Lelaki yang Menunggu Mati di Malam Tahun Baru

Menjelang tahun baru Mbah Dibyo nampak bersih-bersih rumahnya, seakan ada tamu agung yang akan datang. Debu-debu yang sudah lama menyatu tak lagi dibiarkan menempel di kursi, meja, lantai hingga dinding rumahnya, dia enyahkan seakan setiap butirnya adalah nista. Sampah daun jambu yang biasa berserakan dia bakar, rumput liar pun dia enyahkan hingga akarnya. Bohlam yang sudah lama mati dan yang redup pun digantinya. Semua itu dilakukan untuk menyambut kedatangan yang dia nantikan selama ini, yakni kematian.

Dia begitu yakin pada mimpinya, kalau dia akan mati pada malam tahun baru. Dalam mimpimya itu malaikat datang, tanpa jubah tanpa sayap, malah mirip sales bank yang lagi menawarkan pinjaman pada guru honorer yang baru diangkat PPPK. Mbah Dibyo terbuai, terhanyut tutur kata yang lembut, tak seperti gambaran selama ini, kalau malaikat pencabut nyawa itu seram, dingin dan bengis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Saya tahu Mbah Dibyo sudah lama menunggu saya datang, dan saya juga tahu kalau menunggu itu membosankan. Tapi mau bagaimana lagi, ketetapan Allah itu pasti, tak bisa dipercepat atau diperlambat!” ungkap malaikat dengan lembut.

“Oh ya tak apa-apa, saya ngerti, tak usah diambil hati, sampean kan kerja harus sesuai prosedur, sesuai data yang diberikan, memangnya manusia yang suka mengubah aturan sesuai kepentingan he he he he…!” Mbah Dibyo terkekeh hingga batuk menghentikannya.

“Wah, jangan ajak saya ngobrol ngelantur Mbah. Tugas saya banyak. Hari ini saja saya dapat tugas menjemput seratus dua puluh satu nyawa di ibu kota. Makanya saya harus buru-buru, tak boleh meleset waktunya, apalagi salah orangnya!”

“Berat juga ya jadi malaikat, saya kira santai!”

Lalu malaikat itu pun lenyap, menyatu dengan udara, hanya meninggalkan aroma wangi yang masih tercium ketika Mbah Dibyo terjaga dari tidurnya.

****

Pagi harinya Mbah Dibyo langsung melapor ke Pak RT. Seperti biasa, Pak RT dengan sigap melayani warganya. Sebelum didengar laporannya, dia langsung membuka buku catatan laporan dan pulpen yang dipegangnya siap menuliskannya.

“Mau lapor apa, Mbah?”

“Saya mau lapor, kalau saya akan mati di malam tahun baru!”

Pak RT terdiam. Pulpen yang dipegangnya ditaruhnya di atas buku yang baru saja ditutup. Tapi tak lama kemudian, pulpen itu kembali diambilnya dan buku catatan laporan warga kembali dibukanya. Dia ingat sumpah jabatan seorang RT, kalau seaneh apapun laporan warga, harus dicatatnya.

“Penyebab matinya apa Mbah?”

“Malaikat.”

“Baik, Mbah, saya catat. Tapi soal koordinasi dengan penggali kubur dan pak ustaz saya akan lakukan pada hari H, dikuburkannya pada pagi hari, kan?”

“Agak siangan saja Pak, nunggu anak-anak saya datang, biar yang gali kubur juga santai, tapi kalau boleh saya dikuburnya di dekat kuburannya Si Narti ya Pak!”

“Loh! Kok nggak di samping kuburannya istri Mbah!”

Mbah Dibyo tersenyum, “Narti itu mantan pacar, Pak, di alam sana biar giliran dia yang dekat saya!”

Pak RT menghela napas sambil geleng-geleng kepala, baru kali ini dia mencatat jadwal kematian warganya. Lalu tak lama kemudian Mbah Dibyo pun pamit, meninggalkan Pak RT yang masih duduk sambil menatap Mbah Dibyo hingga hilang dari penglihatannya.

Sebelum sampai rumahnya, Mbah Dibyo mampir ke tetangga-tetangganya. Dia mohon pamit sekaligus meminta maaf. Tetangga-tetangganya terlihat memaklumi, tersenyum dan sedikit berbasa-basi, sama-sama minta maaf dan berharap Mbah Dibyo masih panjang umur. Namun setelah Mbah Dibyo tidak ada, mereka ada yang tertawa, geleng-geleng kepala, sharing di facebook dan group Whatsaap dengan emoji ngakak.

Setelah sampai di rumah, sambil selonjoran di kursi rotan dia menghubungi anak-anaknya. Anak sulungnya ada di Jakarta. Saat mendengar kabar kalau bapaknya mau mati, dia langsung tertawa, menganggap bapaknya sedang bercanda.

“Bapak ini serius loh, Wardi!”

Anaknya langsung terdiam. Dia menyadari kalau bapaknya hanya butuh perhatian. “Iya, Pak, nanti Wardi pulang tapi tak bawa anak-anak dan istri, mereka sudah ada rencana mau nonton konser merayakan tahun baru!”

“Iya tak apa-apa, datang juga ya percuma toh, bapak sudah jadi mayat, jadi tak bisa bercanda sama cucu, cukup kamu saja, malu nanti sama tetangga, masa bapaknya mati anaknya tak peduli!”

“Iya, Pak, siap!”

Mbah Dibyo lega, anaknya yang pertama mau meluangkan waktunya sebagai petinggi yang sibuk di perusahaan kelapa sawit. Kemudian dia langsung menghubungi anak bungsunya yang menjadi guru sekolah dasar di Indramayu.

“Iya saya datang, Pak, tapi sendiri. Kalau bareng anak istri, tak ada biaya buat ongkos, maklum masih honorer, Pak. Doakan ya pak biar bisa diangkat P3K!”

“Hah! Diangkat kotak obat?”

“Bukan l, Pak! Diangkat jadi pegawai negeri!”

“Ohh ya, baik-baik, tapi kalau sudah diangkat jangan malas ya, ngajar yang benar!”

“Nggih, Pak, siap!”

****

Selepas Isya, Mbah Dibyo sudah duduk bersila di sudut masjid. Sambil menunggu malaikat datang, dia berzikir sebisanya.  Hanya menyebut “Allah” itu saja kalimat zikir yang dia tahu. Bibirnya bergerak pelan, kadang diselingi helaan napas. Terdengarnya pun tidak jelas, lebih mirip orang bergumam. Deru napasnya saja yang terdengar jelas pecahkan sepi, yang entah pada helaan ke berapa napasnya akan berhenti.

Masjid itu sudah sepi, lampunya pun sebagian dimatikan, hanya remang yang menyinari Mbah Dibyo. Dia memang sengaja datang di waktu sepi dan duduk dalam keremangan, agar tidak ada orang yang melihat dan banyak tanya atau malah tidak suka dia mati di masjid, karena tempat suci jadi tempat matinya lelaki renta yang justru jarang ke masjid.

Mbah Dibyo hanya ingin mati dalam keheningan, dalam kepasrahan, dalam keadaan berzikir yang jarang dia lakukan selama ini. Di akhir hidupnya dia berjuang melakukannya, terasa berat tapi tetap berusaha menuntaskannya. Meski terbata, meski tubuh rentanya tak kuat duduk bersila begitu lama, kadang kakinya selonjoran, kadang tubuhnya berbaring mengurangi pegal pada punggungnya yang rapuh, namun mulutnya tetap komat-kamit melafazkan “Allah”

Hingga dalam kantuk yang membuat matanya bekali-kali terkatup, dia berjuang untuk terjaga, hingga di saat kepalanya tertunduk, pundaknya terasa ada yang memegang.

“Ya malaikat, akhirnya datang juga. Ambil perlahan nyawa saya, jangan grasa-grusu, saya sudah ikhlas!” gumam Mbah Dibyo.

Kini pundaknya terasa ditepuk-tepuk.

“Metodenya begini toh, ngeluarin nyawa. Ya Allah hamba kembali padaMu!”

Tepukan di pundak terasa semakin keras, Mbah Dibyo pun memejamkan mata sambil mulutnya menyebut “Allah” dengan cepat.

“Mbah, ini saya, Kasim!”

Mbah Dibyo tersentak dan perlahan menoleh ke sumber suara, “Loh kok malah kamu yang datang!”

“Ya Mbah, saya kan merbot masjid, sebentar lagi kan mau Subuh, ya saya ke mesjidlah! Mbah kenapa ketiduran di sini?”

“Saya nunggu malaikat yang mau ngambil nyawa saya, Kasim!”

“Loh, malaikatnya sudah jemput Pak RT, Mbah!”

“Loh, loh kok bisa!”

“Ya bisalah Mbah, Pak RT-kan manusia, bisa mati juga!”

“Loh malaikatnya janji mau jemput saya, kok malah Pak RT, dia kan masih muda, sehat, tak ada tanda-tanda mau mati!”

“Ya namanya mati itu tak pandang umur, bisa muda, bisa tua, bisa terlihat sakit, bisa juga yang nampak sehat!”

“Ini kok aneh ya!”

“Ya aneh sih, wong Pak RT itu tadi katanya malam kan ke rumah Mbah, mau ngantar alamanak baru yang dibagikan Pak Dewo yang angggota dewan itu. Mbahnya tak ada, dia pulang eh sampai rumah dia meninggal, meninggalnya lagi duduk pas mau buka buku catatan laporan warga.”

Mbah Dibyo melongo dan Kasim meninggalkannya pergi ke ruangan sound system lalu terdengarlah suaranya lewat pengeras suara yang dipasang menghadap segala penjuru.

“Inalilahi wa inalillahi ro jiun, telah meninggal dunia Bapak Erte…”

Mbah Dibyo masih saja diam melongo hingga suara ponsel di saku celananya mengagetkannya. Diambilnya dan dilihatnya, ternyata anak pertamanya menelepon.

“Pak, jadi nggak, ini Wardi baru mau berangkat!”

Mbah Dibyo hanya diam dan menghela napas dalam

“Pak, Bapak, Hallooo Pak….”

Mbah Dibyo langsung menekan tombol hingga ponselnya kembali sepi.

***

Multi-Page

Tinggalkan Balasan