Yang membangunkan jiwa-jiwa yang telah lama mati.
Kau adalah puisi yang ditulis Tuhan dengan tinta air mata,

Setiap baitnya adalah luka yang menjelma menjadi bahagia.
Kau adalah syair yang tak pernah selesai kubaca,
Karena setiap kali kubaca, ada makna baru yang terbuka.
Waktu adalah sungai yang tak pernah berhenti mengalir,
Ia merenggut kecilmu, mengubah genggamanmu menjadi rindu yang getir.
Namun ketahuilah, di setiap arus yang menghanyutkanmu pergi,
Ada jangkar bernama cintaku yang selalu menahanmu kembali.
Jika kelak kau menjadi bintang yang jauh di cakrawala,
Jangan lupakan langit yang pernah menjadi rumahmu semula.
Jika kelak kau menjadi samudera yang luas dan dalam,
Ingatlah, kau bermula dari setetes embun di telapak tanganku yang tenggelam.
Nak, kau adalah cermin yang memantulkan wajahku yang paling jujur,
Kau adalah alasan kenapa aku belajar menjadi manusia yang lebih luhur.
Dan bila suatu hari aku tiada, dan namaku hanya tinggal nisan,
Kenanglah aku sebagai tanah yang pernah menumbuhkanmu menjadi taman.
MAHAKARYA YANG BERNAMA RINDU
Kau adalah lukisan yang dilukis Tuhan dengan kuas cahaya,
Di atas kanvas hatiku yang dulu kusam dan penuh noda.
Kau adalah melodi yang lahir dari keheningan yang paling dalam,
Mengalun lembut, menyembuhkan luka yang tak pernah bisa kuucapkan dengan kata-kata yang gamblang.
Matamu adalah dua jendela yang terbuka ke arah keabadian,
Di sana kulihat masa lalu dan masa depanku berpelukan dalam kedamaian.
Senyummu adalah musim semi yang datang setelah musim dingin yang kejam,
Menghidupkan kembali bunga-bunga harapan yang telah lama kupendam.
Kau adalah hujan yang jatuh di padang gersang jiwaku,
Membasahi tanah yang retak, menumbuhkan tunas-tunas rindu yang baru.
Kau adalah api kecil yang menyala di tengah badai yang mengamuk,
Yang membuatku tetap hangat, meski dunia mencoba memadamkanku hingga redup.
Kau adalah cermin yang memantulkan wajahku yang paling rapuh,
Dan di dalam rapuh itu, kau mengajarkanku arti menjadi teguh.
Kau adalah guru yang datang dalam wujud kecil dan polos,
