Marnoklopedia

Tidak berselang lama, tampak seorang berpakaian hijau doreng mengunjungi Marnoklopedia.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” sapa Kang Marno.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Siap! Ada, Pak! Saya mau mencari buku tentang filososi perang. Karena mantan komandan saya ulang tahun dan saya ingin berikan kado yang istimewa,” jawabnya yang ternyata seorang perwira.

“O, begitu. Apakah komandan Anda pernah berperang? Atau pernah ikut bertempur, misalnya,” tanya Kang Marno seperti biasa, kepada calon pelanggannya.

“Siap! Pernah! Komandan sudah veteran. Dulu, beliau sering berperang. Bertugas di Lebanon, Pakistan, dan beberapa daerah konflik lainnya.”

“Ehmm… Baiklah. Apa pendapat Anda tentang perang? Karena di beberapa buku ada yang dengan sudut pandang berbeda. Setuju dengan perang untuk perdamaian, atau menentang karena hanya menimbulkan kemalapetakaan?”

“Siap! Sebagai prajurit saya netral! Siap ditugaskan apa saja, tanpa melawan, tanpa bertanya tujuan. Misi saya, mengemban tugas dan menyelesaikannya. Itu saja!” dijawab dengan tegas oleh perwira tadi.

Kang Marno tersenyum dengan kekakuan situasi ini. “Bertempur dan menaklukkan musuh bukan suatu kehebatan, namun mengehentikan musuh tanpa perlawanan, itulah kehebatan paling tinggi.”

“Siap! Saya belum mengerti!”

“Menghadapi musuh dengan pemusnahan, mereka akan bertahan. Menghadapi dengan cara mematikan, mereka akan hidup. Jika lawan dalam situsasi bahaya, mereka akan berjuang.”

“Siap! Jadi, saya harus bagaimana? Saya hanya seorang prajurit, bukan jenderal.”

“Maaf… ini hanya filosofi Sun Tzu. Jika kamu memahami langit dan bumi, maka akan membuat kemenangan bisa lengkap.”

“Siap, maksudnya Pak! Saya perwira! Saya tentara! Bukan filosof!”

“Langit adalah akibat perang dari sisi Ketuhanan dan agama. Bumi, akibat dari manusia dan alam sekitarnya.”

“Siap! Paham! Pada intinya peperangan hanya akan menimbulkan kerugian. Tapi dalam strategi perang ada motto, ‘Ketika sepuluh lawan satu, kepunglah! Ketika lima lawan satu, seranglah! Ketika dua lawan satu, bertempurlah! Ketika seimbang, pecah belahlah! Ketika lebih sedikit, bertahanlah! Ketika memadai, hindarilah.’ Itulah batas pengetahuan saya!”

“Kembali ke topik awal, Anda ingin mencari buku untuk seorang veteran yang sudah sering ikut berperang. Maka referensi saya adalah ini…,” sambil menyerahkan beberapa buku dari box katalog religi.

“Siap! Judul buku ‘Sulukiyah’… Siap! Komandan saya bukan rohaniawan, beliau veteran. Jadi, saya rasa ini tidak istimewa.”

“Tetapi…,” Kang Marno berusaha menjelaskan tetapi keburu ditahan oleh perwira tadi.

“Siap! Tidak ada tetapi! Saya cari di toko buku lain saja. Tetapi, terima kasih sudah menemani ngobrol tadi. Sebagai gantinya, saya beli buku TTS ini saja,” sambil menyerahkan uang lembar sepuluh ribu kepada Kang Marno.

Kang Marno pun bergegas menerima uang tadi dan menyerahkan tiga lembar buku TTS yang bergambar foto artis cantik di sampulnya.

“Alhamdulillah, satu jam sudah terjual dua paket buku TTS,” Kang Marno mengucap syukur.

Langganan Kang Marno yang lain pun datang, seorang debater. Pendebat yang sering manggung di televisi swasta ini tampaknya sudah lama Kang Marno tidak melihatnya.

“Apa kabar, Bung? Makin eksis saja nih di dunia debatnya,” sapa Kang Marno.

“Baik, Kang! Kabar baik. Harus narsis dan kontroversi, itu intinya, Kang. Untuk menjaga eksistensi, ha-ha-ha….”

One Reply to “Marnoklopedia”

Tinggalkan Balasan