Nama panggilan Mama Gentur semasa kecil adalah Adun. Namun, setelah pulang dari Mekkah, ia berganti nama menjadi Dagustani. Tapi sekarang lebih sering dikenal dengan Al-Alim Al-Alamah Syekh Ahmad Syatibhi, dan orang Sunda sering menyebutnya dengan nama Mama Gentur.
Awal mulanya, Mama Gentur belajar ilmu agama kepada ayahnya ketika masih kecil. Sang ayah, Syekh Mama Idris, adalah pengasuh Pondok Pesantren Gentur Cianjur. Kabar dari Syekh Ahmad Eumed (Mama Cimasuk, Garut) bin Syekh Muhammad Rusdi (Mama Haur Koneng, Garut), mengisahkan, dahulu Mama Gentur ingin belajar dan menuntut ilmu yang besar, hanya ia bingung untuk berguru kepada siapa.

Kemudian, Mama Gentur berangkat ziarah ke makam Habib Husain bin Abu Bakar Alaydrus alias Wali dari Luar Batang, Jakarta. Di sana Mama Gentur membaca selawat nariah sebanyak 4444 kali dan menyelesaikannya sebanyak 44 kali dalam waktu 8 bulan. Lalu, Mama Gentur bermimpi bertemu dengan wali Luar Batang itu. Dalam mimpinya, Mama Gentur diarahkan oleh wali Luar Batang untuk pergi mencari ilmu ke wilayah Garut. Berawal dari mimpi itulah Mama Gentur memulai perjalanan pendidikannya dari pesantren ke pesantren. Pesantren pertama yang menjadi tujuannya adalah Pesantren Keresek, Garut.
Namun di Pesantren Keresek Mama Gentur menginap hanya satu malam. Sebab, oleh Mama Keresek, ia diarahkan untuk menuntut ilmu di Pesantren Bojong dan berguru kepada Mama Ajengan Muhammad Adzro’i. Di Pesantren Bojong, dalam waktu 40 hari, Mama Gentur sudah hafal kitab Yaqulu (Nazom Masqud dalam ilmu saraf), Kailany (ilmu saraf), Amrithy (ilmu nahu), Alfiah Ibn Malik (ilmu nahu dan saraf), Samarqondhy (ilmu bayan), dan Jauharul Maknun (ilmu ma’ani, bayan, dan badi ). Waktu itu Mama Gentur masih berusia 17 tahun.
Setelah selesai pendidikan di Pesantren Bojong, perjalanan mencari ilmunya tidak selesai sampai di situ. Mama Gentur melanjutkan perjalanannya menuju ke Pesantren Gudang. Selama Sembilan tahun Mama Gentur belajar di sini. Setelah itu, Mama Gentur pergi ke Mekkah dan belajar di Pesantren Syekh Hasbullah.
Di Mekkah Mama Gentur hanya bermukim tiga tahun. Sebab, menurut Syekh Hasbullah, Mama Gentur atau juga Mama Syatibhi tidak pantas mengaji kepada Syekh Hasbullah dengan alasan ilmu yang dimilikinya (Syekh Hasbullah) masih jauh dibandingkan dengan Mama Syatibhi.
Dari di Mekkah, Mama Gentur atau Syekh Syatibhi melanjutkan perjalanannya ke Mesir. Namun, ulama Mesir berkata hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Syekh Hasbullah, bahwa “sudah tidak ada guru untuk Ahmad Syatibhi (Mama Gentur).” Akhirnya Mama Syatibhi atau Mama Gentur kembali ke Cianjur dan belajar di pesantren di Bunikasih, pimpinan Syekh Shoheh Bunikasih.
Guru Para Ulama
