Video yang beredar ini bukanlah kali pertama kita menemukan potret nyata ketimpangan kebijakan negara. Sejak Februari 2025, diketahui bahwa anggaran pendidikan dasar dan menengah dipangkas hingga mencapai angka Rp8 triliunan demi menutupi anggaran MBG yang kian hari kian bertambah. Padahal, berbagai persoalan pendidikan seperti sertifikasi guru, kesejahteraan pendidikan, serta ketersediaan sekolah yang belum merata masih belum terselesaikan malah justru dikurangi bukan ditambah.
Minimnya kesejahteraan guru honorer dan pemangkasan anggaran pendidikan yang telah lebih dulu dilakuakan ini bukanlah persoalan angka semata, namun, akan berdampak langsung kepada kehidupan para guru tadi. Dengan penghasilan yang jauh dari kata layak, banyak guru honorer yang terpaksa mencari pekerjaan sampingan demi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tentu, kondisi ini membuat fokus, tenaga, dan waktu yang seharusnya dicurahkan sepenuhnya terhadap mendidik anak bangsa menjadi terbagi. Dalam jangka pendek, kelelahan fisik dan tekanan mental berlebihan menjadi beban yang harus mereka tanggung secara diam-diam.

Dampak yang lebih besar akan dirasakan oleh dunia pendidikan itu sendiri. Ketika guru tidak sejahtera, kualitas pembelajaran pun akan turut menanggung risikonya. Mulai dari menurunnya kualitas pengajaran, kurangnya perhatian, dan bimbingan yang tidak maksimal, hingga akhirnya cita-cita mencerdaskan anak bangsa hanya akan menjadi slogan tanpa ada tindakan nyata. Dan generasi yang diharapkan akan menjadi penerus dan pengelola bangsa akan tumbuh dari sistem pendidikan yang rapuh.
