Lingkaran Setan Kemiskinan Kita 

Pada penelitian pertama, data diambil dari kehidupan rumah tangga di Indonesia atau yang disebut dengan Indonesian Family Life Survey (IFLS). Dalam penelitian ini, peneliti mengolah data dari 1.522 anak dan membandingkan pendapatan mereka pada tahun 2000 ketika mereka berusaha 8-17 tahun dengan pendapatan mereka pada 2014, ketika mereka menginjak usia 22-31 tahun atau dalam usia produktif. Hasil penelitian ini juga telah dipublikasikan di makalah internasional Asian Development Bank (ADB).

Berdasarkan penelitian ini, terungkap bahwa pendapatan anak-anak miskin setelah dewasa 87% lebih rendah dibanding mereka yang sejak anak-anak tidak tinggal di keluarga miskin. Bahkan, meskipun saat sekolah anak-anak dari keluarga miskin terbilang lebih pandai, misalnya, ketika sudah dewasa penghasilan mereka akan tetap di bawah anak-anak dari keluarga kaya. Dengan gap pendapatan yang jomplang tersebut, anak-anak dari keluarga miskin hanya memiliki peluang yang sangat terbatas untuk mobilitas ekonomi. Karena itu, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), menyebut sekitar 64,46 persen anak dari keluarga miskin akan tetap miskin (tempo.co, 14 Oktober 2025).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Data tersebut menegaskan, bahwa hanya 13 persen anak-anak dari keluarga miskin yang kelak, ketika berada di usia produktif, pendapatannya bisa menyamai anak-anak dari keluarga kaya (ingat, itu baru dari sisi pendapatan, bukan hal lain seperti warisan, akses sosial-ekonomi, dan sebagainya). Data lain menegaskan, hampir 65 persen anak-anak dari keluarga miskin akan melahirkan keluarga-keluarga miskin baru. Hanya 35 persen yang memiliki peluang untuk berubah menjadi keluarga kaya. Dengan tingkat kelahiran yang dua kali lebih tinggi, maka jumlah lahirnya keluarga-keluarga miskin baru akan lebih banyak dibandingkan munculnya keluarga-keluarga kaya baru. Dengan demikian, seiring pertambahan penduduk, jumlah keluarga miskin akan terus bertambah lebih banyak ketimbang keluarga kaya.

Riset yang dilakukan SMERU Institute juga berusaha mengungkap sebab-sebab kenapa keluarga miskin cenderung mewariskan kemiskinan atau melahirkan keluarga miskin baru. Hasilnya juga tak beda jauh dari fenomena yang terjadi di berbagi negara. Mereka, anak-anak dari keluarga miskin ini, sedari kecil tak memperoleh asupan gizi yang baik, tentu saja karena belitan kemiskinan itu sendiri. Di saat bersamaan, mereka juga memiliki keterbatasan untuk memperoleh layanan kesehatan yang memadai. Ini berbeda dari anak-anak keluarga kaya yang asupan gizinya terpenuhi dengan baik dengan akses layanan kesehatan yang memadai.

Selain itu, angka putus sekolah anak-anak dari keluarga miskin juga cukup tinggi. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas 2024) mengungkapkan, 86,34 persen anak Indonesia mengeyam pendidikan hingga ke tingkat SMA. Sebanyak 32,32 persen putus sekolah, dan dari yang putus sekolah itu 76 persennya karena alasan ekonomi.

Jika ditelisik lebih lebih dalam lagi, anak-anak dari keluarga miskin itu, ketika masih sekolah, pun kondisinya juga serba terbatas akan fasilitas. Mereka hanya bisa sekolah di sekolah-sekolah yang kualitas dan fasilitas belajarnya lebih rendah dibandingkan dengan sekolahnya anak-anak dari keluarga kaya. Berdasarkan temuan riset SMERU Institute, itulah salah satu yang menyebabkan anak-anak dari keluarga miskin tak memiliki daya saing seperti yang dimiliki anak-anak dari keluarga kaya. Karena itu mereka tak memiliki kemampuan setara dengan anak-anak dari keluarga kaya untuk mobilitas ekonomi. Mereka akan tetap miskin dan, kelak, juga akan melahirkan keluarga-keluarga miskin baru.

Tanya, Siapa Bapaknya

Apakah hasil-hasil penelitian itu tampak nyata di sekitar kehidupan kita? Cobalah mulai memeriksa, lalu membanding-bandingkannya.

Saya akan menceritakan apa yang saya alami, saya saksikan, atau saya dengarkan. Artinya, saya memosisikan diri sebagai seorang saksi. Saya akan memulai dari telisikan pada teman atau kemudian kenalan. Ketika ditelisik, teman-teman atau kemudian kenalan saya yang tergolong sukses dan menjadi keluarga kaya, mayoritas memang lahir dari keluarga-keluarga kaya atau setidaknya pejabat-pejabat yang berkecukupan. Sangat jarang ditemukan kasus yang sebaliknya. Dan itu hampir bisa dijadikan dalil. Maka, setiap kali punya teman baru dengan kategori sukses dan merupakan keluarga kaya, tanyakanlah siapa bapaknya atau siapa keluarganya. Jawabannya pasti mereka bukan orang sembarangan. Sangat jarang ditemukan yang sebaliknya.

Tinggalkan Balasan