Ludah Berkah Ki Juna

Sejak kecil ia sama sekali tak pernah berkeinginan menjadi dukun, kecuali ia hanya berusaha membantu beberapa orang yang terdesak dengan mencipratkan ludah setelah mulutnya memanjatkan doa. Dan entah kenapa ludahnya itu kemudian jadi manjur, sedikit saja yang baur ke air, maka airnya akan mujarab. Bisa menyembuhkan penyakit, menaikkan pangkat, melancarkan rezeki, dan lainnya. Ia sebenanrnya tidak tahu itu dan ia tidak ingin jadi orang terkenal dan kaya karena itu.

Suatu malam yang sunyi, Ki Juna memutuskan untuk kabur dari rumahnya. Ia sengaja menghindar dari orang-orang agar tidak terus-menerus membantu orang-orang itu memenuhi keinginannya, sebab banyak di antara keinginan orang-orang itu hanya demi nafsunya saja. Ki Juna memutuskan pergi ke arah utara, dengan sebatang tongkat dan sebuntal kain yang digendong, melewati jalur yang bukan jalan dengan hanya diterangi sesabit bulan tua yang mengambang di dahan randu. Ia melintasi lembah berpunggung rimbun ilalang. Menyeberangi sungai dangkal yang dihuni batu-batu dan ditumbuhi rumpun pandan. Azan subuh di kejauhan terdengar persis ketika kakinya menapak bibir sebuah gua. Bulan karam berganti pecahan garis cahaya di ufuk timur. Napasnya tersengal. Butiran keringat menyebar di keningnya. Ia lalu salat subuh setelah sepotong singkong yang diambil dari buntalan kain yang digendongnya dikunyah sampai habis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di bibir gua itulah Ki Juna merasa aman karena jauh dari pemukiman warga dan yang pasti sudah tak bertemu dengan orang-orang pemburu ludah. Dari gua itu ia membayangkan betapa rumahnya kini dipadati orang-orang yang menunggu ludah. Betapa orang-orang kampung akan geger setelah tahu bahwa dirinya sudah tiada.

#

Hampir sebulan Ki Juna bermukim di bibir gua. Ia merasa aman dan tenang tanpa harus disibukkan lagi dengan urusan ludah. Tapi kadang kala terlintas-lintas di pikirannya tentang bayangan anak-anak orang miskin di kampungnya. Ki Juna khawatir sebagian mereka ada yang sakit dan tak mampu membeli obat dan membutuhkan ludahnya. Ia juga khawatir ada anak kampung yang nakal atau bodoh yang perlu sama ludahnya, dan beberapa kekhawatiran lain yang terus bermuncuan di kepalanya. Berhari-hari ia memikirkan hal itu dengan hanya duduk bersandar batu, sambil mendongak ke langit, mencari sebuah jawaban.

Jika memang berguna, ia ingin memberikan ludahnya untuk membantu mereka yang lemah, tapi tidak untuk membantu mereka yang butuh ludah hanya untuk mendatangkan kekayaan agar bisa berfoya-foya dalam kesenangan. Ia berpikir, bukankah ludah itu amanah dari Allah untuk disampaikan pada yang membutuhkan. Ki Juna bingung, dalam satu sisi ia ingin tetap membantu sesama dengan ludah itu, tapi di sisi lain ia tidak mau jadi orang yang disanjung, dihormati dan diberi kakayaan karena ludah itu.

Setelah beberapa hari berpikir, mengernyitkan dahi sambil bertasbih, barulah kemudian ia menemukan cara pada suatu pagi, saat dirinya melihat seekor burung menyesap sisa-sisa embun yang ditampung selembar daun. Ia ingin agar ludahnya dicipratkan ke sebuah sumur hingga air dalam sumur itu menjadi air berkah.

Tinggalkan Balasan