Kang Marno selama satu dasawarsa lebih menekuni hal berbau kepustakaan. Menjadi pedagang toko buku satu-satunya yang masih tetap berdiri, setelah took-toko buku lainnya gulung tikar atau beralih haluan menjadi warkop wifi.
Rupanya, toko buku Kang Marno menantang cyberdigital, era e-book online, melawan kemegahan toko-toko buku besar yang menjulang pongah. Ataupun, penerbit “indie” yang memasarkan sendiri bukunya dengan metode swasembada. Tulis sendiri, terbitkan dengan dana pribadi, hingga marketing dan distribusi pun secara mandiri. Mungkin yang terakhir, menjadi alasan kontaminasi idealis penulis dengan karya yang komersil.

Kang Marno hanya seorang lulusan sekolah menengah pertama. Namun, ketekunannya dalam membaca buku yang ia jajakan membuatnya berpengetahuan luas, melebihi sarjana cum laude sekalipun. Inilah keuntungan penjual buku, bisa membaca buku secara gratis dari penerbit yang memberinya “tester” buku, sebelum dinilai layak jual oleh Kang Marno.
Toko buku konvensional Kang Marno bernama “Marnoklopedia”. Unik memang. Karena, bukan sekadar transaksi buku, namun “Marnoklopedia” sering dijadikan diskusi bagi mahasiswa yang ingin mencari referensi buku untuk penelitian. Banyak tokoh penulis, cendekia, dan figur publik lain yang ingin sekadar membeli buku ataupun membeli wawasan Kang Marno.
Selain menjual buku, Kang Marno sering berdiskusi dengan pelanggannya, misal kesesuaian buku yang dicari dengan tema penelitiannya, atau lebih dalam lagi, berdiskusi mencari afirmasi-oposisi yang sedang hangat di media. Kang Marno mafhum se-mafhum-mafhumnya. Tak ayal, Kang Marno memunyai jaringan luas. Mahasiswa yang dulu sering berdiskusi di tokonya kini banyak yang menjadi pejabat. Tokoh atau peneliti yang jelas memunyai kepopuleran, Kang Marno pun mengetahuinya. Sedemikian eksis Kang Marno di kalangan pelanggan Marnoklopedia.
Suatu senja, ketika beberapa orang mengangapnya sebagai waktu santai untuk menikmati hangatnya kopi atau jogging, Kang Marno tampak sedang melayani pelanggannya.
“Kang, aku ingin menulis artikel untuk dikirimkan ke media. Tapi, aku sedang blockwriter nih. Adakah buku yang bisa memotivasi, Kang? Khususunya bagi saya, seorang penulis amateur,” pemuda itu bertanya kepada pemilik Marnoklopedia.
“Ehmm, sebentar. Diskusi saja dulu, minim lima atau sepuluh menit. Baru kita cari bersama apa buku yang cocok untukmu,” Kang Marno menanggapi.
“Intinya, buku yang bisa memotivasi saya agar bisa lancar menulis, banyak ide atau tema, tidak buntu, dan membuat tulisan saya layak diterima atau diposting, Kang,” jelas pemuda itu.
“O, gitu masalahnya. Menulis adalah mencipta. Ketika mencipta, seorang tidak hanya mencurahkan semua pengetahuan dan kemampuannya saja. Tetapi juga, sertakan seluruh jiwa dan napas hidupnya untuk bisa mencipta,” jelas Kang Marno
“Apakah aku harus menunggu jiwa dan napas tadi tercipta dulu, Kang?”
“Bukan! Penulis yang hanya menunggu berarti ia belum menjadi diri sendiri. Inspirasi tidak harus ditunggu, tapi diciptakan. Membaca, iqra, bacalah maka ia menjadi pusat yang tidak bisa dihindari penulis,” dengan lugas Kang Marno memulai ikhwal diskusinya.
“Kemauan keras sudah aku miliki, Kang. Tapi, aku sering buntu. Sering tidak pede dengan karyaku sendiri. Usaha keras juga sudah aku lakukan, tapi… entah mengapa, gamang itu masih ada?”Apakah pengalamanku kurang, Kang?” penulis “amateur” tadi tertarik melanjutkan diklat dadakan ini.
“Mungkin. Tapi tergantung kamu menyikapinya. Hasrat mengejar pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah negativism. Karena bertentangan, sebaliknya penerimaan pengalaman negatif justru menjadi pengalaman positif.”
“Maksudnya, Kang?”
“Begini, kamu tahu buku ini?” Kang Marno mengambil salah satu buku di boks best seller.
“Buku bertema Children Parenting, sederhana saja. Buku ini laris dan kamu tahu apa yang dikatakan penulis ini kepadaku?”
“Apa yang ia ujarkan, Kang?”
“Ia berkata, “Kang Marno, buku ini adalah paradox dengan kelarisan dan fakta di baliknya. Tahukah kamu, Kang? Ketika buku ini awal terbit, aku memberikannya pertama kepada anakku dan yang dilakukannya adalah membuangnya ke tempat sampah.”
“Baiklah, Kang. Ini tentang keluasan berpikir. Aku sudah mulai tercerahkan dan timbbul passion lagi untuk menulis. Aku akan mulai menulis lagi, meski editor menolak atau menerima karyaku. Aku acuh!”
“Bagus. Tentang suatu hal, editor adalah orang pertama yang akan kamu salahkan, ketika karyamu ditolak atau terjadi kesalahan. Namun, juga akan menjadi orang pertama yang sering dilupakan penulis, ketika karyanya dimuat atau bukunya menjadi best seller.”
Kang Marno melanjutkan, “Satu lagi, perbedaan sarjana secara spesialisasi dulu dan kini. Di masa lalu, sarjana mengetahui lebih banyak daripada yang mereka bicara dan tulis. Kini, dunia terbalik! Sarjana mengatakan dan menulis lebih banyak daripada yang mereka ketahui.”
“Terima kasih kursus kilatnya, Kang! Sebagai gantinya aku membeli buku TTS ini saja ya, Kang. Sepuluh ribu tiga, kan?”
Kang Marno mengangguk dan segera memberikannya kepada penulis “amateur” tadi.

Mantabb, Mas Anang! 👍👍👍