SAJAK SEDERHANA BUAT ALMARHUM LORA DHOFIR
Kamis pagi itu, namamu dalam urutan waktu, tiba di batas tak terlintas, mencipta kepergian yang sesungguhnya adalah kehidupan.

Kau sebagai daun yang jatuh jadi duka hutan, jari ranting lekat di dada pohon yang luka, mengiringimu dengan sebenar-benarnya air mata.
Kau sebagai hujan yang kembali ke bumi, untuk menghidupi jutaan akar, guna membuat kembang mekar.
Kau sebagai perahu yang kembali ke laut, menyibak rahasia pelayaran suci ke pulau paling putih.
—dan aku di sini, biarkan jadi patung yang mengenang segala tentang kau dengan fatihah yang menancap di datar dada.
Sumenep, 4 November 2021.
REPORTASE SEORANG PENYADAP LAHANG
aku lelaki Madura, menggarami hidup dengan keringat. tubuh sederhana ini bukan alasan takut bertemu matahari. di tulang yang diandar pagi ke siku sepi sejak masih bayi—telah tertulis azimat barokati dari banyak kiai.
