Kesalehan Tidak Dijahit oleh Penjahit

Salah satu kekhasan Islam yang jarang kita sadari adalah kemampuannya untuk hidup di dalam keragaman budaya. Dari Afrika Utara sampai Asia Tenggara, dari padang pasir Arab hingga metropolitan Eropa, Islam selalu menemukan cara untuk hadir tanpa kehilangan ruh dasarnya. Salah satu ruang yang paling tampak untuk melihat hal ini adalah pakaian.

Al-Qur’an menyebut pakaian dengan istilah libās, yang fungsinya bukan sekadar menutup tubuh, tetapi juga memberi citra kepantasan (QS. al-A‘rāf: 26). Ayat ini sederhana, namun implikasinya luas. Ia menekankan bahwa prinsip berpakaian dalam Islam bukanlah pada bentuk atau model, melainkan pada nilai yang dikandung: menutup aurat, menjaga kesopanan, dan menghindari kesombongan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari prinsip dasar ini, busana muslim bisa mengambil banyak wajah. Di sebagian wilayah Afrika, pakaian longgar dengan warna-warna mencolok menjadi simbol kesalehan. Di Asia Tenggara, sarung dan batik menjadi penanda identitas Islam lokal. Di Timur Tengah, jubah putih lazim dipakai sebagai representasi kesederhanaan. Bahkan di ruang-ruang modern perkotaan, jas atau jeans tidak kehilangan keabsahannya selama prinsip-prinsip tadi tetap terjaga. Fleksibilitas ini bukan sekadar kebetulan, melainkan ciri khas Islam yang mampu beradaptasi dengan konteks lokal.

Masalah muncul ketika model pakaian tertentu dijadikan sebagai tolok ukur kesalehan. Seolah-olah kesucian iman hanya bisa diukur dari panjangnya jubah, lebar kerudung, atau model gamis yang dikenakan. Pandangan semacam ini, selain menyempitkan makna agama, juga menutup pintu universalitas Islam itu sendiri. Kita lupa bahwa Islam datang bukan untuk mengubah manusia menjadi seragam, melainkan untuk memberi kerangka nilai yang bisa diterapkan di mana saja.

Dengan memahami inti yang tak berubah, kita bisa merayakan keragaman busana muslim tanpa merasa terancam. Seorang santri dengan sarungnya, seorang eksekutif dengan jasnya, atau seorang mahasiswa dengan jeansnya, semua tetap berada dalam ruang yang sama selama etika berpakaian Islam dijaga. Yang membedakan mereka bukan kain yang melekat di tubuh, tetapi sikap hati dan perilaku yang menyertainya.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan