Ma’had Aly Darul Ulum Jombang resmi menutup rangkaian kegiatan Bulan Kajian Kitab Ulumul Quran Nusantara pada Ahad, 24 Mei 2026. Acara penutupan yang mengusung tema “Rekonfigurasi Metode Tafsir Kontekstual” ini dimeriahkan dengan agenda utama berupa launching dan bedah kitab Kunuz Ar-Rohman fi Durus Al-Qur’an.
Kitab monumental tersebut merupakan karya terbaru dari Dr KH M Afifudin Dimyathi, Lc., M.A., yang juga menjabat sebagai Mudir Ma’had Aly Darul Ulum Jombang, Jawa Timur.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Pusat Lantai 2 Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang ini dimulai tepat pukul 09.00 WIB. Suasana khidmat langsung terasa sejak pra-acara yang dibuka dengan penampilan tim banjari El-Haqqoni dan dilanjutkan dengan pembacaan Mahalul Qiyam. Acara kemudian dibuka oleh Muhammad Fatih selaku moderator, disusul pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Amaro Bittaqwa.
Dalam sesi sambutan, Ketua Panitia Bulan Kajian Kitab Ulumul Quran Nusantara, Gus HM Izzudin Lc., menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia dan hadirin yang setia mengikuti rangkaian kegiatan ini dari awal hingga akhir.
Gus Izzudin juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kekurangan selama pelaksanaan acara. Sesi pembukaan ini kemudian ditutup secara khidmat dengan doa yang dipimpin oleh Gus H M Musta’in Dzul Azmi S. Sos.
Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari santri, alumni, keluarga besar (dzuriyah) Pondok Pesantren Darul Ulum, serta para akademisi dan dosen dari berbagai daerah.
Beberapa tokoh dan pengasuh pesantren terkemuka di Indonesia juga tampak hadir, di antaranya Dr Yusuf Suharto M. Pd.I (Mudir Ma’had Aly Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang), KH M Khadafi (Pengasuh Ponpes Wahid Hasyim 2 Bangil Pasuruan), dan Dr H Nasarudin (Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya).
Tafsir yang Solutif
Diskusi dengan tema “Rekonfigurasi Metode Tafsir Kontekstual” dimoderator Khobirul Amru. Sebelum memanggil narasumber, moderator memberikan penegasan bahwa gerakan pembaruan tafsir awalnya diinisiasi oleh Muhammad Abduh dan muridnya, Rasyid Ridho. Gerakan ini muncul dari kegelisahan bahwa Al-Qur’an seolah belum mampu menjawab problem-problem modern, seperti masalah marginalisasi gender.
