Manusia Lucu, Manusia Seutuhnya

Dengan akal budi yang dimiliknya, harusnya manusia hidup dalam paradigma philo-shopia (cinta kepada kebijaksanaan), namun dalam kenyataannya, manusia lebih banyak menghindari pertemuan dengan sang kebijaksanaan tersebut, dan lebih sibuk dalam memenuhi hasrat dan ambisinya untuk menjajah dunia dan memuaskan kesenangan sesaatnya. (hlm. 7).

Allah tidak terbatas, sementara manusia sangat terbatas. Manusia tidak mungkin seperti Allah yang menyayangi seluruh alam semesta maha luas ini. Manusia tidak sedahsyat itu. Manusia hanya menjalankan kasih sayangnya dalam batas kita saja.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Makhluk Humor

Fitrah manusia lainnya adalah humor. Dari sekian banyak makhluk, manusia satu-satunya hamba yang mempunyai selera humor. Bercanda, tertawa untuk menghilangkan berbagai rasa di dalam dada.

Fahruddin dalam bagian ini banyak mengutip banyak tokoh untuk menguatkan tulisan pada bagian ini. Salah satunya dia menyebutan Osho, spiritualis asal India pernah menyebutkan “if you find a saint who has no sense of humor, then he is not a saint at all” (jika Anda menemukan orang suci yang tidak memiliki selera humor, maka dia sama sekali bukan orang suci).

Hidup itu lucu. Kenyataannya serius, tapi justru yang serius dalam hidup itulah yang lucu. Jika manusia sangat serius dalam menjalani hidup, hidupnya akan terbebani terus, banyak tugas ini itu yang datang silih berganati sehingga butuh ketenangan, hiburan agar dirinya tidak terlalu memikirkan beban dalam hidupnya.

Fahruddin mengambil tokoh Henri Bergson dalam menguatkan temanya ini. Meski pemikiran Henri berbeda dengan beberapa filsuf yang disebutkan. Kelucuan, menurutnya, adalah ketika orang melenceng dari fitrah vitalitasnya. Manusia itu vital, punya kemerdekaan, kebebasan, kedalaman, tapi banyak yang hidup mekanisnya seperti robot. (hlm.79).

Tinggalkan Balasan