Lingkaran Setan Kemiskinan Kita 

Kita menjadi orang miskin karena terlahir dari dan diasuh oleh keluarga-keluarga miskin. Dan, kelak, anak-anak kita juga akan membentuk keluarga-keluarga miskin yang baru, seperti yang juga akan terjadi pada cucu-cucu kita nanti. Begitulah cara kerja kemiskinan beranak pinak. Mungkin sampai akhir zaman.

Itu bukan teori yang mendahului takdir. Juga bukan teori yang berlaku absolut. Tapi sejumlah hasil penelitian mengungkap hal tersebut. Dan apa yang terjadi di sekeliling kita, kalau kita telaten mengamati, memang begitu adanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mari kita mulai dari bagaimana penelitian membuktikan hal itu.

Yang Miskin, yang Banyak Anak

Berdasarkan hasil penelitian di banyak negara, tingkat kelahiran di negara-negara miskin atau terbelakang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan di negara-negara kayu atau maju. Ekuivalen, keluarga-keluarga miskin cenderung memiliki lebih banyak anak ketimbang keluarga-keluarga kaya.

Hal tersebut terjadi, salah satunya, disebabkan perbedaan konsep dalam memosisikan anak. Di negara-negara miskin, atau pada keluarga-keluarga miskin, anak dianggap sebagai aset atau fakktor produksi. Bahasa kasarnya, anak adalah tenaga kerja, atau pekerja. Asumsinya, dengan memiliki banyak anak, keluarga-keluarga miskin akan memiliki banyak tenaga kerja. Dus, ketika anak-anak itu bekerja, mereka akan bisa menopang ekonomi keluarga.

Tapi yang terjadi justru jauh panggang dari api. Keluarga-keluarga tersebut akan tetap miskin. Banyak anak tidak mengubah kondisi perekonomian mereka. Ungkapan “banyak anak banyak rezeki” tak terbukti. Bahkan, seringkali justru menambah rumit situasi. Sebabnya, anak-anak yang dilahirkan dari keluarga miskin nyaris tidak pernah memperoleh asupan gizi yang memadai. Mereka juga tidak memiliki akses terhadap pendidikan yang baik. Mereka juga tumbuh dan kembang di lingkungan yang buruk. Dengan tingkat pendidikan yang buruk dan keterampilan yang ala kadarnya, mereka cenderung tidak bisa berkembang menjadi tenaga kerja yang bisa mengubah keadaan ekonomi keluarga.

Fenomena itulah yang kemudian sering disebut sebagai lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty).

Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Di negeri ini, keluarga-keluarga miskin, dengan banyak anak, juga cenderung melahirkan keluarga-keluarga miskin baru. Kemiskinan serupa takdir turun-temurun. Salah satunya dibuktikan oleh hasil penelitian yang dilakukan SMERU Institute. Penelitian dilakukan dua kali, pada 2014 dan 2019.

Pada penelitian pertama, data diambil dari kehidupan rumah tangga di Indonesia atau yang disebut dengan Indonesian Family Life Survey (IFLS). Dalam penelitian ini, peneliti mengolah data dari 1.522 anak dan membandingkan pendapatan mereka pada tahun 2000 ketika mereka berusaha 8-17 tahun dengan pendapatan mereka pada 2014, ketika mereka menginjak usia 22-31 tahun atau dalam usia produktif. Hasil penelitian ini juga telah dipublikasikan di makalah internasional Asian Development Bank (ADB).

Berdasarkan penelitian ini, terungkap bahwa pendapatan anak-anak miskin setelah dewasa 87% lebih rendah dibanding mereka yang sejak anak-anak tidak tinggal di keluarga miskin. Bahkan, meskipun saat sekolah anak-anak dari keluarga miskin terbilang lebih pandai, misalnya, ketika sudah dewasa penghasilan mereka akan tetap di bawah anak-anak dari keluarga kaya. Dengan gap pendapatan yang jomplang tersebut, anak-anak dari keluarga miskin hanya memiliki peluang yang sangat terbatas untuk mobilitas ekonomi. Karena itu, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), menyebut sekitar 64,46 persen anak dari keluarga miskin akan tetap miskin (tempo.co, 14 Oktober 2025).

Data tersebut menegaskan, bahwa hanya 13 persen anak-anak dari keluarga miskin yang kelak, ketika berada di usia produktif, pendapatannya bisa menyamai anak-anak dari keluarga kaya (ingat, itu baru dari sisi pendapatan, bukan hal lain seperti warisan, akses sosial-ekonomi, dan sebagainya). Data lain menegaskan, hampir 65 persen anak-anak dari keluarga miskin akan melahirkan keluarga-keluarga miskin baru. Hanya 35 persen yang memiliki peluang untuk berubah menjadi keluarga kaya. Dengan tingkat kelahiran yang dua kali lebih tinggi, maka jumlah lahirnya keluarga-keluarga miskin baru akan lebih banyak dibandingkan munculnya keluarga-keluarga kaya baru. Dengan demikian, seiring pertambahan penduduk, jumlah keluarga miskin akan terus bertambah lebih banyak ketimbang keluarga kaya.

Riset yang dilakukan SMERU Institute juga berusaha mengungkap sebab-sebab kenapa keluarga miskin cenderung mewariskan kemiskinan atau melahirkan keluarga miskin baru. Hasilnya juga tak beda jauh dari fenomena yang terjadi di berbagi negara. Mereka, anak-anak dari keluarga miskin ini, sedari kecil tak memperoleh asupan gizi yang baik, tentu saja karena belitan kemiskinan itu sendiri. Di saat bersamaan, mereka juga memiliki keterbatasan untuk memperoleh layanan kesehatan yang memadai. Ini berbeda dari anak-anak keluarga kaya yang asupan gizinya terpenuhi dengan baik dengan akses layanan kesehatan yang memadai.

Selain itu, angka putus sekolah anak-anak dari keluarga miskin juga cukup tinggi. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas 2024) mengungkapkan, 86,34 persen anak Indonesia mengeyam pendidikan hingga ke tingkat SMA. Sebanyak 32,32 persen putus sekolah, dan dari yang putus sekolah itu 76 persennya karena alasan ekonomi.

Jika ditelisik lebih lebih dalam lagi, anak-anak dari keluarga miskin itu, ketika masih sekolah, pun kondisinya juga serba terbatas akan fasilitas. Mereka hanya bisa sekolah di sekolah-sekolah yang kualitas dan fasilitas belajarnya lebih rendah dibandingkan dengan sekolahnya anak-anak dari keluarga kaya. Berdasarkan temuan riset SMERU Institute, itulah salah satu yang menyebabkan anak-anak dari keluarga miskin tak memiliki daya saing seperti yang dimiliki anak-anak dari keluarga kaya. Karena itu mereka tak memiliki kemampuan setara dengan anak-anak dari keluarga kaya untuk mobilitas ekonomi. Mereka akan tetap miskin dan, kelak, juga akan melahirkan keluarga-keluarga miskin baru.

Tanya, Siapa Bapaknya

Apakah hasil-hasil penelitian itu tampak nyata di sekitar kehidupan kita? Cobalah mulai memeriksa, lalu membanding-bandingkannya.

Saya akan menceritakan apa yang saya alami, saya saksikan, atau saya dengarkan. Artinya, saya memosisikan diri sebagai seorang saksi. Saya akan memulai dari telisikan pada teman atau kemudian kenalan. Ketika ditelisik, teman-teman atau kemudian kenalan saya yang tergolong sukses dan menjadi keluarga kaya, mayoritas memang lahir dari keluarga-keluarga kaya atau setidaknya pejabat-pejabat yang berkecukupan. Sangat jarang ditemukan kasus yang sebaliknya. Dan itu hampir bisa dijadikan dalil. Maka, setiap kali punya teman baru dengan kategori sukses dan merupakan keluarga kaya, tanyakanlah siapa bapaknya atau siapa keluarganya. Jawabannya pasti mereka bukan orang sembarangan. Sangat jarang ditemukan yang sebaliknya.

Lalu mari kita periksa sekolah-sekolah yang ada di lingkungan terdekat kita, dan bisa diperluas ke tempat-tempat lain. Tetangga-tetangga kita yang miskin biasanya anaknya lebih dari dua. Lalu mereka dimasukkan ke sekolah-sekolah yang “apa adanya” —saya tak tega menyebutnya sekolah “butut”. Paling mentok, anak-anak tetangga kita yang miskin disekolahkan di sekolah-sekolah negeri, dan hari ini tidak ada lagi sekolah negeri favorit. Kalau tidak kebagian kuota di sekolah negeri, mereka dimasukkan ke sekolah-sekolah swasta murah yang biasanya kualitasnya di bawah sekolah negeri.

Lalu mari kita membandingkan dengan tetangga-tetangga kita yang kaya. Anak-anak mereka cenderung dimasukkan ke sekolah-sekolah swasta ternama, berkualitas, dan biasanya mahal biayanya. Saat ini, keluarga-keluarga kaya cenderung menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah swasta kelas menengah atas. Sekolah-sekolah swasta yang berkualitas dan bergensi itu, mulai dari SD hingga SMA, terbilang mahal —tentu untuk ukuran keluarga miskin. Di wilayah Jabodetabek, untuk yang kelas menengah, uang masuknya di kisaran Rp 20 juta sampai Rp 40 juta. Uang SPP per bulan di kisaran Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta. Di sekolah swasta yang levelnya lebih tinggi, tentu biayanya lebih mahal lagi. Bahkan, yang berlabel “internasional” uang masuknya ada yang di atas Rp 100 juta. Belum biaya bulanannya.

Di sekolah-sekolah swasta yang mahal itulah anak-anak dari keluarga-keluarga kaya berkumpul untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, kualitas belajar mengajar yang lebih baik, dengan berbagai fasilitas yang lebih memadai. Plus, akses membangun jaringan di antara sesama keluarga kaya —yang nantinya menjadi salah dari faktor penting untuk membangun keluarga kaya baru. Sementara, bagi anak-anak keluarga miskin, untuk bisa memiliki akses pendidikan dan memperoleh layanan kesehatan seperti anak-anak keluarga kaya rasanya seperti memerlukan adanya keajaiban.

Dengan proses pertumbuhan dan perkembangan yang diametral tersebut, siklus yang kaya akan tetap (dan mungkin makin) kaya dan yang miskin akan tetap (dan mungkin makin) miskin menjadi ajek. Jika terjadi “persilangan alur”, anak dari keluarga kaya menjadi keluarga miskin dan anak dari keluarga miskin berhasil menjadi keluarga kaya, persentasenya akan sangat kecil. Dan secara agregat, jumlah pertambahannya tetap lebih tinggi pada keluarga miskin’. Negara boleh makin kaya, tapi tetap mereka yang menguasai dan memiliki akses terhadap sumber-sumber kekayaan. Itulah kenapa, dapat dipahami jika 1 persen penduduk dunia menguasa 90 persen kekayaan dunia; 1 persen orang kaya Indonesia menguasai lebih dari 50 persen kekayaan nasional. Karena, siklusnya yang kaya makin kaya dan yang miskin tetap (atau makin) miskin.

Keluarga Asuh+Inklusi

Sudah banyak teori kemiskinan yang coba digunakan untuk memutus lingkaran setan kemiskinan tersebut. Sebut saja teori kemiskinan kultural, struktural, biologis, dan jebakan siklus ekonomi. Tapi tetap saja strukturnya seperti itu. Artinya, bisa dibilang teori-teori pengentasan kemiskinan yang selama ini berkembang, plus kebijakan dan program dari berbagai pemerintahan, tidak bekerja dengan baik alias gagal. Jika tidak gagal, pasti sudah terjadi mobilitas ekonomi yang masif dari keluarga-keluarga miskin.

Mungkinkah lingakaran setan kemiskinan kita itu bisa diputus, diurai? Saya tak punya kompetensi untuk menjawab pertanyaan itu. Saya hanya akan berandai-andai, yang mungkin akan terlihat utopis atau naif: Andai keluarga-keluarga kaya itu menjadi keluarga asuh, plus keluarga inklusi, bagi anak-anak dari keluarga miskin, mungkin keadaan akan lebih baik. Mungkin sudah banyak keluarga kaya menjadi keluarga asuh bagi anak-anak dari keluarga miskin, tapi belum tentu ia sebagai keluarga inklusi, yang menerima dan memerlakukan anak dari keluarga miskin laiknya anak sendiri. Masuk ke dalam sebaga bagian inti, dan menjadi bagian dari jejaring keluarga kaya.

Sebab, anak-anak dari keluarga miskin itu tak sekadar membutuhkan uluran tangan yang bersifat charity untuk meringankan beban biaya pendidikan dan kesehatan mereka, misalnya. Pada saatnya, mereka juga membutuhkan askses pada sumber-sumber ekonomi, yang itu hanya bisa diperoleh jika menjadi bagian dari jejaring keluarga-keluarga kaya. Dalam istilah lain, mereka juga memerlukan modal sosial dalam pengertian Pierre Bourdieu.

Mungkin sudah banyak keluarga-keluarga kaya yang berbaik hati membantu biaya sekolah anak-anak dari keluarga miskin bahkan sampai perguruan tinggi. Tapi, seperti terungkap dari penelitian yang dirujuk di awal tulisan ini, hasil akhirnya akan tetap berbeda. Pendapatan mereka ketika di dunia kerja akan 87% lebih rendah dibanding anak-anak dari keluarga kaya. Salah satu sebabnya, meskipun sudah lulus sekolah, anak-anak dari keluarga miskin ini tidak memiliki modal ekonomi dan modal sosial seperti yang dikuasai anak-anak dari keluarga kaya. Akan berbeda cerita jika ada keluarga kaya yang menjadi keluarga asuh yang sekaligus inklusi bagi anak dari keluarga miskin. Dengan diberi “status” sebagai bagian dari keluarga, anak-anak dari keluarga miskin itu menjadi bagian dari jejaring keluarga-keluarga kaya, yang merupakan modal sosial sangat penting untuk mobilitas ekonomi.

Tapi pengandain tersebut hanya mungkin terjadi jika orang-orang kaya sudah merasa cukup dengan kekayaannya, dan tak hendak dihabiskan untuk diri keluarganya sendiri, yang dalam bahasa agama disebut qanaah.

Tinggalkan Balasan