Lesbumi dan Revitalisasi Seni Budaya Pesantren*

Seni wayang, mocopat, dan karya sastra keislaman menjadi sarana dakwah efektif. Wayang diislamisasi melalui deformasi bentuk dan perubahan cerita; mocopat menjadi media tembang sufistik yang mendidik jiwa; dan serat serta hikayat menjadi media tulis untuk menanamkan nilai spiritual. Pesantren menjadi rumah bagi seluruh aktivitas kreatif itu: laboratorium budaya yang menanamkan tauhid, tasawuf, dan ihsan melalui keindahan.

Pengembangan Seni Budaya Pesantren

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Upaya pengembangan seni budaya pesantren terus dilanjutkan oleh para ulama dan juru dakwah Islam. Setelah era Walisongo, muncul pusat-pusat pengembangan seni budaya berbasis pesantren di berbagai wilayah Nusantara, mulai dari Aceh hingga Banjar. Karya sastra pesantren seperti Hikayat Syekh Jalaluddin, Hikayat Malem Dagang, Gurindam Dua Belas, Serat Wedhatama, hingga Serat Centhini menggambarkan integrasi antara ajaran Islam, nilai tasawuf, dan keindahan lokal.

Sastra dan seni pesantren juga menjadi wahana dakwah kultural. Ulama-ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Syekh Nawawi al-Bantani, dan Syekh Arsyad al-Banjari menulis karya yang memadukan rasionalitas keilmuan dan kekayaan rasa estetika. Dari tradisi inilah pesantren tampil sebagai pusat penciptaan seni yang religius dan humanis.

Asrul Sani dan Lesbumi: Jembatan antara Agama, Seni, dan Pesantren

Dalam perjalanan kebudayaan Islam modern Indonesia, muncul tokoh penting bernama Asrul Sani (1926–2004)—sastrawan, dramawan, dan sineas—yang berperan mengartikulasikan hubungan antara agama dan seni melalui wadah Lesbumi NU (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) yang berdiri pada 1962.

Lesbumi lahir di tengah pertarungan ideologi kebudayaan antara Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berpihak pada komunisme dan Manikebu (Manifes Kebudayaan) yang berhaluan humanistik-liberal. Dalam pusaran itu, Asrul Sani tidak memilih salah satu, melainkan menawarkan jalan tengah: seni yang berjiwa religius dan bersumber pada spiritualitas Islam, namun terbuka terhadap modernitas.

Bagi Asrul Sani, Lesbumi bukan sekadar lembaga kesenian Islam, melainkan gerakan spiritual yang menjembatani agama dan kebudayaan. Ia menilai seni sebagai bentuk tafakur estetis—perenungan terhadap ciptaan Tuhan dan hakikat kemanusiaan. Seni yang sejati, menurutnya, tidak dapat dipisahkan dari nilai moral dan tanggung jawab sosial.

Dalam pandangan itu, seni pesantren menjadi contoh ideal: ia lahir dari spiritualitas, berakar pada tradisi lokal, dan berfungsi sebagai dakwah. Seni semacam ini tidak bersifat menggurui, tetapi menyentuh hati dan menghaluskan budi.

Sebagai seniman modern yang terdidik di Barat tetapi berakar di Timur, Asrul Sani mendorong lahirnya seni Islam modern yang berjiwa pesantren—yakni seni yang tidak berhenti pada simbolisme formal (peci, sorban, lafaz Arab), melainkan menghadirkan nilai kejujuran, kasih sayang, dan kemanusiaan.

Dalam karya film dan naskahnya, seperti Titian Serambut Dibelah Tujuh dan Naga Bonar, Asrul menampilkan religiusitas rakyat yang alami, penuh humor, dan sarat nilai moral tanpa harus meminjam simbol keagamaan secara literal. Inilah esensi seni Islami menurut Asrul Sani: seni yang memanusiakan manusia dan menumbuhkan kesadaran Ilahiah melalui keindahan.

Melalui Lesbumi, Asrul Sani bersama para kiai NU berupaya menghidupkan kembali warisan Walisongo—yakni menjadikan seni dan budaya sebagai sarana dakwah yang lembut, santun, dan humanistik.

Tinggalkan Balasan