Setiap kali Rabiul Awal tiba, suasana keagamaan di Indonesia serentak memanas. Masjid penuh, pengajian akbar digelar, selawat dikumandangkan, dan banner-banner Maulid bertebaran di mana-mana.
Namun, di tengah gegap gempita itu, ada pertanyaan yang layak kita ajukan pelan-pelan: apakah kemeriahan Maulid benar-benar berbanding lurus dengan menghidupnya akhlak Nabi dalam keseharian kita.

Antara Ritual dan Substansi
Peringatan Maulid Nabi sejatinya bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah momentum untuk menghidupkan kembali semangat meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan nyata. Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya: Maulid dirayakan dengan sangat ramai, tetapi teladan akhlak Nabi justru semakin “sunyi” dalam praktik keseharian.
Fenomena ini bukan sekadar kesan subjektif. Kita bisa membacanya dari beberapa gejala sosial yang nyata. Di media sosial, misalnya, konten selawat dan kutipan hadis tentang kasih sayang Nabi mudah sekali viral. Tetapi, di kolom komentar yang sama, kita masih menemukan ujaran kebencian, caci maki, dan bully-an yang tidak jarang menargetkan identitas suku, agama, atau golongan.
Data menunjukkan, sepanjang tahun 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menemukan 21.199 konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme di media sosial. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah cerminan dari bagaimana nilai-nilai dasar akhlak Nabi—seperti kasih sayang, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan—semakin terpinggirkan dalam interaksi digital kita.
Di lingkungan pendidikan, nama Nabi Muhammad SAW sering dijadikan tema pidato dan lomba. Namun, praktik nepotisme, intoleransi, dan ketidakadilan masih terjadi di sekitar kita, bahkan kadang di institusi yang mengusung nama keislaman.
Di ruang publik, simbol-simbol keislaman makin tampak: jilbab, peci, kaligrafi, dan atribut keagamaan lainnya. Tetapi, nilai-nilai inti akhlak Nabi seperti empati sosial, kejujuran, dan kesederhanaan justru makin langka dalam interaksi nyata.
Disonansi Maulid
Bagi santri, disonansi ini terasa makin tajam. Di satu sisi, pesantren adalah ruang di mana cinta kepada Nabi diajarkan secara intens: selawat, manakib, dan sirah nabawiyah menjadi bagian dari kurikulum harian. Di sisi lain, santri juga hidup di dunia yang sama dengan masyarakat luas: dunia yang diwarnai oleh budaya instan, popularitas media sosial, dan tekanan untuk tampil “saleh secara visual”.
Di sebuah pesantren di Jawa Timur, misalnya, setiap Maulid selalu ada lomba selawat dan pidato dengan hadiah jutaan rupiah. Tetapi, ketika ada diskusi tentang intoleransi atau hoaks di grup WhatsApp santri, hanya segelintir yang hadir.
Di kampus Islam di Jakarta, banner Maulid dipasang di setiap sudut, tetapi ketika ada mahasiswa yang menjadi korban bully karena berbeda pandangan, tidak banyak yang berani membela.
Akibatnya, tidak jarang Maulid hanya menjadi momen seremonial: khotbah bagus, acara meriah, tetapi habis itu, tidak ada transformasi akhlak yang signifikan.
Kita mungkin hafal sifat-sifat Nabi, tetapi belum tentu menjadikannya sebagai uswah hasanah dalam bersikap, berbicara, dan bertindak. Kita mungkin rajin mengikuti pengajian Maulid, tetapi masih mudah tersulut emosi ketika berbeda pendapat di grup WhatsApp. Kita mungkin lancar membaca selawat, tetapi masih enggan membantu teman yang kesulitan atau menutupi kesalahan sendiri demi menjaga citra.
Mengapa Sepi Akhlak Nabi
Ada beberapa faktor yang bisa menjelaskan mengapa akhlak Nabi semakin sepi di tengah kemeriahan Maulid. Pertama, Maulid direduksi menjadi ritual tahunan, bukan gerakan pembiasaan akhlak. Akibatnya, semangat meneladani Nabi hanya hidup di bulan Rabiul Awal, lalu mati di bulan-bulan lainnya. Maulid hanya menjadi pesta lahiriah, bukan ruang batiniah untuk mendekat kepada Allah melalui teladan Nabi.
Kedua, akhlak Nabi dipahami secara kognitif, bukan praksis. Kita tahu Nabi itu jujur, penyayang, dan adil, tetapi pengetahuan itu tidak diterjemahkan menjadi kebiasaan nyata dalam interaksi sehari-hari. Kita lebih hafal dalil tentang akhlak daripada cerita tentang bagaimana kita mempraktikkannya di rumah, kampus, atau media sosial.
Ketiga, budaya popularitas menggeser keteladanan. Di era media sosial, yang sering dirayakan adalah “tampil saleh”, bukan “menjadi saleh”. Akibatnya, akhlak Nabi kalah bersaing dengan narasi popularitas dan pencitraan. Konten keagamaan yang viral sering kali lebih mementingkan estetika visual daripada kedalaman makna.
Keempat, Lemahnya keteladanan di level elite. Ketika figur publik, termasuk sebagian tokoh agama, justru menunjukkan perilaku yang bertolak belakang dengan akhlak Nabi, maka pesan Maulid kehilangan daya transformasinya. Umat bingung: mana yang harus diteladani, kata-kata di mimbar atau perilaku di kehidupan nyata?
Fakta bahwa 72 persen pengguna media sosial tidak memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya juga menunjukkan bahwa literasi digital kita masih lemah. Ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi masalah akhlak: kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap dampak sosial dari setiap kata yang kita tulis.
KH Hasyim Asy’ari, dalam kitab At-Tanbihat al-Wajibat, pernah mengingatkan bahaya perayaan Maulid yang disertai kemungkaran: percampuran lawan jenis yang tidak syar’i, perjudian, hiburan berlebihan, hingga perilaku buruk di masjid. Pesan beliau relevan hingga hari ini: Maulid yang tidak diiringi kesadaran justru mudah terjebak dalam rutinitas tanpa makna.
Mengembalikan Substansi Maulid
Jika Maulid ingin kembali bermakna, maka ada beberapa langkah yang bisa diambil, khususnya oleh kalangan santri dan pegiat literasi keislaman. Pertama, menggeser fokus dari kemeriahan acara ke pembiasaan akhlak. Maulid sebaiknya tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau meriahnya acara, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai Nabi hidup dalam keseharian: kejujuran dalam transaksi, empati dalam relasi, kesabaran dalam menghadapi perbedaan.
Kedua, menjadikan akhlak Nabi sebagai kurikulum hidup, bukan sekadar materi ceramah. Di pesantren, kampus, dan komunitas, akhlak Nabi perlu dioperasionalkan dalam kode etik, budaya organisasi, dan penilaian karakter. Bukan hanya dihafal, tetapi dibiasakan.
Ketiga, memperkuat literasi sirah yang kritis dan kontekstual. Sirah Nabi tidak hanya diceritakan sebagai kisah masa lalu, tetapi dibaca sebagai sumber inspirasi untuk menjawab tantangan kekinian: hoaks, intoleransi, korupsi, dan krisis kepemimpinan.
Keempat, memulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Sebelum menuntut perubahan besar, setiap individu perlu bertanya: apakah akhlak Nabi sudah terlihat dalam cara saya berbicara di media sosial, bersikap kepada teman, atau mengambil keputusan?
Meriah dan Bermakna
Maulid yang meriah tidak otomatis salah. Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika kemeriahan itu justru menutupi kesunyian akhlak Nabi dalam kehidupan nyata. Jika kita benar-benar mencintai Nabi, maka cinta itu harus terbukti dalam perilaku, bukan hanya dalam slogan dan seremoni.
Maka, di tengah gemuruh Maulid tahun ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri: sudah sejauh mana akhlak Nabi hidup dalam keseharian kita? Jika belum, maka inilah saatnya mengubah narasi: dari “Maulid ramai” menjadi “akhlak Nabi hidup”. Sebab, pada akhirnya, bukan seberapa meriah kita merayakan kelahiran Nabi, tetapi seberapa nyata kita menghidupkan teladannya.
