maka perkenankan
aku jadi penyadap lahang
berkekasih pohon siwalan
menantang hidup di ketinggian
saat langit kuning labu, di pinggang terikat pundi kayu, sesak berisi laru. kala itu, kemarau merajah tanah dengan jarum angin dari timur. daunan dalam peluk cuaca kering, merentangkan kisah ranaunya ke rusuk bayang-bayang samar; seperca kisah dua burung trucuk purna disiulkan sepanjang hari ke pingang-pinggang lembah—bangkitlah dusunku dengan daging pisang dan tulang kelapa. jauhkan leluhur dari penyakit alpa. kenang, dalam badang pirang berbandang angan.

aku pun mengambil
timba daun siwalan dan salampar*
bergegas ke ladang
atas nama memberi kembang
bagi kehidupan.
nyatanya matahari
terbit sendiri dari gua hati
setelah semua diniati.
lalu pohon siwalan itu kupanjat perlahan dengan getar bibir melafal basmalah. dari takik ke takik, daki hidup dimulai. suara gesek salampar menyeberangi banjar pohon sebagai salam tembang orang pedesaan yang hendak mencari bintang di telapak tangan. setiba di puncak, gelantung sanggul mayang membisikkan hidup yang lapang. sekali kukerat ujungnya, tetes lahang itu melukis wajahku ke dasar lambung timba yang cekung sangku. aku memandangnya dengan senyum rekah bunga
bahwa mata pencaharian ini
adalah cara orang dusun bertemu matahari
memperkenalkan diri sebagai larik puisi suci
yang ingin terpatri di di jantung tanah sendiri
Sumenep, 2021.
*Alat pegangan tangan saat memanjat pohon, bentuknya bundar, lentur, dan kuat.
ilustrasi:iStock.
