Lesbumi dan Revitalisasi Seni Budaya Pesantren*

Tiga gagasan pokok Asrul Sani yang relevan bagi dunia pesantren kini adalah: (1) Seni sebagai ekspresi tauhid, bukan sekadar hiburan; (2) Seni sebagai dakwah kultural, bukan alat politik; dan (3) Seni sebagai ruang dialog antarperadaban, agar Islam hadir sebagai kekuatan moral dan budaya yang ramah terhadap kemajuan zaman.

Dengan kesadaran itu, Lesbumi menjadi jembatan antara pesantren dan dunia modern—menghubungkan nilai spiritual Islam dengan kreativitas manusia yang terus berkembang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kembali ke Khitah Kebudayaan Pesantren: Strategi Revitalisasi

Mengacu pada proses sejarah di atas, jelas bahwa khitah pesantren adalah pusat pendidikan Islam dan pengembangan seni budaya. Seni budaya yang dirawat dan dikembangkan pesantren tidak hanya yang bernuansa Arab, tetapi juga berbagai kesenian tradisi lokal.

Gerakan kembali ke khitah kebudayaan pesantren dapat dilakukan melalui revitalisasi seni—membangkitkan kembali seni budaya bercorak keislaman, khususnya seni tradisi yang berakar kuat di pesantren. Seni memiliki fungsi ganda: bisa merusak, tetapi juga memperbaiki masyarakat. Oleh karena itu, seni perlu diarahkan menjadi sarana dakwah yang memuliakan manusia, sebagaimana dilakukan oleh para wali.

Strategi ini juga menuntut peningkatan sense of art di kalangan pesantren agar lahir karya-karya yang estetik sekaligus etis. Seni yang baik tidak hanya menarik, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan dan keagamaan.

Dalam konteks kekinian, hal ini dapat dilihat dari karya-karya musisi seperti Maher Zain, film religius yang berkualitas, atau kreativitas seniman pesantren seperti Ki Enthus Susmono dan Al-Zastrouw dengan Wayang Sinfoni. Semua itu adalah bentuk aktualisasi seni dakwah yang berpijak pada nilai lokal dan spiritualitas Islam.

Penutup

Jika Surat Kepercayaan Gelanggang (1950) menandai lahirnya kesadaran intelektual Angkatan ’45 untuk menafsirkan kemerdekaan manusia, maka Lesbumi (1962) menandai lahirnya kesadaran spiritual kaum Muslim Indonesia untuk menafsirkan kembali kebudayaan dalam cahaya tauhid.

Asrul Sani, yang berdiri di antara dua gelanggang—modernitas dan spiritualitas pesantren—menegaskan bahwa Islam dan seni tidak perlu saling berhadapan. Seni, bagi Asrul, bukan hanya untuk keindahan, tetapi untuk memanusiakan manusia; bukan sekadar estetika, tetapi juga etika dan hikmah.

*Artikel ini merupakan bagian dari buku acara Semaan Puisi dan Haul Sastrawan 2025 yang dilaksanakan di Makara Art Center Universitas Indonesia, Selasa (18/10/2025). Berisi enam tulisan yang juga diterbitkan di laman duniasantri.co secara bersambungan. Keenam naskah dalam buku ini adalah “Asrul Sani: Jalan Wasatiah Kebudayaan Indonesia” oleh Jamal D. Rahman; “Surat Semaan Puisi: dari Gelanggang ke Adakopi” oleh Mahwi Air Tawar; “Semaan Puisi: Melarikan dari Media Sosial, Kok Malah Ngurusi Mayat Penyair?” oleh Angin Kamajaya; “Lesbumi dan Revitalisasi Seni Budaya Pesantren” oleh Ngatawi Al-Zastrouw; “Kreator Jalan Ketiga yang Terlupakan: Refleksi Identitas Intelektual Asrul Sani” oleh Andy Lesmana; dan “Yang Mengusik Takdir” oleh Mukhlisin Ashar.

Tinggalkan Balasan