Literasi Santri dalam Evolusi Media

Berpikir Kritis

Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menaklukan big data ialah konsep berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, seseorang akan selalu curiga terhadap apa yang muncul di hadapannya. Bagi seseorang yang berpikir kritis, informasi akan diolah tidak hanya sekali, karena konsep berpikir ini tidak hanya melihat sesuatu pada aspek yang terlihat, tetapi juga apa yang tersembunyi, dan ketidak-konsistenan yang ada (premis, argumen, metafora, dan lain-lain).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Media digital menyajikan informasi secara visual sehingga terkadang dibutuhkan kejelian terhadap apa yang terlihat. Penyajiannya cenderung mengambil bentuk yang gemerlap supaya terlihat menarik. Proses penggemerlapan ini akan memberikan hijab bagi unsur yang tidak konsisten. Selain itu, penggemerlapan ini dapat membuat seseorang adiktif pada satu jenis informasi.

Proses demikian juga digunakan untuk komersialisasi budaya populer. Sebagai contoh seorang pengguna sosial media yang kerap mengakses informasi tentang hal-hal yang berbau K-pop akan dibanjiri informasi yang relevan dengan K-pop dan kecanduan merupakan akibatnya. Filter bubble dan glittering information salah satu rumusan yang manjur untuk menghasilkan sesuatu yang adiktif. Konsep berpikir kritis akan membantu seseorang menghindari kecanduan terhadap sesuatu. Sehingga informasi yang diserap dapat berguna kedepannya untuk perkembangan diri remaja.

Linguistik Terapan 

Selain konsep berpikir kritis, linguistik terapan seperti semantik atau semiotik juga perlu dipelajari. Karena untuk mengungkap suatu yang tidak konsisten pada teks diperlukan alat seperti kedua ilmu ini. Dalam hal ini remaja atau santri yang sudah terbiasa belajar literatur Arab akan lebih mudah dalam mempraktikkannya.

Praktik literatur Arab seperti ilmu nahu memiliki sifat analitik sehingga pembaca harus memahami tiap-tiap kedudukan partisi pada teks untuk mendapatkan makna teks tersebut. Hal yang serupa (bukan berarti sepenuhnya sama) digunakan juga dalam semantik ataupun semiotik. Konsep seperti ini sungguh berguna diterapkan pada saat berada di media sosial untuk mengungkap informasi apa yang sebenarnya terkandung dalam suatu pos.

Dengan kedua strategi tadi, penulis berharap dapat lebih bijak dengan eksistensi media digital saat ini. Sehingga apa yang dibayangkan oleh Orwell ataupun Huxley tidak terjadi.

Tinggalkan Balasan