpangan rasionalitas, seni, dan spiritualitas —tiga wilayah yang jarang bertemu secara damai dalam sejarah penerjemahan Al-Qur’an. Dalam karya ini, wahyu tidak dihadapi sebagai doktrin yang harus diamankan, bahasa modern tidak diperlakukan sebagai alat yang pasif, dan estetika tidak dipinggirkan sebagai hiasan. Semuanya ditarik ke tengah sebagai unsur yang harus saling bernegosiasi dan saling menuntut ketelitian.
Dari titik temu inilah Bacaan Mulia memperoleh bentuknya yang khas: bukan terjemahan dalam arti biasa, bukan tafsir dalam pengertian ulama, dan bukan puisi dalam pengertian sastra murni. Ia adalah eksperimen yang lahir dari keyakinan bahwa manusia modern dapat mendekati teks suci dengan kesungguhan akal, kejernihan rasa bahasa, dan kepekaan rohani sekaligus —suatu upaya yang membuka kemungkinan baru tentang bagaimana Al-Qur’an dapat dihadirkan dan dihayati dalam bahasa Indonesia modern.
Esai ini berargumen bahwa Bacaan Mulia adalah puncak sekaligus titik tragis dari sebuah paradoks: upaya mensakralkan bahasa Indonesia melalui penerjemahan puitis yang justru bersandar pada sebuah epistemologi (keindahan puisi sebagai wahana sakral) yang bertabrakan dengan doktrin otoritatif tentang kesucian teks Al-Qur’an.

Bacaan Mulia: dari Bahasa Profan ke Bahasa Sakral
Untuk memahami bagaimana Bacaan Mulia merupakan usaha mengangkat bahasa Indonesia dari tataran profan ke tataran sakral, kita perlu menelusuri secara ringkas sejarah bahasa Melayu-Indonesia dan kedudukannya dalam struktur kebudayaan. Penelusuran ini akan memberi kita peta konseptual tentang bagaimana sebuah bahasa yang lahir sebagai lingua franca perdagangan, kemudian menjadi bahasa kesultanan, bahasa dakwah, bahasa sastra mistik, hingga akhirnya bahasa politik modern, terus-menerus mengalami negosiasi antara sakralitas dan profanitas.
Secara historis, bahasa Melayu-Indonesia bergerak dalam lingkaran yang terus berputar dari profanitas ke sakralitas. Sebagai lingua franca Nusantara, bahasa ini pada mulanya hidup di ranah sehari-hari: bahasa pasar, pelabuhan, dan pergaulan antaretnis. Ia tumbuh sebagai bahasa yang cair, cepat beradaptasi, dan tidak terikat oleh hierarki keagamaan maupun politik. Namun di akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, Hamzah Fansuri mendorong bahasa Melayu ke orbit baru. Melalui syair-syair sufistiknya yang memadukan pengalaman mistik dengan kehalusan metafor, Hamzah Fansuri menjadikan bahasa Melayu sebagai wahana artikulasi sakralitas Islam, sesuatu yang sebelumnya didominasi oleh bahasa Arab. Hal itu dilanjutkan terutama oleh Raja Ali Haji di abad ke-19, dengan gurindam, syair, dan kitab-kitabnya.
Dari titik itu, bahasa Melayu bukan lagi sekadar alat komunikasi profan, melainkan juga medium dakwah, tafsir, fikih, dan akhlak —korpus yang kelak dikenal sebagai sastra kitab. Sakralitas dan profanitas pun bergerak berdampingan: di satu sisi bahasa Melayu dipakai oleh pedagang di pelabuhan Aceh atau Ternate, di sisi lain ia dipakai untuk menjelaskan hakikat wujud, fana’, dan perjalanan jiwa. Perputaran inilah yang membentuk basis historis bagi kedudukan bahasa Melayu sebagai bahasa yang selalu siap menyerap pesan-pesan spiritual, sekaligus tak pernah bebas dari tarikan duniawi. Dalam konteks itu, proyek Jassin kelak menemukan presedennya.
Di Indonesia modern, terutama dalam gelanggang sastra, warisan sakralitas bahasa Melayu-Indonesia menemukan penjaga barunya pada sosok Amir Hamzah. Melalui puisi-puisi religiusnya —dengan ritme yang tenang namun berdenyut mistik— Amir mengembalikan bahasa Indonesia yang muda itu ke wilayah batin, seolah memperlihatkan bahwa modernitas dan kedalaman spiritual bukanlah kutub yang saling meniadakan.
Dari Hamzah Fansuri hingga Amir Hamzah, bahasa Melayu-Indonesia pernah memegang posisi tinggi sebagai wahana pengalaman religius yang subtil. Namun dalam perkembangannya kemudian, bahasa Indonesia dipakai dalam arus besar administrasi kolonial, pendidikan modern, dan wacana publik yang semakin pragmatis. Dengan melihat alur historis itu, kita dapat menangkap betapa radikalnya proyek Jassin: ia berusaha mengarahkan kembali bahasa Indonesia ke aras kesucian, bukan dengan mengembalikannya ke masa lampau, melainkan dengan memanfaatkan seluruh potensi modernitasnya, termasuk keluwesan sintaksis dan estetika puitis yang diwarisinya. Dari sinilah kita mendapatkan kerangka untuk membaca Bacaan Mulia bukan sekadar sebagai terjemahan, melainkan juga sebagai intervensi kultural terhadap perjalanan bahasa Indonesia itu sendiri.
Setelah Amir Hamzah, kesinambungan itu masih berdenyut dalam karya Chairil Anwar, meskipun dengan intensitas yang berbeda. Chairil, dengan seluruh kegelisahan dan vitalisme eksistensialnya, jelas menandai puncak pergulatan bahasa Indonesia modern. Namun bagi Chairil, sakralitas bukan rumah, melainkan gelegak sesaat; energi puisinya lebih sering diarahkan ke dunia yang profan —ke cinta, kematian, pemberontakan, dan pencarian makna yang tidak memerlukan horison ilahi. Di titik itu, kita melihat semacam belokan: bahasa Indonesia modern tetap kuat sebagai alat pengungkapan batin yang dalam, tetapi garis kontinum sakralitas yang pernah diusahakan Hamzah Fansuri dan dijaga oleh Amir Hamzah mulai merenggang, membuka ruang bagi upaya baru seperti yang kelak ditempuh Jassin melalui Bacaan Mulia.
Dalam relasinya dengan Chairil Anwar, posisi Jassin dan Bacaan Mulia-nya tampak ganjil sekaligus menarik. Jassin-lah yang mula-mula “menemukan” kecemerlangan bahasa Chairil —yang melesat seperti meteor dalam langit sastra Indonesia modern. Melalui pembelaannya yang gigih, Jassin meneguhkan Chairil sebagai fondasi baru estetika bahasa Indonesia. Namun justru dari posisi itulah Jassin tampaknya menyadari batasnya: bahasa Chairil, seterang apa pun kilau pencapaiannya, tetap berdenyut di ranah profan. Keberaniannya merobek tabu, memodernkan diksi, dan memahat intensitas segi-segi emotif bahasa ternyata tidak membawa bahasa Indonesia kembali ke wilayah sakral sebagaimana tradisi Melayu-Islam dahulu mengupayakannya. Maka, Bacaan Mulia dapat dibaca sebagai respons batin Jassin sendiri: sebuah percobaan untuk melampaui kecemerlangan puisi Chairil yang profan, dengan menyiapkan wahana bagi bahasa Indonesia agar menyentuh kembali batas langit yang sakral, bukan melalui puisi liris, melainkan melalui keberanian menerjemahkan firman ilahi.
Bacaan Mulia dapat pula dibaca sebagai jalan bagi Jassin untuk mendamaikan —atau lebih tepatnya, mensintesiskan— dua kutub kecintaan yang membentuk alam pikirnya: kekuatan bahasa profan yang membahana dalam puisi Chairil Anwar dan kesakralan bahasa yang diwarisi dari tradisi neneknya serta khazanah Melayu-Islam klasik seperti karya Hamzah Fansuri. Di satu sisi, Jassin adalah penemu dan pembela utama Chairil, yang bahasanya ia puji sebagai “meteor” yang menerangi langit sastra Indonesia modern. Ia menghargai vitalitas, keberanian, dan intensitas emosional Chairil yang memberontak terhadap kemapanan, serta kemampuannya menempa bahasa Indonesia menjadi alat ekspresi yang tajam dan personal.
Namun, di sisi lain, Jassin menyadari bahwa kilau Chairil, meski cemerlang, tetap bersifat duniawi —bahasanya adalah bahasa manusia yang merengkuh kematian, cinta, dan pemberontakan, tanpa mengarahkan diri pada horison transendensi. Bahasa Chairil adalah bahasa yang telah dibebaskan, tetapi dibebaskan ke dalam dunia profan. Sementara itu, dari kenangan masa kecilnya, Jassin menyimpan getaran lain: bahasa sebagai medium sakral yang membawa wahyu, sebagaimana dilantunkan neneknya, dan sebagaimana dirajut oleh Hamzah Fansuri dalam syair-syair sufistik yang menjadikan bahasa Melayu sebagai wahana pengalaman ketuhanan. Bacaan Mulia hadir sebagai upaya untuk menjahit kembali kedua kutub yang seolah terpisah ini. Ia mengambil energi modernitas linguistik yang diwariskan Chairil —keluwesan diksi, keberanian sintaksis, dan kepekaan ritmis— lalu mengarahkannya bukan untuk mengungkapkan kegelisahan eksistensial manusia, melainkan untuk mengemban tugas tertinggi: menerjemahkan firman Ilahi. Dalam konteks itu, penemuan dan pembelaan Jassin terhadap Chairil menegaskan kompetensinya sebagai kritikus bahasa modern, yang kemudian menjadi modal epistemik bagi proyek Bacaan Mulia.
Dengan kata lain, Jassin menggunakan perangkat estetik sastra modern yang telah dimatangkan oleh generasi Chairil untuk menghidupkan kembali cita-cita sakralisasi bahasa ala Hamzah Fansuri. Dalam sintesis ini, bahasa Indonesia tidak lagi harus memilih antara menjadi bahasa duniawi yang kuat atau bahasa ritual yang kaku. Ia bisa menjadi keduanya sekaligus —kuat karena kedalaman ekspresi modernnya, dan sakral karena muatan dan bentuknya yang menghormati wahyu. Maka, Bacaan Mulia bukan sekadar terjemahan. Ia adalah rekonsiliasi budaya yang ambisius, di mana warisan spiritual Nusantara dan pencapaian puisi Indonesia modern dipertemukan dalam sebuah mahakarya bahasa.

Bacaan Mulia sebagai Proyek Bahasa
Dalam kerangka uraian di atas, Bacaan Mulia adalah proyek bahasa. Jassin menguji batas-batas bahasa Indonesia, sejauhmana ia mampu menampung arti semantik Al-Qur’an, metafora kosmologisnya, keindahan ritmenya, dan lapisan-lapisan maknanya. Ia memperlakukan bahasa Indonesia seperti tanah liat yang dapat dibentuk ulang sampai mampu menyampaikan rasa sakral tanpa menjadi kaku atau artifisial. Upaya ini membuat bahasa Indonesia bekerja pada tekanan yang tidak biasa, karena ia dipaksa menampung beban makna yang selama berabad-abad bernaung dalam bahasa Arab klasik. Dalam kondisi itu, Jassin bertindak hampir seperti seorang alchemist linguistik, mencari padanan yang bukan hanya tepat secara makna tetapi juga memiliki resonansi emosional dan spiritual. Melalui kerja inilah bahasa Indonesia dipaksa naik derajat, menemukan kemungkinan-kemungkinan ekspresif di luar pakem sehari-hari, hingga ia dapat berdiri tegak sebagai medium yang layak bagi sebuah kitab suci.
Yang paling mengganggu Jassin ketika membaca sekitar sepuluh terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia adalah bentuk bahasanya yang prosais. Terjemahan-terjemahan itu terasa datar, seolah hanya berfungsi sebagai penjelas isi tanpa memperhatikan denyut estetika teks asal. Bagi Jassin, hal ini wajar, karena, sebagaimana ia katakan, “Yang dipentingkan oleh para penerjemah yang umumnya adalah guru-guru agama, ialah kandungan kitab suci itu.” Namun bagi Jassin, lebih dari sekadar kumpulan makna, Al-Qur’an adalah bangunan bahasa yang amat puitis, dengan irama yang menyalakan daya batin pembacanya. “Sebenarnya, bahasanya [al-Qur’an] sangat puitis,” kata Jassin (Jassin 2000c: 25). Justru di titik inilah ia merasa bahwa terjemahan prosais menghilangkan aura sakral yang berasal dari keindahan bentuk. Maka ia menyebut Bacaan Mulia sebagai upaya “menerjemahkan al-Qur’an secara puitis”, sebuah percobaan untuk memindahkan bukan hanya pesan, tetapi juga nafas musikal dan estetika teks suci ke dalam bahasa Indonesia.
Jassin memandang sakralitas bahasa bersemayam terutama dalam puisi, bukan dalam prosa yang lurus, datar, dan informatif. Ia merasakan kekecewaan yang nyaris pedagogis ketika menjumpai terjemahan-terjemahan Al-Qur’an yang prosais, seakan bahasa wahyu dapat dipindahkan begitu saja tanpa kehalusan bentuk. Baginya, puisi adalah rumah tertinggi bahasa, tempat makna tidak sekadar disampaikan, melainkan juga dibiakkan, yakni makna yang memperkaya nuansa, asosiasi, dan dimensi-dimensi emotif. Dalam ruang itulah ritme, jeda, dan denting antarbaris menjadi penopang rasa sakral. Karena itu, ketika mengerjakan Bacaan Mulia, ia menempatkan enjambemen —pemenggalan baris, yakni peralihan makna yang mengalir dari satu baris ke baris berikutnya— sebagai perangkat penting. Enjambemen baginya bukan ornamen, melainkan cara menghadirkan kembali aliran napas wahyu, suatu gerak yang memungkinkan bahasa Indonesia sebisa mungkin menjaga keindahan bahasa Al-Qur’an tanpa berpura-pura menjadi aslinya.1
Jika masalah terjemahan sebelumnya adalah datarisasi, yakni proses pengubahan bahasa suci menjadi prosa yang datar dan fungsional, maka senjata utama Jassin untuk melawannya adalah enjambemen. Teknik enjambemen yang ia gunakan secara konsisten dalam Bacaan Mulia bukan sekadar permainan baris puisi atau tata letak. Ia adalah sebuah rekayasa struktur dan ritme yang disadari. Dengan memecah frasa di tengah baris, enjambemen menciptakan retasan napas yang meniru alunan wahyu, sekaligus secara efektif memboikot logika prosa yang selama ini mendatar dan mengeringkan teks.2 Bagi Jassin, enjambemen adalah —dalam kata-kata dia sendiri (Husaini 1995: 33)— “tempat untuk mengambil napas, meresapkan isi dari apa yang kita baca.”
Puisi yang dibayangkan Jassin di sini bukan puisi dalam arti umum —bukan sekadar bahasa yang indah atau ritmis— melainkan puisi dalam pengertian sastra modern. Ialah teks yang tersusun dalam larik-larik, dengan pemenggalan sintaksis yang dihitung secara teliti untuk menuntun irama dan makna sekaligus, tentu juga dengan diksi yang dipertimbangkan dengan cermat. Bentuklah yang menjadi kunci, karena bentuk memaksa pikiran bergerak, berhenti, menyelam, lalu bergerak lagi mengikuti aliran baris dan makna, asosiasi, dan lain sebagainya. Dalam kerangka itu, Jassin melihat kemungkinan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dapat disajikan sebagai puisi dalam pengertian sastra, bukan untuk menggubah ulang wahyu, melainkan untuk memperlihatkan dimensi musikal dan strukturalnya dalam medium bahasa Indonesia.
Dalam kerangka itulah Bacaan Mulia menyajikan teks Arab Al-Qur’an dalam bentuk yang dipuisikan: ayat-ayat tidak ditata sebagai prosa, melainkan sebagai larik dan bait, lengkap dengan enjambemen yang dipertimbangkan secara cermat dan tata letak tengah yang simetris di setiap baris, sehingga, kata Jassin (2000b: 64), “lebih indah dipandang mata.” Bentuk visual ini menjadi pernyataan estetik sekaligus hermeneutik, karena Jassin ingin pembaca merasakan ritme batin ayat melalui tata susunnya secara audiovisual.
Keyakinan ini tidak hanya mendasari terjemahannya, Bacaan Mulia, tetapi juga mendorongnya pada eksperimen tipografi yang lebih radikal dalam Al-Qur’an Berwajah Puisi. Yang terakhir ini adalah upaya Jassin menyusun kembali teks Arab Al-Qur’an sendiri sebagai larik-larik dan bait-bait sehingga secara visual ia tampil sebagai puisi. Bentuk itu menjadi pintu masuk bagi pengalaman membaca yang mencoba mendekati ritme keagungan wahyu —setidaknya pada permukaan yang terlihat mata. Dengan demikian, ambisi Jassin tidak berhenti pada penerjemahan. Dia ingin mereformasi cara membaca Al-Qur’an itu sendiri, sebuah langkah yang —seperti akan terlihat— justru mengundang polemik paling sengit dan memperjelas batas teologis yang tak bisa ia langkahi.3
Jassin sendiri menegaskan bahwa ia membaca Al-Qur’an dengan suara keras, karena hanya melalui suara ia bisa memasuki gelombang ritmenya. Ia selalu kembali pada suara neneknya, pada getaran yang tidak dijelaskan dengan teori tetapi dirasakan sebagai aliran. Bagi Jassin, ritme adalah kunci sakralitas: wahyu hadir terlebih dahulu sebagai bunyi sebelum menjadi makna. Maka, dalam Bacaan Mulia, yang ia kejar bukan hanya padanan kata, tetapi gema ritmis yang membuat bahasa Indonesia bergetar bersama teks asal. Dan kelak dalam Al-Qur’an Berwajah Puisi, yang ia kejar bukan akurasi teks Al-Qur’an, melainkan estetika simetris dan enjambemen sebagai keindahan visual, sintaksis, dan semantik sekaligus.

Sebuah pengalaman membaca yang luar biasa. Semakin banyak membaca, semakin luas kekayaan pengetahuan yang ada. Analisis dan penjelasan yang luar biasa dalam memahami model penerjemahan dengan tambahan dari kesenian. Semoga dapat membaca karya orisinil dari H.B Jassin. Tabik!