Arsitektur Masjid Kebondalem
Arsitektur bangunan masjid di Jawa identik dengan masjid tanpa kubah, dengan komposisi bangunan atap tumpang berlapis atau bertingkat yang memiliki tiang penyangga (soko guru) serta serambi pada bagian depan (Dewi Adityaningrum, Titis Srimuda P: 2020). Hal ini juga sama dengan komposisi arsitektur bangunan pada Masjid Kebondalem yang memiliki atap berlapis tanpa kubah serta tiang penyangga (soko guru) dan serambi masjid.

Pada Masjid Kebondalem, bangunan atapnya berbentuk persegi empat yang semakin ke atas semakin mengerucut. Bagian ini terdiri dari tiga lapisan atap atau tiga tingkat yang disebut dengan tajug trimangkurat, dan paling atas disebut mahkota masjid. Kemudian, tiang masjid terdiri dari empat pilar penyangga (soko guru) yang terbuat dari kayu Jati.
Pada bangunan masjid yang berbentuk seperti itu, memiliki arti filosofis bahwa ibadah yang semakin ke atas semakin mengecil, dalam artian melepas segala bentuk materil yang melekat pada diri manusia untuk memudahkan mencapai puncak mahkota (manusia paripurna). Tiga lapisan atap (tajug trimangkurat) juga bisa diartikan sebagai konsep manusia dalam melewati perjalanan tasawuf/tarekat, hakikat, makrifat.
Kemudian, bangunan induk masjid menyambung ke depan dengan serambi masjid. Pada konsep konstruksi lantai Masjid Kebondalem bagian induk atau dalam (ndalem) masjid, struktur lantai lebih tinggi dari serambi dan pelataran masjid. Sehingga dapat digambarkan bangunan lantai Masjid Kebondalem dari pelataran naik ke serambi menuju dalam masjid berbentuk seperti punden berundak, yang semakin ke dalam semakin tinggi. Ini sama halnya dengan tingkatan konsep ibadah manusia yang jika dipahami dari bentuk bangunan masjid tersebut menyampaikan pesan kepada manusia untuk selalu meningkatkan keimanan (tauhid).
Di depan Masjid Kebondalem terdapat kolam air atau semacam belik yang disebut dengan “Banyu Purwosari” yang dijadikan masyarakat sebagai sumber mata air. Kolam air atau “Banyu Purwosari” dibuat berbarengan dengan pembuatan Masjid Kebondalem dan memiliki kedalaman sekitar dua meter. Selain berfungsi sebagai tempat bersuci (wudhu), kolam tersebut dahulunya digunakan masyarakat untuk mandi dan untuk keperluan air sehari-hari.
Peran Masjid Kebondalem, selain menyampaikan perihal peribadatan Islam juga berperan dalam konteks sosial. Bukti sumber mata air merupakan bentuk peranan dalam membantu kehidupan masyarakat sekitar masjid. Sehingga bisa dikatakan kedekatan antara masjid (kiai, santri) dengan masyarakat tidak bisa dipisahkan.
Di sisi lain, kedekatan ini bisa dilihat pada perayaan atau peringatan hari-hari besar Islam dengan berkumandangnya selawat Jawa atau selawat Rodad dengan musik rebana besar yang dimainkan oleh pemuka agama dan masyarakat setempat di Masjid Kebondalem.
Menebar Jala Sufisme
