Di sinilah masjid dapat bergerak dari sekadar tempat menyampaikan pesan menjadi tempat mengorganisasi kepedulian.
Membumikan Agenda IGIC

Pembicaraan mengenai perdamaian dunia sering kali terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Perang terjadi di negara lain, konflik berlangsung di wilayah yang berbeda, dan diplomasi dilakukan oleh pemerintah atau lembaga internasional. Padahal, perdamaian juga berkaitan dengan cara masyarakat Indonesia menghadapi perbedaan di lingkungan sendiri.
Indonesia hidup dengan keragaman agama, tradisi, organisasi keagamaan, budaya, dan cara pandang. Perbedaan tersebut merupakan kenyataan sosial yang tidak mungkin dihilangkan. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk mengelolanya.
Masjid mempunyai ruang yang cukup besar untuk memainkan peran tersebut.
Imam dapat mengajarkan tabayyun sebelum mempercayai informasi, mengajak jamaah bermusyawarah ketika muncul persoalan, dan mendorong islah ketika terjadi ketegangan. Nilai-nilai tersebut sebenarnya sederhana, tetapi menjadi sangat penting ketika masyarakat berhadapan dengan derasnya informasi media sosial, perbedaan pilihan, dan mudahnya muncul prasangka.
Agenda IGIC 2026 yang membicarakan harmoni masjid menjadi relevan jika gagasan tersebut tidak berhenti di Istiqlal. Ia perlu dibawa kembali ke masjid-masjid di tingkat lokal. Perdamaian tidak akan terasa berarti jika hanya dibicarakan dalam forum internasional, sementara di tingkat masyarakat masih mudah terjadi pertengkaran karena perbedaan.
Persoalan lingkungan juga dapat menjadi bagian dari gerakan masjid. Air yang digunakan untuk berwudu, sampah setelah kegiatan keagamaan, penggunaan listrik, penghijauan lingkungan masjid, hingga pendidikan tentang menjaga alam merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan jamaah. Masjid dapat mengajarkan bahwa menjaga lingkungan juga bagian dari tanggung jawab keagamaan.
Gagasan ini sejalan dengan perhatian yang muncul dalam agenda IGIC mengenai hubungan antara masjid, kepedulian ekologis, dan perdamaian. Masjid tidak harus menunggu menjadi institusi besar untuk melakukan sesuatu. Satu masjid yang mengurangi sampah, menghemat air, membantu warga miskin, menyediakan ruang bagi anak muda, dan membangun dialog di tengah masyarakat sudah menunjukkan bahwa nilai agama sedang diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata.
Di sinilah relevansi IGIC 2026 bagi Indonesia menjadi lebih terasa. Konferensi tersebut tidak harus dipahami hanya sebagai pertemuan para imam besar dunia di Jakarta. Ia dapat dibaca sebagai momentum untuk bertanya kembali tentang fungsi masjid kita sendiri.
