Berdua mereka tertawa. “Ada yang bisa saya bantu, Pak? Mungkin mencari bahan untuk debat lagi minggu ini,” tanya Kang Marno.
“Ehmm… Sebelumnya… ehmm. Begini… Ehmm… apa pendapat Kang Marno melihat debat saya yang terakhir di televisi?”

Kang Marno bingung menjawab. Karena ia bukan penikmat televisi, ia hanya penikmat buku, lalu dijawablah sekenanya, sekadar untuk menghormati pelanggannya.
“Hebat, Pak. Hebat! Argumen Bapak sangat logis! Lawan debat Bapak sampai tidak berkata apa-apa. Bahkan, sampeyan sempat dihentikan oleh MC-nya,” Kang Marno mencoba menerka.
“Hebaat..ya..? Ehmm… baiklah. Padahal saya kalah lo, Kang. Ehmm… makanya saya ingin ngaso dulu dari dunia debat. Ehmm… saya ingin break.”
Kang Marno keluar keringat dingin. Ternyata tebakannya keliru. Namun, pendebat itu tampaknya tidak mempermasalahkannya.
“Meski kalah, tapi bagi saya, Bapak tetap menang! Tetap terkenal, itu buktinya. Selama break ingin lakukan apa, Pak?” Kang Marno mencoba memindah topik
“Ehmm… menjadi youtuber, podcaster, ngulik kehidupan artis ehmm.. lebih menjanjikan, sepertinya. Mungkin saja saya akan membuat seperti itu. Ehmm… Tapi sebelumnya, saya ingin bersunyi ria dulu.”
“Kesunyian memang kawan sejati yang tidak berkhianat, Pak! Kesunyian selalu menghormati para penikmatnya…,” Kang Marno melanjutkan dialognya dengan pendebat tadi.
“Menghormati? Ehhmm… tanpa rasa saling menghormati, apa bedanya manusia dengan binatang? Ehmm… Saya punya pemikiran subjektivitas, jadi mereka, ehmm… mereka harus menghormati opini-opini saya.”
“Harus menghormati, Pak! Namun, manusia yang berkualitas selalu berpikir mengenai kebaikan, kalau manusia umum berpikir tentang kemenangan dan kenyamanan.”
“Ehmmm… Maksud, Kang Marno? Ehmm… debat saya hanya mencari kemenangan, begitu?”
Buru-buru Kang Marno mengklarifikasi, takut pelanggannya tersinggung.
“Bukan kegitu maksud saya, Pak! Tetapi, buat apa seluruh kemenangan jika harus dilakukan dengan menghancurkan, melukai, atau mematikan kehidupan orang lain.”
“Ehmm… Jadi, debat saya melukai, menyinggung, ehmm… atau menyakiti hati orang lain. Begitu?”
“Bisa jadi, Pak! Karena kurang lapang dada. Akhirnya debat hanya berujung friksi opini. Mengetahui adalah tahu berlaku sebagai orang yang tahu dan bila tidak tahu, katakan saja tidak tahu.”
“Ehmm… risiko debater! Disalahkan atau dirugikan bukan apa-apa, ehmm… kecuali mengugatnya terus-menerus. Sedangkan, ehmmm… mengetahui hal benar dan tidak melakukan apa-apa adalah pengecut.”
Susah memang, berdiskusi untuk melayani dengan pendebat. Ada saja materi atau bahannya, pikir Kang Marno. “Jadi, Bapak cari buku dengan tema apa nih?”
“Ehhm… Tidak jadi, Pak! Pembicaraan kita tadi, ehmm… membuat suatu ide untuk konten youtube awal saya. Ehm… sebagai gantinya, saya beli TTS ini saja,” sambil mengambil tiga buku TTS dan menyerahkan uang kepada Kang Marno.
Waktu cepat sekali berubah. Tidak hanya waktu, tetapi juga uang sewa tempat toko Marnoklopedia berubah nominal. Semula Rp 7 juta, kini pemilik lahan sewa menaikkan menjadi Rp 16 juta. Drastis dan lonjakan yang fantastis. Kang Marno merasa tidak mampu membayarnya. Jadi, mau tidak mau, Marnoklopedia harus bayar atau pindah!
Kang Marno teringat tiga pelanggannya dulu. Penulis amatir yang kini sudah menjadi penulis terkenal. Perwira yang dulu itu, kini sudah menjadi jenderal bintang empat. Pendebat langganannya dulu, kini pun sudah menjadi anggota dewan tingkat pusat. Kang Marno berusaha menemui ketiganya, namun diadang tembok birokrasi imitasi dibuat sendiri oleh empunya atau memang yang sudah legalitas.
Kang Marno berhasrat ingin menggunakan koneksinya untuk membantunya keluar dari pelik finansial. Tapi, nuraninya berkata lain. Bahwa, harmoni hubungan persahabatan meski dengan pelanggan sekalipun, harus tetap dijaga, tanpa di-embel-embeli kepentingan pribadi, apalagi bersifat materi.
Marnoklopedia pun pindah. Kini, ia bukan sekadar toko buku, tapi merangkap dengan warung kopi plus wifi, tempat diskusi orang-orang “kental”, bahkan penulis, jenderal, dan pendebat tadi tidak melupakannya. Sering mengajak kolega untuk singgah dan diskusi “illegal” dengan tema-tema tertentu. Marnoklopedia berubah, menuruti nasihat “Hanya orang paling bijak dan orang paling dungu saja yang tidak pernah berubah”.
“Penyedia buku dan ruang wawasan, untuk menjaga kewarasan akal,” demikian terpampang banner di pintu depan Marnoklopedia.

Mantabb, Mas Anang! 👍👍👍