Mengulang Strategi Snouck Hurgronje di Ruang Digital

Di era media sosial, siapa pun bisa menjadi penceramah agama. Cukup berbekal akun Twitter, YouTube, Instagram, atau Facebook, seorang tanpa latar belakang pesantren atau pendidikan Islam formal pun bisa tampil sebagai “komentator Islam” dengan jutaan pengikut.

Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan literasi digital, bahkan justru menyentuh akar yang lebih dalam, yaitu: bagaimana otoritas keagamaan dikonstruksi, diperebutkan, dan didelegitimasi dalam ruang publik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Fenomena tersebut menarik jika dibaca bukan hanya dari sudut sosiologi kontemporer, melainkan juga dari sudut sejarah. Karena, jauh sebelum era Twitter dan Instagram, ada seorang sarjana Belanda bernama Christiaan Snouck Hurgronje yang dengan sangat sistematis membangun strategi untuk memisahkan Islam sebagai praktik ibadah dari Islam sebagai kekuatan politik. Strateginya berhasil memengaruhi kebijakan kolonial selama puluhan tahun. Dan pola-pola pengaruh itu, entah disadari atau tidak, tampak berulang dalam wacana keislaman digital hari ini.

Media Sosial sebagai Panggung Wacana Agama

Sejak era Reformasi 1998, ruang publik Indonesia mengalami liberalisasi drastis. Pers bebas, kebebasan berpendapat, dan kemudian ledakan media sosial menciptakan arena baru bagi semua orang termasuk arena perdebatan keagamaan. Jika dulu wacana Islam didominasi oleh ulama, pesantren, dan organisasi massa keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, kini siapa sangka, siapapun bisa masuk ke percakapan itu.

Munculnya figur-figur publik non-ulama yang berbicara tentang Islam menjadi salah satu ciri paling menonjol dari dinamika ini. Sebagian dari mereka mengambil posisi kritis terhadap praktik Islam tradisional, mempertanyakan otoritas ulama, mendorong tafsir yang mereka sebut “moderat” atau “progresif”, dan kerap menempatkan diri berseberangan dengan kelompok Islam yang dianggap “konservatif” atau “radikal”.

Salah satu figur yang paling sering memicu kontroversi, sebagai salah satu contoh, adalah Permadi Arya, yang dikenal sebagai Abu Janda. Dengan gaya komunikasi yang agresif di media sosial, Abu Janda kerap tampil sebagai “pejuang toleransi” yang menyerang kelompok Islam yang dianggapnya intoleran. Pernyataan-pernyataannya —mulai dari soal khilafah, pluralisme, hingga kritik terhadap tokoh-tokoh Islam— secara konsisten memancing polarisasi di masyarakat.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan