Mama Gentur, Guru Para Ulama Pasundan

Dengan ilmu yang didapatkan serta kesalehan akhlaknya, Mama Gentur berhasil mengkader murid-muridnya menjadi ulama-ulama besar yang mempunyai pengaruh dalam perjuangan kemerdekaan dan penyebaran Islam di Jawa Barat, juga pendirian lembaga pendidikan formal maupun informal seperti pondok-pondok pesantren di tatar Sunda.

Salah satu murid Mama Gentur adalah KH Abdullah Nuh, seorang cendikiawan yang sekaligus diplomat ulung pada masanya, menguasai berbagai macam bahasa. Namanya pun tak lepas dari sebutan Al-Ghazali, sering disebut sebagai “Al-Ghazali dari Indonesia” karena kepintaran serta keteladannya. Ia adalah pendiri Pesantren Al-Ghazali di Bogor. KH Abdullah Nuh memperoleh gelar Pahlawan Nasional atas jasanya dalam perjuangan kemerdekaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kemudian ada Syekh Ahmad Shohibul Wafa (Abah Anom) yang juga merupakan murid dari Mama Gentur. Abah Anom merupakan ulama kharismatik asal Suryalaya, Kabupaten Tasikmalaya. Abah Anom mempunyai peran yang besar dalam bidang pendidikan dan pendiri Tarekat Qodariah wa Naqsabaandiah di Jawa Barat. Pada 1961 Abah Anom mendirikan Yayasan Serba Bakti yang terdapat berbagai lembaga pendidikan formal dari mulai TK, SD, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiah serta Pondok Remaja Inabah. Semua itu tidak lepas dari bimbingan dan ilmu yang didapatkan dari gurunya, Mama Gentur atau Syekh Ahmad syatibhi.

Muridnya yang lain, yang mempunyai peran dan pengaruh di Jawa Barat, adalah Abuya KH Hasan Mustofa bin Abah Sanean, atau sering disebut sebagai Abuya Sanean Bogor. Abuya Sanean adalah salah satu penyebar agama Islam di Jawa Barat, khususnya daerah Bogor dan sekitarnya.

Abuya Sanean juga pendiri Pesantren Darul Huda di Cisarua, Bogor. Ia dikenal sebagai ulama ahli nahu, saaraf, dan balaghah di wilayah Bogor. Ia tergolong sebagai murid dari Mama Gentur atau Syekh Ahmad Syatibhi yang sukses mendidik murid-muridnya menjadi ulama-ulama besar dan berpengaruh di wilayah Jawa Barat.

Karya-karya Mama Gentur

Menurut KH Muhammad Aby Sofyan bin H Hasanudin bin Silihwangi, Mama Syatibhi wafat pada hari Rabu tanggal Jumadil Akhir 1365 H atau 15 Mei 1946 M. Mama Syatibhi atau Mama Gentur meninggal di kampung halamannya. Meskipun telah lama pergi, Mama Syathibi selalu dikenang sebagian karena karya-karya. Ia meninggalkan lebih dari 80 karya yang berbahasa Arab maupun Sunda.

Di antara karyanya yang paling terkenal adalah kitab ­Sirajul Munir (ilmu fikih), Tahdidul ‘Ainain (ilmu fikih), al-Muqoddimah Samarqondhiyah, al-Fathiyah, Dahlaniyah (ilmu bayan), Muntijatul Lathif (ilmu saraf ), Nazom ‘Addudiyah (ilmu munazdarah), dan lain-lain. Kitab karangan Mama Gentur masih terus dijadikan sebagai salah satu sumber ilmu di pesantren-pesantren khusunya di wilayah Jawa Barat hingga kini. Dengan demikian, kitab-kitab tersebut selalu memberikan pengaruh terhadap keilmuan santri-santrinya, dan juga santri dari murid-muridnya.

Tinggalkan Balasan