Hari itu juga ia bejalan terseok dengan tongkatnya menuju pemukiman warga. Setelah menempuh jarak seitar 1 kilometer, ia menemukan sumur di sepetak kebun kelapa. Sumur itu dilengkapi timba karet yang terikat tali. Di sekitar sumur itu tanahnya becek, dipenuhi jejak, bekas bungkus sabun dan saset sampo. Ki Juna yakin sumur itu sering dikunjungi warga. Ki Juna berdiri menghadap kiblat, memejamkan mata sambil bersedekap, membaca doa dengan getar bibir, lalu mencipratkan ludah ke dalam sumur itu tiga kali. Beberapa saat kemudian dua bocah datang ke sumur itu untuk mandi.
“Jangan takut, Nak. Aku Ki Juna. Aku ingin memberi kabar kepadamu bahwa air sumur ini sekarang jadi air berkah. Kabarkan kepada warga ya. Katakan juga, aku Ki Juna,” ucapnya dengan suara santun.

Dua anak itu hanya mengangguk. Matanya agak temaram seperti tidak paham dan sedikit merasa takut. Ki Juna lalu kembali lagi ke bibir gua di tempat sepi itu. Dua anak itu tak jadi mandi, ia tergopoh pulang ketakutan dan menceritakan hal itu kepada warga. Warga pun berduyun-duyun ke sumur itu untuk mengambil air. Air itu terbukti membawa keberuntungan. Sumur itu berubah jadi tempat ramai. Setiap hari, sepanjang hari, bahkan malam hari dan dini hari, sumur itu ramai dikunjungi orang.
Semakin hari mata air sumur itu semakin menipis. Orang-orang berdesakan demi merebut air yang sudah hampir kering, hingga suatu hari terjadilah perselisihan berdarah, kejadian serupa terjadi lagi di hari-hari berikutnya, akhirnya warga menyebut sumur itu sebagai sumur petaka. Hampir setiap hari selalu ada pertengkaran di sumur itu yang menyebabkan pertumpahan darah.
Pada suatu senja yang senyap dan dingin, Ki Juna mengunjungi sumur itu. Ia terkejut saat melihat sumur itu dipagari bilah-bilah bambu dan diberi bacaan “Dilarang menimba di sumur ini”. Setelah bertanya pada seseorang yang kebetulan lewat di dekat sumur itu, Ki Juna baru tahu bahwa sumur itu telah menyebabkan perkelahian berdarah dan yang terlibat banyak yang mati.
Butiran air mata jatuh dari sudut mata Ki Juna setelah mendengar kabar itu. Ia menangis dan terisak, merasa dirinya sebagai penyebab utama kematian itu. Tiba-tiba ia melangkah ke arah sumur, membuang beberapa potong bambu, lalu melesak masuk, dan menuju mulut sumur itu.
Di sumur itulah ia mengakhiri sejarah, kenangan, riwayat dan semua tengek bengek ludahnya. Begitu tubuhnya diterjunkan ke bawah, tubuhnya terus mengawang, lama sekali, seperti tak kunjung menemukan dasar, hingga akhirnya ia jatuh di atas taman yang indah, ditumbuhi bunga-bunga segar, harum menyeruak di seantero udara. Ia tak percaya di dasar sumur ada taman. “Inikah yang disebut surga?” tanyanya.
