Literasi Santri dalam Evolusi Media

Kemudian, bagaimana kualitas informasi yang luas dan cepat itu? Apakah evolusi media digital membawa informasi yang lebih berkualitas daripada sebelumnya? Nampaknya kualitas informasi yang disajikan media digital terlalu acak untuk dinilai, sebab informasi pada media digital terlalu banyak, kompleks, dan tidak terstruktur.

Big Data dan Kebingungan

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Informasi yang sangat banyak, rumit, dan tak terstruktur itu sulit untuk ditangani disebut sebagai big data. Informasi yang disajikan media digital terlalu acak untuk dinilai kualitasnya dan dapat menciptakan kebingungan bagi penggunanya dalam menyerap informasi yang tersedia.

Hal ini jauh lebih buruk ketika sang pengguna merupakan remaja labil yang kondisi psikisnya kurang stabil. Remaja ini seolah akan mengapung tanpa arah di Internet akibat big data yang seperti ini.

Jika urgensi seperti ini kurang menarik perhatian justru akan sangat berbahaya dalam hal absorbsi informasi para remaja di Internet. Proses penyerapan ini berpengaruh akan kualitas informasi untuk kebutuhan kognitif manusia, khususnya remaja. Jika prosesnya menyerap informasi kualitas rendah, maka pemikiran yang dihasilkan atas dasar informasi tadi juga sederhana.

Atas dasar kekhawatiran inilah timbul sebuah pertanyaan, jika pada era media tulis berhasil mencerahkan banyak orang dengan bacaan, lantas bagaimana media digital meliterasi orang dengan big data itu?

Sebagaimana yang sudah disebutkan tadi bahwa penyerapan informasi berpengaruh terhadap  kualitas kognitif yang dihasilkannya, maka diperlukan kemampuan bagi pengguna media digital untuk memilah informasi yang diperlukan. Hal seperti ini hanya dapat ditangani oleh individu itu sendiri. Sebab, setiap orang memiliki pikiran yang berbeda sehingga informasi yang diperlukan mestilah berbeda.

Kemudian menjadi sebuah keharusan untuk remaja mengelola informasi yang ada supaya dapat mendapatkan paparan informasi yang tepat. Namun bagi remaja, media digital hampir seperti realitas kedua dari eksistensi mereka. Faktanya mayoritas remaja menghabiskan waktunya dalam ruang publik virtual yang disediakan oleh platform sosial media seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan lainnya. Sehingga, informasi yang disalurkan terlalu banyak untuk dikelola satu remaja.

Hal ini akan menimbulkan kebingunan dan dapat berujung pada ‘information overload’. Tetapi, jika remaja menghabiskan waktunya untuk media sosial kapankah waktu mereka untuk berpikir dan memilah informasi yang diterima? Maka dari itu diperlukan strategi bagi remaja untuk mengembangkan kemampuan berpikir dengan teknologi media yang semakin mutakhir agar dapat mengeluarkan potensi teknologi untuk kepentingan manusia, terutama kemampuan berpikirnya dalam menyelesaikan masalah.

Tinggalkan Balasan