Menelisik data, mengungkap fakta, menangkap fenomena. Itulah kelemahan utama dalam penulisan kita. Kita dalam hal ini, terutama, adalah penulis dari kalangan santri.
Itulah kenapa, banyak naskah yang dikirim ke redaksi duniasantri.co akhirnya tidak dirilis. Kebanyakan miskin data, juga kering akan fakta atau penangkapan fenomena. Bahkan penulisan untuk rubrik “Sosok”, misalnya, rata-rata isinya hanya puja-puji. Seperti barzanji. Padahal, yang ditulis untuk rubrik “Sosok” itu sejatinya adalah biografi versi mini. Bukan barzanji.

Tulisan ini sekadar untuk mengingatkan para penulis yang mengikuti Lomba Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren. Dalam rangka Festival Dunia Santri 2026, jejaring duniasantri (JDS) menyelenggarakan Lomba Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren. Selain berhadiah total jutaan rupiah, naskah-naskah yang diikutkan lomba akan dibukukan. Batas akhir pengiriman naskah 15 Juli 2026 klik di sini.
Saya sudah sempat membaca beberapa naskah. Dari yang sudah saya baca itu, kesan pertama, bukan tulisan biografi. Lebih mirip tulisan “barzanji”. Hanya penuh dengan puja-puji. Nyaris tak ada penelisikan datanya, pengungkapan fakta-faktanya, atau penangkapan fenomenanya.
Misalnya, ujuk-ujuk tokohnya disebut memimpin sebuah pesantren; orang yang ikhlas dan cocok untuk menjadi pemimpin; orang yang berilmu, alim, dan zuhud; orang yang dermawan dan memiliki kepedulian pada umat; bahkan orang keramat atau sakti; dan lain sebagainya, tanpa menelisik atau menelusur riwayat hidupnya, tanpa menjelaskan bagaimana ikhtiar hidup dan perjuangannya, tanpa menarasikan apa yang sudah dilakukannya. Nyaris seluruhnya hanya penilaian, bahkan anggapan.
Itu bukan biografi. Sebab, setidaknya, biografi harus memenuhi tiga unsur. Dan, tiap penulis biografi harus tahu pakem-pakem penulisan biografi tersebut.
Pertama, orientasi. Unsur pertama ini merupakan pengenalan dari subjek yang diceritakan. Tentu ini meliputi data diri sang subjek, yang dalam kepentingan administrasi biasa disebut biodata atau curriculum vitae (CV). Tapi tak cukup di situ. Masih diperlukan latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, hingga kompetensi atau keahliannya. Atau fan yang dikuasai dalam dunia pesantren.
Unsur pertama ini sangat penting dalam penulisan biografi. Sebah, misalnya, tanggal dan tahun kelahiran bukan sekadar angka. Ia titimangsa. Ia setting sejarah yang menjelaskan pada zaman apa seseorang dilahirkan. Begitu juga dengan variabel latar belakang keluarga dan pendidikan, akan menjelaskan bagaimana seseorang dilahirkan dan diasuh. Kiprah dan peran seseorang dalam kehidupan masyarakat nyaris tak pernah lepas dari dua hal tersebut.
Kedua, peristiwa, atau juga biasa disebut masalah atau kejadian-kejadian penting dalam penulisan biografi. Unsur kedua ini bisa dibilang inti dari biografi. Sebab, ia menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman hidup seseorang. Di dalamnya tentu menyorot rintangan, konflik, atau bahkan kegagalan yang pernah dihadapi seseorang. Bagaimana orang yang kita “biografikan” mengatasi itu semua teramat penting untuk diabaikan. Bahkan, di sanalah pelajaran terpenting yang bisa diambil.
Ketiga, reorientasi. Dalam penulisan biografi, ini merupakan bagian penutup. Lazimnya, berisi kesimpulan, pandangan penulis, atau warisan (legacy) serta nilai moral yang bisa dipetik pembaca dari perjalanan hidup tokoh tersebut.
Naskah-naskah yang sempat saya baca, atau tulisan-tulisan untuk rubrik “Sosok” yang tak dirilis, pada umumnya hanya berisi bagian ketiga ini, dan melupakan unsur pertama dan kedua. Itu pun, isinya lebih banyak puja-puji alih-alih penilaian atau pandangan objektif. Itulah yang membuatnya lebih menyerupai “barzanji” ketimbang biografi.
Pentingnya Biografi
Pada umumnya, bahan-bahan untuk penulisan biografi didapat melalui dua cara, riset dan wawancara. Riset dilakukan dengan menelisik dokumen, berita media, atau catatan sejarah. Wawancara bisa dilakukan dengan langsung kepada subjeknya, keluarganya, orang-orang terdekatnya, atau orang-orang yang mengenalnya.
Penyusunannya bisa dilakukan dengan pendekatan kronologis, yang menceritakan kisah secara urut dari masa kanak-kanak, remaja, hingga masa tua. Atau, bisa juga dengan pendekatan tematik. Jika ini yang dipilih, penyusunannya berdasarkan tema atau aspek tertentu tanpa terikat urutan waktu yang kaku.
Penulisan biografi terbilang penting, sangat penting bahkan, agar kiprah dan peran seseorang terabadikan dalam sejarah sebagai pelajaran bagi generasi-generasi berikutnya. Atau, yang tak kalah penting, untuk menghindari “manipulasi” atau “penyesatan” sejarah.
Hal terakhir ini yang kita alami dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia. Belakangan kita bertanya-tanya, kenapa banyak tokoh pesantren yang tak tercatat dalam buku-buku sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa? Padahal, yang banyak berjuang untuk mencapai kemerdekaan justru orang-orang pesantren, tapi terabaikan begitu saja dari penulisan sejarah. Kita lalu menuding orang lain memanipulasi sejarah. Padahal, kita punya andil kesalahan: kita tak biasa menulis sejarah, termasuk biografi.
