pemaparan Materi Oleh KH. M. Afifudin Dimyathi Lc, MA

Ma’had Aly Darul Ulum Launching Kitab Kunuz Ar-Rohman fi Durus Al-Qur’an

Ma’had Aly Darul Ulum Jombang resmi menutup rangkaian kegiatan Bulan Kajian Kitab Ulumul Quran Nusantara pada Ahad, 24 Mei 2026. Acara penutupan yang mengusung tema “Rekonfigurasi Metode Tafsir Kontekstual” ini dimeriahkan dengan agenda utama berupa launching dan bedah kitab Kunuz Ar-Rohman fi Durus Al-Qur’an.

Kitab monumental tersebut merupakan karya terbaru dari Dr KH M Afifudin Dimyathi, Lc., M.A., yang juga menjabat sebagai Mudir Ma’had Aly Darul Ulum Jombang, Jawa Timur.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

​Kegiatan yang berlangsung di Kantor Pusat Lantai 2 Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang ini dimulai tepat pukul 09.00 WIB. Suasana khidmat langsung terasa sejak pra-acara yang dibuka dengan penampilan tim banjari El-Haqqoni dan dilanjutkan dengan pembacaan Mahalul Qiyam. Acara kemudian dibuka oleh Muhammad Fatih selaku moderator, disusul pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Amaro Bittaqwa.

​Dalam sesi sambutan, Ketua Panitia Bulan Kajian Kitab Ulumul Quran Nusantara, Gus HM Izzudin Lc., menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia dan hadirin yang setia mengikuti rangkaian kegiatan ini dari awal hingga akhir.

Gus Izzudin juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kekurangan selama pelaksanaan acara. Sesi pembukaan ini kemudian ditutup secara khidmat dengan doa yang dipimpin oleh Gus H M Musta’in Dzul Azmi S. Sos.

​Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari santri, alumni, keluarga besar (dzuriyah) Pondok Pesantren Darul Ulum, serta para akademisi dan dosen dari berbagai daerah.

Beberapa tokoh dan pengasuh pesantren terkemuka di Indonesia juga tampak hadir, di antaranya Dr Yusuf Suharto M. Pd.I (Mudir Ma’had Aly Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang), KH M Khadafi (Pengasuh Ponpes Wahid Hasyim 2 Bangil Pasuruan), dan Dr H Nasarudin (Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya).

​Tafsir yang Solutif

​Diskusi dengan tema “Rekonfigurasi Metode Tafsir Kontekstual” dimoderator Khobirul Amru. Sebelum memanggil narasumber, moderator memberikan penegasan bahwa gerakan pembaruan tafsir awalnya diinisiasi oleh Muhammad Abduh dan muridnya, Rasyid Ridho. Gerakan ini muncul dari kegelisahan bahwa Al-Qur’an seolah belum mampu menjawab problem-problem modern, seperti masalah marginalisasi gender.

​Berangkat dari latar belakang kompleks tersebut, muncullah berbagai pendekatan baru. Jika pada hari pertama bulan kajian Profesor Dr Abdul Mustaqim M. Ag menawarkan pembacaan dengan pendekatan Maqoshidi, maka kali ini Dr KH M Afifudin Dimyathi menawarkan metode baru agar ayat-ayat Al-Qur’an selalu terasa kontekstual dan relevan menghadapi tantangan zaman.

Metode tafsir tersebut diberi nama Kunuz Ar-Rahman fi Durus Al-Qur’an: Hidayat Qur’aniyyah wa Tawjihqt Rabbaniyyah li Bina’ al-Insab wa Ishlah al-Imron (Perbendaharaan Sang Maha Pengasih Menyangkut Pesan-pesan Kitab Suci: Petunjuk-petunjuk Qur’ani dan Nasihat-nasihat Rabbani Untuk Membangun Kemanusiaan dan Rekonsiliasi Peradaban).

​Setelah moderator memaparkan profil penulis dan sekilas latar belakang kitab, Kiai Awis—sapaan akrab KH Afifudin Dimyathi—langsung naik ke mimbar untuk memaparkan materinya. Kiai Awis menjelaskan secara detail mengenai pengenalan Durus Al-Qur’an, mulai dari latar belakang, urgensi, definisi, manfaat, hingga ruang lingkupnya. Tidak hanya itu, konteks historis, perhatian khusus, metode perumusan, pantangan, serta faktor pendukung dalam memperoleh Durus Al-Qur’an juga dikupas tuntas.

​Di sela-sela pemaparannya, Kiai Awis menceritakan kisah unik di balik penulisan kitab Kunuz Al-Rahman fi Durus Al-Qur’an ini. Ide ini berawal dari komentar KH Zulfa Mustofa saat launching kitab tafsir sebelumnya, Hidayatul Quran.

Kala itu, Kiai Zulfa menyebut bahwa Hidayatul Quran cenderung bersifat tekstual. Termotivasi dari masukan tersebut, Kiai Awis mulai menulis kitab baru yang dapat membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang solutif di segala kondisi.

Kiai Awis menjuluki karyanya ini sebagai “Durus Qur’an versi Njoso“, merujuk pada Desa Rejoso yang menjadi lokasi Pondok Pesantren Darul Ulum. Melalui peluncuran ini, Kiai Awis berharap mendapatkan banyak masukan konstruktif untuk penyempurnaan karyanya.

​Setelah pemaparan materi selesai, agenda dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif antara audiens dan narasumber, sebelum akhirnya ditutup dengan doa bersama.

​Acara ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Ikhsan Rahmatullah, salah satu santri Darul Ulum yang mengikuti jalannya kajian dari awal, mengaku sangat bahagia dan bersyukur.

Menurutnya, kehadiran para narasumber terkemuka dan kompeten di bidang Ulumul Qur’an ini telah membuka cakrawala baru bagi para santri. Lewat acara ini, mereka tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mulai memahami makna-makna rahasia yang terkandung di dalam setiap ayat suci kalamullah.

 

Tinggalkan Balasan