Keempat, memulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Sebelum menuntut perubahan besar, setiap individu perlu bertanya: apakah akhlak Nabi sudah terlihat dalam cara saya berbicara di media sosial, bersikap kepada teman, atau mengambil keputusan?
Meriah dan Bermakna

Maulid yang meriah tidak otomatis salah. Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika kemeriahan itu justru menutupi kesunyian akhlak Nabi dalam kehidupan nyata. Jika kita benar-benar mencintai Nabi, maka cinta itu harus terbukti dalam perilaku, bukan hanya dalam slogan dan seremoni.
Maka, di tengah gemuruh Maulid tahun ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri: sudah sejauh mana akhlak Nabi hidup dalam keseharian kita? Jika belum, maka inilah saatnya mengubah narasi: dari “Maulid ramai” menjadi “akhlak Nabi hidup”. Sebab, pada akhirnya, bukan seberapa meriah kita merayakan kelahiran Nabi, tetapi seberapa nyata kita menghidupkan teladannya.
