Masjid: antara Ruang Ritual dan Ruang Kehidupan

Kalau dalam konteks Oldenburg ada yang namanya alun-alun atau gereja, maka di tataran masyarakat kita adalah masjid. Dan masjid, seharusnya menjadi prototipe sempurna dari Ruang Ketiga itu.

Masjid adalah ruang yang netral (milik umat), inklusif (siapa pun boleh masuk), dan dapat diakses (tanpa biaya). Masjid seharusnya tidak hanya memfasilitasi kebutuhan rohani (ibadah ritual), tetapi juga kebutuhan jasmani (fellowship, interaksi, dan rekreasi yang sehat).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi, realitasnya, masjid modern hanya menyambut jemaah saat waktu salat, dan meniadakan interaksi santai. Kesenjangan ini membuat anak muda dan masyarakat umum mencari Ruang Ketiga di tempat yang berbayar (kedai kopi), alih-alih memanfaatkan aset komunal yang seharusnya menjadi pusat peradaban dan interaksi sosial.

Nah, dengan fakta sejarah yang dikaji oleh Watt dan Hamidullah ini memberi konklusi bagi kita bahwa Nabi Muhammad SAW sudah mempraktikkannya. Sederhananya, Masjid Nabawi adalah bukti sejarah bahwa Islam awal tidak memisahkan antara Ruang Ritual (rohani) dan Ruang Kehidupan (jasmani, sosial, dan politik). Karena itu, menurut saya masjid modern hari ini perlu memperluas perannya sebagai ruang kehidupan (jasmani, sosial, dan politik) dan tak lagi menyempitkan perannya hanya pada aspek ritualistik.

Saya memimpikan masjid yang berani menjadi rebel sosiologis. Bayangan saya, masjid itu juga bisa menjadi Ruang Ketiga yang inklusif. Saya seringkali membayangkan ketika orang-orang bisa meeting di taman atau ruang terbuka yang dimiliki oleh masjid sambil menunggu azan, atau Gen Z seperti saya ini bisa ngopi sambil ngedit konten di serambi dengan Wi-Fi kencang, sementara jemaah lain bisa tetap khusyuk di saf dalam masjid. Masjid harus jadi safe space fisik dan mental, tempat di mana status sosial ditiadakan, dan kita bisa berinteraksi spontan setelah atau di luar ritual.

Intinya, kita harus berhenti menganggap masjid itu kaku seperti kanebo kering. Harapan saya, integrasi ini bisa menutup kesenjangan antara kebutuhan rohani sama kebutuhan healing kita di dunia (jasmani). Masjid seharusnya menjadi markas kedua buat semua orang, yang mengajarkan bahwa Islam itu tidak memisahkan antara urusan duniawi sama ukhrawi. Tinggalkan vibes masjid yang kaku. Masjid ideal itu yang tetap khusyuk pas salat, tapi ramai dan seru seperti co-working space di luar jam salat. Pokoknya, yang asyik secara fisik dan adem secara spiritual.

Tinggalkan Balasan