Masjid sebagai Ruang Solidaritas Kemanusiaan

Masjid yang hidup bukan hanya masjid yang penuh ketika azan berkumandang. Masjid yang hidup adalah masjid yang mengetahui apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Ia tahu ketika ada jamaah yang kesulitan, ketika anak muda mulai kehilangan ruang berkegiatan, ketika lingkungan mulai rusak, atau ketika masyarakat terpecah karena perbedaan.

Di titik inilah imam mempunyai posisi penting. Imam tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan melalui khutbah. Ia memiliki kesempatan untuk membangun cara pandang jamaah terhadap persoalan sosial. Pesan tentang kepedulian, persaudaraan, keadilan, dan perdamaian dapat menjadi bagian dari kehidupan masjid, bukan sekadar tema ceramah yang selesai ketika jamaah meninggalkan ruangan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Solidaritas Kemanusiaan

IGIC 2026 menjadi menarik ketika ditempatkan dalam persoalan tersebut. Gagasan tentang religious diplomacy memperlihatkan bahwa nilai-nilai agama dapat mengambil bagian dalam persoalan yang lebih luas. Agama memiliki bahasa moral yang dapat digunakan untuk membangun dialog, merawat hubungan sosial, dan mendorong kepedulian terhadap manusia.

Persoalannya, solidaritas keagamaan jangan berhenti pada ucapan.

Kita sering menyaksikan solidaritas muncul ketika sebuah tragedi terjadi. Doa bersama digelar, pernyataan sikap disampaikan, dan berbagai pesan kemanusiaan beredar di media sosial. Semua itu penting. Akan tetapi, kepedulian akan memiliki arti yang lebih besar ketika ia berubah menjadi tindakan.

Isu Palestina menjadi salah satu contoh yang sangat jelas. Pada 25 September 2026, Mufti Agung Al-Quds sekaligus Imam Masjid Al-Aqsa, Syekh Muhammad Hussein, hadir dalam dialog di Masjid Istiqlal bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar dan tokoh lainnya. Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Palestina juga mendapatkan ruang dalam forum keagamaan internasional yang berlangsung di Jakarta.

Bagi masyarakat Indonesia, Palestina bukan isu yang jauh. Solidaritas terhadap Palestina telah lama hadir melalui berbagai gerakan sosial dan keagamaan. Masjid menjadi salah satu ruang tempat solidaritas itu tumbuh. Penggalangan dana, doa bersama, kajian, dan penyampaian informasi mengenai kondisi Palestina merupakan bentuk kepedulian yang sudah banyak dilakukan.

Pertanyaan yang lebih penting sekarang adalah bagaimana jaringan tersebut dapat dibuat lebih terarah.

Jaringan imam dan masjid mempunyai potensi untuk menghubungkan kepedulian jamaah dengan aksi kemanusiaan. Masjid dapat menjadi tempat memberikan edukasi yang lebih baik mengenai persoalan kemanusiaan, menggalang bantuan melalui lembaga yang kredibel, membangun kepedulian generasi muda, serta mempertemukan berbagai kelompok masyarakat yang memiliki perhatian terhadap isu kemanusiaan.

Solidaritas tidak harus selalu hadir dalam bentuk besar. Ia dapat dimulai dari hal yang sederhana dan terukur. Dana yang terkumpul secara transparan, kegiatan pendidikan, bantuan bagi korban bencana, pelayanan sosial, atau pendampingan kelompok rentan merupakan bentuk solidaritas yang lebih mudah dirasakan manfaatnya.

Tinggalkan Balasan