Mak Irah Ingin Pulang

Mak Irah Ingin Pulang

Berhari-hari Mak Irah hanya keluar masuk kontrakan yang sama sekali tidak ada yang membuatnya nyaman. Mak Irah tidak terbiasa duduk berleha-leha. Tulang-tulangnya terasa remuk jika tidak digunakan bekerja. Sudah dua hari Mak Irah kurang enak badan. Ia mencoba memejamkan mata sejenak, mana tahu bisa menggantikan waktu tidurnya yang sudah banyak tersita sejak tiba di Jakarta.

Bila di desa, di waktu-waktu serupa ini Mak Irah telah gegas membawa kakinya ke kebun. Kendati sudah tidak berusia muda lagi, Mak Irah masih teringkas melakukan berbagai pekerjaan. Ia akan mencarikan rumput gajah untuk kedua kambing betinanya, yang mana satu telah bunting besar dengan perkiraan beranak dua. Sepulang mencari rumput, Mak Irah memetik daun melinjo yang masih muda dan memetik babal jika ada. Daun melinjo dan babal akan dimasak dengan santan. Lalu, Mak Irah menikmatinya berdua dengan sang suami.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, aktivitas Mak Irah di desa tinggal kenangan lamur dalam ingatannya yang mulai menurun. Ia sudah tidak punya kambing lagi. Bahkan, belum sempat Mak Irah bersuka cita mengurus bayi kambing, kedua kambingnya terpaksa harus meninggalkan kandang Mak Irah yang telah menanungi mereka bertahun-tahun. Kambing yang masih muda dipotong untuk menjamu para pelayat sekaligus hidangan acara tujuh harian meninggalnya sang suami. Sementara kambing yang bunting dijual karena tidak ada yang mengurusi lagi, sekaligus untuk ongkos naik bus ke Jakarta.

***

Mata Mak Irah perlahan mengerjap-ngerjap setelah tiga kali bahunya ditepuk-tepuk. Diiringi dengan suara lembut menelusup telinga. Mak Irah mengenali siapa pemilik suara tersebut. Senyum simpul tepat berada di hadapan Mak Irah yang tidak lain adalah Surti. Sepasang lengkung alisnya menenteramkan siapa pun yang menatapnya.

“Sudah sore, Mak,” katanya lembut.

Mak Irah bangkit. Surti berpindah posisi. Ia duduk di sofa sembari memijat lengan mertuanya.

“Mak tidak betah di sini, Ti.” Kalimat itu akhirnya terlontar juga. Berhari-hari Mak Irah hendak mengutarakannya, namun takut menyakiti hati anak lanang dan menantunya. Tetapi, kali ini tidak bisa ia tahan lagi. Mak Irah benar-benar tidak ingin berlama-lama di Jakarta. Sesungguhnya, ia pun tidak habis pikir dengan tetangga dan kerabatnya yang amat mengagung-agungkan kota itu. Apa yang mereka cari di tempat nyamuk ganas bersarang, berbau bacin, pengap, dan bising itu? Mak Irah tidak ingin memeras otaknya untuk sebuah jawaban yang dirinya sendiri tidak paham.

“Ini tadi Surti beli nasi goreng di depan sana. Dari kemarin Mak makannya cuma sedikit. Nasi goreng ini kesukaannya Mas Agus, semoga Mak juga suka.” Surti berusaha mengalihkan pembicaraan. Sesuai amanah suami, ia harus memperlakukan mertuanya baik-baik agar betah tinggal di Jakarta.

Di tangan Surti sudah ada sepiring nasi goreng kambing lengkap dengan kerupuknya. Surti baru hendak menyuapi, mulut Mak Irah justru enggan terbuka. Hidungnya kembang-kempis mengendus aroma yang ada. Nasi yang telah disendok Surti tetapi belum sempat disuapkan dikembalikan lagi. Surti menaruh piringnya. Mak Irah tetap tidak mau makan.

Agus tiba di rumah kontrakan setelah mendapatkan telepon dari istrinya. Surti sedemikian bingung hingga terpaksa Agus yang masih dalam jam kerja meminta izin kepada atasannya untuk pulang lebih awal.

Agus membawa martabak telur untuk maknya. Ia beli sebelum memasuki gang kontrakan. Namun, lagi-lagi Mak Irah tidak mau makan. Perut Mak Irah tidak biasa diisi makanan yang aneh-aneh. Ia hanya biasa makan singkong atau talas rebus. Paling mewah pisang rebus yang buahnya dipetik langsung dari kebunnya sendiri.

Pun, Mak Irah hanya terbiasa memasak nasi goreng bawang; tanpa telur orak-arik, tanpa kecap, dan tanpa kerupuk. Tenggorokannya belum pernah menelan nasi goreng kambing yang kata anak menantunya lezat itu. Bahkan, Mak Irah tidak suka air minum kemasan seperti yang disuguhkan padanya setiba di Jakarta. Ia lebih suka minum air sumur yang dijerang sendiri, lalu diletakkan di dalam kendi untuk diminum esok hari.

Hati Mak Irah menghitung-hitung angka dengan jemarinya, serupa zikir untuk mendinginkan tubuhnya yang panas. Sudah berapa hari ia di Jakarta? Rasa-rasanya telah seabad Mak Irah melihat wajah Jakarta yang benar-benar di luar dugaannya. Benak Mak Irah pun hendak berkata: Mengapa tidak pulang saja, Gus? Ajak istrimu tinggal di desa. Biaya persalinan di sana lebih murah. Bersama Mak, menanam padi dan merawat kambing. Tapi, mulut Mak Irah tidak kuasa melontarkannya.

Ada penyesalan yang menyeruak seketika dalam dada Agus. Sejatinya ia hanya ingin membersamai maknya di hari-hari tuanya. Ia tidak ingin maknya tinggal sendirian jauh di lereng bukit. Namun, semenjak diboyong ke Jakarta, maknya justru tidak mendapatkan kebahagiaan sedikit pun.

Tinggalkan Balasan