Maulid Ramai, Akhlak Nabi Makin Sepi

Keempat, memulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Sebelum menuntut perubahan besar, setiap individu perlu bertanya: apakah akhlak Nabi sudah terlihat dalam cara saya berbicara di media sosial, bersikap kepada teman, atau mengambil keputusan?

Meriah dan Bermakna

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maulid yang meriah tidak otomatis salah. Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika kemeriahan itu justru menutupi kesunyian akhlak Nabi dalam kehidupan nyata. Jika kita benar-benar mencintai Nabi, maka cinta itu harus terbukti dalam perilaku, bukan hanya dalam slogan dan seremoni.

Maka, di tengah gemuruh Maulid tahun ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri: sudah sejauh mana akhlak Nabi hidup dalam keseharian kita? Jika belum, maka inilah saatnya mengubah narasi: dari “Maulid ramai” menjadi “akhlak Nabi hidup”. Sebab, pada akhirnya, bukan seberapa meriah kita merayakan kelahiran Nabi, tetapi seberapa nyata kita menghidupkan teladannya.

Tinggalkan Balasan