Akhirnya, pada 2018 Mas’odi hamper menyerah dan berkeinginan untuk pulang ke Indonesia. Namun, saat itulah Mas’odi dipertemukan dengan tenaga kerja asal Filipina. Oleh orang Filipina ini, Mas’odi ditawari menjadi tukang masak di Pondok Pesantren Tahfidz Darul Ulum Punggai. Ia menerima tawaran itu. Dan di sinilah rupaya Mas’odi mulai merasakan suasana baru yang membuatnya kerasan.
Dengan ketekunan dan kesungguhannya sebagai juru masak pondok, nama Ma’odi mulai dikenal dan memperoleh tempat khusus di mata kiai pondok. Setelah mengenal siapa Ma’odi sebenarnya, kiai pondok akhirnya memberikan kepercayaan kepada Ma’odi untuk mengajar fikih dan tajwid. Tentu, kegiatan itu dilakukan di sela-sela waktu senggangnya sebagai juru masak.

Akhirnya, Mas’odi tak hanya dikenal sebagai tukang masak, tapi juga seorang ustaz. Menjalankan tugas ustaz bagi santri merupakan hal yang diidam-idamkan, begitu pula yang dirasakan Mas’odi. Apalagi, selain bisa mengamalkan ilmunya, dengan menjadi ustaz, Mas’odi juga memperoleh tambahan penghasilan.
Kini, di negeri jiran itu, sosok Mas’odi dikenal sebagai kiai karena berkah ilmu yang ia dapatkan selama ada di pesantren. Seakan mewakili santri-santri di Indonesia, Mas’odi kini mewarnai kehidupan pesantren di Malaysia. Semoga bermanfaat.
