Masjid Kebondalem yang didirikan oleh Kiai Muhammad Shareh dan diteruskan oleh putranya, Kiai Khalifah, memiliki jejak historis dalam persebaran Islam yang kuat. Di era Kiai Khalifah, Masjid Kebondalem pernah menjadi tempat “peguron” atau tempat menimba ilmu agama, yang kemudian ditinggalkan oleh Kiai Khalifah akibat bergejolaknya Perang Jawa. Dalam catatan Peter Carey, Kiai Khalifah menjadi salah satu di antara jajaran kiai yang membantu peperangan (Carey, 2012). Akibat dari peperangan tersebut, ketika Pangeran Diponegoro tertangkap, para laskar dan kiai pergi menyebar ke berbagai wilayah. Salah satu persebarannya ialah di wilayah Mancanegara Wetan, yaitu daerah Madiun, Ponorogo, Magetan, dan Pacitan.
Setelah beberapa dekade kemudian, sepeninggal Kiai Khalifah, keluarga dan masyarakat sekitar Masjid Kebondalem barulah mengetahui keberadaan sang kiai. Tepatnya berada di Desa Bogem, Sampung, Kabupaten Ponorogo yang termasuk wilayah persebaran para lascar Perang Jawa. Di Desa Bogem ini Kiai Khalifah tinggal sampai akhir hayatnya dengan meninggalkan musala dan masjid.

Keberadaan Kiai Khalifah ini dapat diketahui setelah putranya, Kiai Hasan Ulama, sedang menziarahi makam kakeknya di Krayungan. Makam Kiai Shareh tersebut berjarak sekitar satu kilometer dari Masjid Kebondalem (Interview Nur: 2023). Kiai Hasan Ulama sendiri merupakan pendiri Pondok Pesantren Takeran Magetan, yang berdiri pada tahun 1886 M (catatan mimbar masjid Takeran), dan sekarang disebut sebagai Pesantren Sabilil Mutaqien.
Pada agenda menziarahi makam tersebut, Kiai Hasan Ulama menyampaikan kabar keberadaan Kiai Khalifah kepada keluarga dan masyarakat Masjid Kebondalem. Selain itu, Kiai Hasan Ulama sekaligus melakukan rehab Masjid Kebondalem bersama masyarakat. Catatan rehab masjid diabadikan dalam mimbar Masjid Kebondalem yang tertulis angka 1918 M atau 1336 H dengan berbunyi hari tanggal Jawa bertuliskan Arab-Pegon “Awit Tanggal 1 Rabiul Akhir, Ngadegke Tanggal 1 Jumadil Awal, Rebo Wage Seloso Kliwon”.
Kiai Khalifah atau Pangeran Cokrokertopati, menurut cerita dari Pesantren Takeran Magetan, merupakan penasihat Pangeran Diponegoro yang menganut Tarekat Syattariyah. Dalam catatan sejarah, Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro ini tidak lepas dari salah satu instrumen jaringan sufisme, yang kemudian dapat menggerakkan beberapa kiai dan santri (laskar) untuk memberontak kepada penjajah (Bizawie, 2019).
Jaringan ini tidak berhenti pada saat Perang Jawa selesai, tetapi berlanjut ke berbagai wilayah persebaran para laskar. Dalam persebaran sufisme atau bisa disebut sebagai kaum tarekat, Kiai Khalifah termasuk salah satu silsilah sanad atau mata rantai guru-murid yang sambung menyambung pada Tarekat Syatariyah. Catatan silsilah mata rantai ini dapat dilihat di Pacitan, tepatnya yang ada pada keluarga atau makam Kiai Ngaliman yang sekaligus menjadi mata rantai Tarekat Syattariyah.
Kiai Ageng Ngaliman merupakan kakek dari Kiai Abdurrahman Tegalrejo Magetan. Di wilayah Madiun dan sekitarnya, pergumulan jaringan dari beberapa mata rantai sanad guru-murid ini menjadi peta persebaran dan perkembangan tarekat Syattariyah pasca Perang Jawa (Syam, 2013). Kemudian, putra dari Kiai Khalifah, yaitu Kiai Hasan Ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Takeran, merupakan penerus sanad dari Tarekat Syattariyah yang berada di Takeran, Magetan. Menurut beberapa catatan dari keluarga Takeran, Kiai Hasan Ulama meneruskan Tarekat Syattariyah dari Kiai Abdurrahman Tegalrejo.
Dalam cerita keluarga Masjid Kebondalem, masyarakat sekitar sudah banyak yang menganut ajaran dari Tarekat Syattariyah. Dulu lantunan zikir khas Syattariyah masih didengarkan oleh Pak Nur, salah satu keluarga Masjid Kebondalem. Menurut pemaparan dari Pak Nur, masyarakat Kebondalem sudah menjalankan ajaran Tarekat Syattariyah sejak era Kiai Khalifah, kemudian setelah Kiai Khalifah pergi, kemudian beberapa dekade dilanjutkan oleh Kiai Hasan Ulama.
Referensi:
- Bizawie, Z. M. (2019). Jejaring Ulama Diponegoro. Pustaka Compas.
- Carey, P. (2012). Kuasa Ramalan. JILID 3. Gramedia.
- Dewi Adityaningrum, Titis Srimuda P., W. S. (2020). ARSITEKTUR JAWA
PADA WUJUD BENTUK DAN RUANG MASJID AGUNG
SURAKARTA. Jurnal Arsitektur, Vol. 17(1), 54–60. - Gazalba, S. (1994). Mesjid, Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam. Pustaka Al
Husna. - Kurniawan, S. (2014). Masjid Dalam Lintasan Sejarah Umat Islam. Jurnal
Khatulistiwa, Vol. 4(2), 169–184. - Syam, N. (2013). Tarekat Petani, Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal. LKiS.
