Logika Yunani dan Taqlid Buta

– Black-and-White Thinking: “Kalau bukan Sunni, pasti Syiah. Kalau bukan NU, pasti wahabi.”

Padahal, Al-Qur’an sendiri memerintahkan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”6 Tapi kita lebih suka nurut buta daripada riset. Lebih memilih taqlid daripada tahqiq.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku bukan anti kiai. Aku hanya rindu pada semangat ulama klasik seperti Ibnu Taimiyyah, yang dipenjara karena berani mengkritik tradisi yang bertentangan dengan Al-Qur’an Quran.7 Atau Al-Ghazali, yang meski mengkritik filsuf, tak pernah membakar buku—ia menulis Tahafut al-Falasifah untuk berdebat, bukan membungkam.

Di akhir tulisan ini, aku ingin berteriak: “Mari kita hentikan kemunafikan intelektual ini!”

Jika kita mengharamkan Nietzsche, haramkan juga Aristoteles yang jadi tulang punggung kitab kuning. Tapi jika kita menerima logika Yunani sebagai alat, mengapa filsafat modern dianggap ancaman? Bukankah Al-Qur’an sendiri memuji ulul albab (orang yang berpikir) sebanyak 16 kali?

Seperti kata Nietzsche: “Kebenaran yang diucapkan dengan kebencian, tetaplah kebenaran”8

Tapi di sini, di negeri yang takut pada kata “mengapa”, kebenaran sering dikubur hidup-hidup—dibungkus jubah taqlid dan disemayamkan di balik tembok pesantren.

Mantiq adalah jantung dari ijtihad—tanpanya, hukum Islam akan dipenuhi fatwa ngawur dan kesesatan berpikir. Tapi ironisnya, kita hanya mengajarkannya sebagai ritual hafalan, bukan sebagai senjata untuk membongkar kebodohan.

Al-Ghazali pasti menangis melihat cucu-cucu intelektualnya takut pada filsafat, padahal mereka berdiri di atas pundak raksasa logika Yunani. Ulama klasik paham betul: logika Aristoteles adalah alat, bukan tujuan.

Masalahnya hari ini: kita terlalu sibuk mengutuk filsafat Barat, tapi lupa bahwa kitab kuning kita sendiri adalah hasil asimilasi genius antara akal Yunani dan wahyu Samawi.”

Referensi :

Tinggalkan Balasan