SUNGAI MUNTAHA
Pada batas langit, munajatku merangkak
Kunaiki sampan menuju rumahmu
Sembari menembangkan selawat.
Sungai-sungai mengalir dari biru mataku
Menuju muara penghabisan.

Jemariku terus mendayung
Mencari arah tujuan, nyaris hilang.
Hujan turun deras dari awan wajahku
Yang abu, dosa-dosa menggumpal
Disambar petir waktu
Bibirku hanya menggigil
Berkecipak memukuli zikir
Dari dinding-dinding udara
Kulabuhkan perahu kecilku
Pada dermaga bait-bait burdah
Sementara ikan-ikan kegirangan
Dalam lautan hati
Berduyun menuju muara muntaha.
“Mawlaya sholli wasallim daiman abada,
ala habibibika khoiril kholqi kullihimi.”
//Ruang Tamu, 18 Juni 2026.
SIMPANG LIMA
Di simpang lima jarimu
Lima ketukan ketuk kalbu
Dengan senandung agung
Pada lesung tubuh yang murung
