Keempat, Lemahnya keteladanan di level elite. Ketika figur publik, termasuk sebagian tokoh agama, justru menunjukkan perilaku yang bertolak belakang dengan akhlak Nabi, maka pesan Maulid kehilangan daya transformasinya. Umat bingung: mana yang harus diteladani, kata-kata di mimbar atau perilaku di kehidupan nyata?
Fakta bahwa 72 persen pengguna media sosial tidak memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya juga menunjukkan bahwa literasi digital kita masih lemah. Ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi masalah akhlak: kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap dampak sosial dari setiap kata yang kita tulis.

KH Hasyim Asy’ari, dalam kitab At-Tanbihat al-Wajibat, pernah mengingatkan bahaya perayaan Maulid yang disertai kemungkaran: percampuran lawan jenis yang tidak syar’i, perjudian, hiburan berlebihan, hingga perilaku buruk di masjid. Pesan beliau relevan hingga hari ini: Maulid yang tidak diiringi kesadaran justru mudah terjebak dalam rutinitas tanpa makna.
Mengembalikan Substansi Maulid
Jika Maulid ingin kembali bermakna, maka ada beberapa langkah yang bisa diambil, khususnya oleh kalangan santri dan pegiat literasi keislaman. Pertama, menggeser fokus dari kemeriahan acara ke pembiasaan akhlak. Maulid sebaiknya tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau meriahnya acara, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai Nabi hidup dalam keseharian: kejujuran dalam transaksi, empati dalam relasi, kesabaran dalam menghadapi perbedaan.
Kedua, menjadikan akhlak Nabi sebagai kurikulum hidup, bukan sekadar materi ceramah. Di pesantren, kampus, dan komunitas, akhlak Nabi perlu dioperasionalkan dalam kode etik, budaya organisasi, dan penilaian karakter. Bukan hanya dihafal, tetapi dibiasakan.
Ketiga, memperkuat literasi sirah yang kritis dan kontekstual. Sirah Nabi tidak hanya diceritakan sebagai kisah masa lalu, tetapi dibaca sebagai sumber inspirasi untuk menjawab tantangan kekinian: hoaks, intoleransi, korupsi, dan krisis kepemimpinan.
