Sebenarnya, Mas’odi mengaku senang mengajar di sekolah di lingkungan Pesantren Abul Abbas Jember yang dididirikan oleh almarhum Kiai Tabrani itu. Namun, setahun berada di Jember, Mas’odi mulai merasa gelisah karena kepikiran dengan sosok ibu yang hanya hidup berdua dengan adiknya (Wildan). Ia akhirnya pamit pulang ke Madura. Namun, sesampai di tempat kelahirannya, Mas’odi justru mulai terbayang-bayang dengan sosok ayah yang sudah 7 tahun menjadi TKI di Malaysia. Setelah bermusawarah dengan sang ibu, Mas’odi akhirnya menyusul ayahnya ke Malaysia.
Pada 2011, Mas’odi berangkat ke Malaysia. Dibawa serta ibu dan adiknya agar satu keluarga berkumpul bersama-sama. Di Malaysia itu, keluarga Mas’odi mulai membangun kembali keluarga yang sebelumnya terpisah-pisah.

Di Malaysia itulah Mas’odi mulai menghadapi tantangan hidup. Sebab, selama menjadi santri, Mas’odi belum terbiasa dengan pekerjaan asing dan berat. Namun karena tuntutan keadaan, Mas’odi memberanikan diri untuk bergabung dengan para TKI lain asal Indonesia. Ia tak peduli dengan komentar dan cemooh dari teman-temannya lantaran hasil pekerjaannya dianggap tak sesuai. Ia pun tersinggkir dari lingkungan kerja para TKI.
Mas’odi akhirnya mencari pekerjaan lain. Ia mendapatkan pekerjaan baru menjadi dengan tukang las. Namun tidak bertahan lama karena tidak sesuai dengan profil dirinya. Menurut pengakuannya melalui percakapan pribadi, jenis pekerjaan yang dijalani di Malaysia sekitar 11 macam, namun semuanya tidak mendapatkan respon baik dari lingkungan kerjanya.
