Wabah itu Bernama Kebencian

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.

Saya tidak tahu sejak kapan fenomena ini terjadi. Yang saya rasakan, sejak beberapa tahun belakangan, ruang publik kita sebagai bangsa begitu disesaki, hingga terasa sumpek, oleh segala bentuk ujaran kebencian yang saling bertindihan. Saling menindih.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dan kebencian itu, disadari atau tidak, seperti virus yang terus menyebar dan menular sampai ke tempat-tempat yang jauh, sampai ke ruang-ruang pribadi. Virus itu terus mewabah. Sampai pada satu titik, kita terkaget-kaget menghadapi wabah baru: bukan Covid-19, melainkan wabah kebencian.

Saya akan berangkat dari peristiwa yang paling hangat saat tulisan ini dibuat. Saat menyampaikan pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2021, Presiden Joko Widodo menyedot perhatian publik lantaran mengenakan busana tradisional masyarakat suku Baduy. Komentar dan reaksi pasti beragam. Salah satunya adalah komentar yang diduga memenuhi unsur pelecehan dan kebencian terutama terhadap suku Baduy.

Dari pemberitaan media kita tahu, komentar itu diunggah oleh Mohammad Bernie Kurniawan melalui akun Twitter @pawletariat. Rupanya, Mohammad Bernie adalah seorang jurnalis. Menyadari kekhilafannya, sehari setelah cuitannya memantik kemarahan, Mohammad Bernie mengundurkan diri dari media tempatnya bekerja, tirto.id.

Tinggalkan Balasan