Sekilas Contoh Penafsiran
Dalam produk penafsirannya, Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib membaginya menjadi beberapa bab. Seperti halnya ketika Fakhruddin al-Razi menafsirkan surah al-Fatihah. Di antaranya, pertama, pengenalan surat al-Fatihah. Dalam pengenalan ini Fakhruddin al-Razi menitikberatkan terhadap penamaan-penamaan (nama lain) surat Al-Fatihah beserta alasannya yang setidaknya telah terangkum menjadi dua belas nama. (Hlm. 179-183)

Kedua, keutamaan surat al-Fatihah: bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda tentang kegunaan surat al-Fatihah sebagai obat segala racun, bahwa suatu saat Allah akan memberi azab terhadap suatu kaum namun ada seorang anak kecil yang membaca surat al-Fatihah kemudian Allah menarik kembali azab tersebut selama empat puluh tahun. (Hlm. 29)
Ketiga, ibroh (learning lesson) dari al-Fatihah. Fakhruddin al-Razi menjelaskan banyaknya hal yang bisa didapat dari surat al-Fatihah, salah satunya yakni ketika Allah berfirman (baca: alhamdulillah), seakan-akan Allah bertanya bahwa kalimat tersebut dibangun atas dua perkara. Pertama, adanya ketuhanan, maka apa dalilnya? Kedua, bahwa Allah itu berhak untuk dipuji, apa dalilnya? Kemudian disebutkan Rabbil ‘Alamin setelahnya untuk menjawab pertanyaan pertama. Lalu, Ar-Rahmaan ar-Rahim dan Maaliki Yaumiddin untuk menjawab persoalan kedua. (Hlm. 185)
Keempat, masalah seputar fikih. Salah satunya ketika Fakhruddin al-Razi menampilkan kewajiban membaca Fatihah dalam salat. Fakhruddin al-Razi menganggap wajib bertendensi pada hadis ketika Nabi ditanya salah seorang sahabat tentang kewajiban qiraat (membaca al-Fatihah), kemudian Nabi membenarkannya. (Hlm. 194).
