“Mak mau apa?”
Ia menggeleng.

“Mak mau jalan-jalan lihat kota Jakarta?”
Ia diam.
“Kalau ketoprak?” celetuk Surti tiba-tiba.
Ucapan Surti disambut semringah oleh mertuanya. Rasa tidak betah yang menggiring keinginannya untuk pulang ke desa berangsur memudar. Kembali cerita kerabat dan tetangganya tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu menyalin baju agar terlihat lebih pantas.
Mak Irah rindu masa-masa itu. Ketika ia kerap menonton pertunjukan ketoprak di lapangan kecamatan bersama suaminya. Membeli kacang rebus lalu dinikmati bersama sembari melihat teater rakyat. Kendati sudah banyak yang lenyap, namun di kecamatan yang menaungi dusun Mak Irah, masih sering menampilkan kesenian ketoprak.
Agus membawa mak dan istrinya jalan-jalan dengan memesan bajaj. Kemegahan kota seketika menyihir mata Mak Irah. Di Jakarta tidak ada bedanya antara siang dan malam. Di mana-mana terang benderang, tidak seperti di desanya ketika sudah melewati pukul sembilan malam suasana gelap dan sepi bagai di rimba belantara.
Bajaj berhenti di depan deretan warung makan. Agus menuntun pelan-pelan maknya berjalan. Ia memesan tiga porsi ketupat yang disiram bumbu kacang lengkap dengan taoge dan bihun. Tidak disangka, Mak Irah begitu lahap memakannya. Agus sedikit bisa bernapas lega.
Usai makan, Agus kembali mengajak maknya jalan-jalan agar tidak suntuk. Ia kenalkan gedung-gedung megah, patung yang menjulang, dan nama jalan yang bersejarah. Maknya tidak terlalu paham, namun setidaknya bisa sedikit menghiburnya.
“Di mana ketopraknya? Kapan dimulai?” lontar Mak Irah tiba-tiba. Ia baru teringat ucapan anak menantunya sebelum pergi.
Agus dan Surti bertukar pandang. Mak Irah yang duduk di tengah turut kebingungan melihat ekspresi keduanya. Surti melirik kantung keresek yang sedari tadi masih menggantung di tangan kirinya. Sebelum meninggalkan warung, ia sempat memesan satu porsi ketoprak lagi untuk dibawa pulang.
“Nanti dimakan lagi di rumah, ya, Mak.”
***
KOMPAK Yogyakarta, Februari 2022
