Perampok yang Menggali Liang Kuburnya Sendiri

Lelaki itu membelah tirai merah marun yang menabiri jendela kamarnya. Sejenak mengamati lelehan embun di punggung kaca, sebelum akhirnya duduk di sisi meja kecil lusuh, tak perlu isapan rokok dan seruputan kopi. Permukaan meja itu hanya dihuni vas tua yang pecah sebelah tanpa bunga. Selebihnya hanyalah garis lingkaran samar, bekas pantat cangkir di hari silam. Juga rengkuh debu dan param jamur halus putih yang digaris jejak semut.

Kekosongan dan segala sunyi yang menyatu dengan kesendiriannya tak dianggapnya masalah. Sebab kebahagiaan yang bisa ia dapat setiap pagi setelah membelah tirai adalah ketika melihat matahari bugil kilau bergantung di ufuk timur, ia membayangkan matahari itu adalah dirinya yang baru, setelah pindah ke rumah baru: setelah berniat hijrah dari hari lalunya sebagai seorang perampok yang tidak hanya mengambil harta, tapi juga pernah menghabisi nyawa. Ketika ingat itu, biasanya ia berurai air mata, mengelus dada, perlahan membaringkan kepalanya di meja itu dengan suara isak yang mencampuri kicau prenjak di luar jendela.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saat menangis, bayang istrinya berkelebat; kerap berdiri di ruang tamu sambil menuding dengan tatap mata tajam mengancam, mulutnya tak jeda ngomel soal biaya belanja yang kurang, ketidakmampuan membeli perhiasan seperti tetangga, hingga ancaman untuk pisah. Pekerjaannya yang kala itu sekadar jadi pemulung sampah tak bisa mencukupi kebutuhan yang diinginkan istrinya, hingga jalan satu-satunya yang bisa ia tempuh adalah bergabung dengan geng Martono dan merampok ke berbagai daerah.

Ia sebenarnya sangat membenci perbuatan keji seorang perampok, juga merasa iba pada orang yang dirampok, tapi tuntutan keadaan kadang memang seketika menyulap seseorang menjadi pengingkar nurani. Dan begitulah yang ia alami sebulan yang lalu; merampok seorang saudagar dan membunuh seorang Satpam, meski ia sadar hal itu adalah merampok hati nuraninya sendiri.

Ia baru berhenti menangis saat sinar matahari membiaskan urai cahaya perak yang menjarum kulitnya hingga dirinya menggeliat sambil menyeka sisa butiran air mata, dan perlahan ia tersenyum kembali ketika melihat matahari itu meninggi, seperti mendaki lekuk dahan. Ia ingin seperti matahari itu, yang bangkit berkilau dari kesuraman, terus meninggi demi membagi cahaya bagi setiap makhluk-Nya.

Dan seperti biasa, masih tanpa kopi dan rokok, ia kemudian menuju ruang tengah untuk meneruskan penggalian lubang kubur. Sebuah dipan tua yang sebelah kakinya patah telah ia rapatkan ke tembok demi memudahkan penggalian. Sejak tiga hari yang lalu, ia biasa mengayunkan cangkulnya hingga terdengar azan zuhur. Tanah dari galian itu sering ia cium dan—kadang kala—ia bandingkan dengan tubuhnya; warnanya sama. Lantas ia memberi kesimpulan bahwa manusia adalah tanah yang dihidupkan dalam waktu sebentar dan akan dikembalikan ke tanah dengan segala pertanggungjawaban atas hidupnya. Saat ingat itu, air matanya akan berderai kembali. Tapi ia berjanji akan berhenti total dan menjadikan lubang kubur itu sebagai kendali sekalilgus cermin nyata bahwa setiap manusia akan mati dalam waktu yang tidak diketahui.

“Kita satu rahim, satu bunda, kelak pada waktunya kita akan menyatu, tak ada aku, tak ada kamu, menjadi kita; sebuah kuburan yang semoga dirawat oleh anak-cucu atau peziarah lain dengan tangan lembut dan bacaan zikir,” ia bicara lirih, menundukkan kepala, menatap ke lubang itu dengan mata masih meneteskanr butiran bening.

“Andai tidak karena kau, Ratmi. Tak mungkin aku akan jadi perampok,” retak bibir tuanya yang hitam bergetar. Kemudian ia memukulkan kepalan tangannya ke tanah.

“Ratmiiiii!!”

***

Tinggalkan Balasan